Papandayan

Akhirnya gunung yang satu ini kesampaian juga setelah beberapa kali dapat kesempatan tapi gagal. Walaupun gagal sampai puncak tapi banyak cerita penuh warna menemani petualangan kali ini.

Setelah berkumpul di kantor Jumat malam supaya bisa pinjam mobil kantor, kami berangkat dengan dua mobil dan bertujuh (plus istri teman yang menumpang ikut sampai Bandung). Perjalanan ke camp david Garut sungguh melelahkan karena tol cikampek sedang buka tutup untuk pembangunan tol layang. Alhasil kami baru tiba di Garut jam 5 shubuh keesokan harinya. Kami tiba di Camp David sekitar pukul 9-10.

Setibanya di Camp David, kami melakukan registrasi dan repackaging perlengkapan kami. Untuk kalian ketahui sekarang Papandayan begitu komersil (konon dibandingkan sebelumnya menurut teman saya). Per orang jika camping diharuskan membayar Rp. 65.000. Sementara itu jika membawa mobil dan menginap per mobil membayar Rp 60.000. Sejak tahun 2014 memang tempat ini sekarang dikelola swasta, yakni PT yang juga mengelola kawasan kawah tangkuban Perahu. Perbedaan mencolok yang terlihat adalah banyaknya rute wisata (yang diaspal/diberi stone block), bertambahnya toilet di beberapa spot, dan berdirinya beberapa warung statis di spot camping seperti pondok saladah dan Guberhood.

Ready to go (di camp david)

Setelah repackaging selesai kami memulai pendakian. Kami memang berencana mendaki dengan ekstra santai. Kami hampir setiap saat berhenti buat foto-foto sedemikian rupa perjalanan dari camp david ke pondok saladah yang seharusnya bisa 2-3 jam kami tempuh sekitar 4-5 jam. Teman saya bilang kontur rute melalui guberhood banyak berubah, setelah cari tahu memang terjadi longsor di rute itu sehingga kami sedikit memutar jika memilih rute via guberhood. Itu salah satu alasan lain kenapa kami lebih lama mencapai Pondok Saladah.

Rute diantara daerah longsor dan Guberhood

Berangkat sekitar setengah 12 kami tiba di pondok saladah sekitar pukul 4. Kami melakukan setup tenda sekitar satu jam, kemudian melanjutkan eksplorasi ke hutan mati untuk menikmati sunset di sana. Awalnya kami mau melihat sunset dari tegal Alun tapi entah mengapa tak terlihat seorangpun yang naik ataupun turun ke sana di sore itu. Sebuah pertanda.

Sunset di hutan mati cukup indah. Kami berfoto-foto sampai sebelum gelap dan kami memutuskan untuk tidak mencoba menaklukkan tegal alun di malam hari. Kami kembali ke pondok Salada dan memutuskan untuk sholat magrib terlebih dahulu. Kami sudah membayangkan makan nugget dan indomie yang sudah kami beli di Garut. Perut kami begitu lapar. Langit gelap dan masing-masing dari kami menyalakan senter. Tenda kami posisinya agak tinggi di atas melewati beberapa kelompok pohon randu (?). Akhirnya kami tiba di tenda. TAPI!!!

Babi hutan

Senter saya menyoroti sebuah hewan dengan taring di bibirnya sedang mengendus tenda kami. Saya sempat terkejut dan menjauhi senter dari tatapan si binatang liar. Lalu kembali mengecek ulang dan memperingati teman-teman saya. Pada saat itu yang saya pikirkan hanya satu, keselamatan kelompok. Apakah babi hutan menyerang manusia? Apakah kami harus lari? Tapi tidak lama setelah teman-teman saya ikut menyoroti babi hutan dengan senter, babi itu kabur ketakutan. Kejadian itu begitu singkat, dan sepertinya baru saja terjadi.

Tenda dan tas satu teman saya robek

Satu dari dua tenda kami robek. Begitu pula satu tas teman saya. Penciuman si babi hutan ini ternyata sangat tajam. Dia bisa membaui bahan makanan mentah seperti indomie bungkus dan nugget yang notabene telindungi (1) tenda; (2) tas gunung; (3) bungkus plastik indomi/nugget. Jika kami terlambat sedikit barangkali kedua tenda kami akan diobrak-abrik oleh si babi ini.

Alhamdulillah ada beberapa bahan makanan seperti beberapa bungkus Indomie, minuman sachet, dan sarden ada tersebar di tas lain. Firasat teman saya, merasa perlu membeli lebih banyak kaleng sarden, hmmm…

Kami memutuskan makan dengan ala kadarnya. Alhamdulillah pas sekali. Mungkin ada hikmah dari kejadian itu, tidak berlebih. Untuk kalian ketahui saat makan babi hutan itu datang lagi, kali ini menghampiri trash bag yang sudah kita gantung di pohon namun tidak cukup tinggi. Huft. Akhirnya babi hutan itu dikejar-kejar oleh salah seorang warga pemilik warung statis di Pondok Salada. Hmm.. sebelum saya naik saya tidak percaya pada papan yang mengatakan “hati hati, anjing liar, babi hutan, dan macan kumbang”. Memang sebelum kejadian kalian tidak akan percaya. Untuk macan Kumbang katanya berkeliaran di cagar alam di dekat Guberhood.

Malam itu suhu tiba-tiba menurun drastis. Jam 11 malam kami semua berteduh ke salah satu warung yang membuat api unggun. Dinginnya sampai ke tulang. Langit bertabur bintang dan milkyway membentangi atap dari Pondok Salada. Sayang tidak ada dari kami yang punyabkamera canggih untuk mengabadikan momen itu. Setelah ngobrol-ngobrol keakraban sampai jam 1 karena sudah tidak merasa dingin kami kembali ke tenda. Tapi dingin itu kembali tiba. Kata penjaga warung dingin yang kami rasakan disebabkan oleh musim kemarau yang panjang. Sudah hampir 2-3 bulan tidak hujan. Plus sleeping bag saya jelek. Teman saya bangun jam 4 sebelum shubuh dan saya dipinjamkan sleeping bag melihat saya tidak bisa tidur tenang. Ah hangatnya!!

Sunrise di hutan mati

Setelah shubuh kami mengejar sunrise view di hutan mati. Keren sekali. Subhanallah. Asyik berfoto-foto, wefie, membuat hyperlapse, dan timelapse, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Tegal alun sekitar pukul 7. Kami tiba di Tegal Alun sekitar pukul setengah 9. Salah satu teman kami perlu beristirahat lebih sehingga harus pelan-pelan.

Di Tegal Alun sempat terlihat embun yang membeku di beberapa tanaman. Momen yang mirip dengan kejadian di Bromo saat ini.

Oya perjalanan kami banyak bergantung pada pengalaman dua teman saya yang sudah kesini. Satu orang cuma sampai hutan mati sebelumnya, satu lagi cuma sampai puncak bayangan. Sejak sampai ke Tegal Alun keanehan pun terjadi. Setelah berfoto-foto kami mengikuti panduan teman saya yang berpengalaman untuk menunjukkan jalan.

Ketemu rombongan SMA M….. lupa

Menyusuri bukit yang menantang akhirnya kami hampir melihat ujung bukit. Tiba-tiba kami dipanggil seseorang untuk turun. Katanya kami salah naik puncak. “Puncaknya bukan itu, disana tidak ada apa-apa”. Kami mau memberontak dan foto-foto sebentar tapi kami ditegur dan dijemput. Kami menurut dan turun ke Tegal Alun dengan penuh penyesalan. Selain itu ternyata yang menyuruh turun adalah guide bukan petugas jadi kami merasa dibohongi. Kami luntang lantung penuh drama mengelilingi Tegal Alun. Sempat terjadi drama juga di internal kami sehingga satu teman saya harus turun terlebih dahulu untuk pulang. Guide yang tadinya menjanjikan kami untuk mengantar ke puncak sebenarnya sudah pulang ke Pondok Salada saat kami penuh drama berdebat apakah mau melanjutkan ke puncak kembali atau turun. Perdebatan yang sia-sia karena sang guide telah menghilang dalam rindangnya hutan (gak mistis, cuma udah turun aja). Kami bertemu banyak rombongan dan curhat tentang masalah kami. Menanyakan informasi tentang puncak dan pengalaman mereka selama di sini. Alhasil kami menemukan banyak informasi ganjil.

  1. Menurut versi teman saya yang naik di tahun 2013, sebelum kebakaran, kami memang salah naik satu bukit, tapi puncak bayangan dan puncak sebenarnya ada di bukit gundul yang konon sekarang dilarang naik (dianggap sebagai Cagar Alam). Dan jika kalian melihat dari tegal Alun, bukit gundul (terlihat seperti habis kebakaran) ini memang terlihatvyang paling tinggi.
  2. Menurut versi Guide yang menyuruh kami turun, puncak yang dimaksud adalah bukit puncak di sisi timur yang masih hijau. Kalau dari Tegal Alun terlihat di sisi kiri.
  3. Menurut beberapa rombongan besar puncak yang dimaksud adalah salah satu rute curam (katanya bahkan sampai ada step yang hampir 90 derajat) dimana setelah melalui puncak tersebut akan melalui danau kering.

Teka-teki belum terpecahkan. Kabarnya kalau mau ke puncak dianjurkan (atau diharuskan?) pakai guide. Sebagai info tegal alun dan kawasan puncak tidak termasuk jurisdikasi pengelola swasta sedemikian rupa mereka tidak bertanggung jawab jika ada apa-apa. Mungkin itulah sebabnya ke Puncak dianjurkan pakai Guide.

Mommy kece with 2 kids (kebetulan ada pelangi)

Kami bertemu mommy kece yang ke Tegal Alun bersama kedua anak nya yang berusia 8 dan 11 tahun. Keren. Misi ibu muda itu mau menunjukkan kedua anaknya sebuah kawah keren yang pernah ia lihat di tahun 2014. Sayangnya menurutnya Papandayan sudah berubah. Banyak rute yang berubah, ditutup, sementara rute lebih mirip wisata dan banyak dilarang untuk eksplorasi.

Pulang (turun ke camp david)

Kami lelah mencari puncak. Akhirnya kami foto-foto dan pulang. Saya akui kami kurang informasi. Tapi mungkin sudah takdir. Saat di Pondok Salada kami tidak dapat menemukan petugas untuk menanyakan rute ke puncak (atau tahu anjuran untuk menggunakan guide). Kami turun ke Pondok Salada. Repack tenda. Pulang ke Jakarta melalui macetnya Karawang dan Bekasi.

It’s been fun 😊

3 tanggapan untuk “Papandayan

  1. Aku 3 kali ke Papandayan belum pernah ke puncaknya. 😂

    Btw soal yg peringatan ada macan kumbang itu kabarnya memang sempat tertangkap cctv sih di kawasan Tegal Alun malam-malam. Makanya tidak disarankan camping di Tegal Alun (atau bahkan dilarang?).

    1. Oya ente 3x juga belum ke puncak? Puncaknya yang mana sih to. Hadeeh. Kemarin kita 2 jam cari info di tegal alun ga nemu2 rute ke puncak. Simpang siur

    2. Katanya sih puncaknya agak susah dicapai karena jalurnya masih hutan rimbun banget. Dulu Yasir apa ya yg bilang. Dan sepertinya memang nggak disarankan ke sana. Entah kenapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s