[Latepost] Work | shop | Typhoon | & | Taiwan

on

Well, bulan lalu saya berkesempatan untuk mendatangi salah satu negeri baru di timur Asia. That’s it Taiwan. Taiwan bukan negara yang kepikiran untuk dikunjungi. Masih ada negara lain di Asia yang belum kesampaian saat itu, let say.. Jepang or China.

Ini Kerja. Sambil Shop and sight seeing tentunya hehe.. Dari 9 hari kerja disana, 4 hari beneran kerja kok.

Ok, let’s start the prep

Keberangkatan ke Taiwan kali ini fully diserahkan sama travel agency, termasuk visanya. Visa Taiwan itu ada fotonya, dan sedikit saklek untuk urusan foto.

Sedikit cerita menarik tentang negara ini. Negara Taiwan merupakan negara yang membangkang sama negeri Cina. Kalau kalian cek di wikipedia, Taiwan itu adalah Republik Cina (meanwhile, Tiongkok yang sering kita dengar itu Republik Rakyat Cina). Berlatar belakang itulah terkait visa, apabila orang Taiwan datang ke Cina daratan mereka tak perlu Visa, karena Orang Cina anggap Taiwan negara bagian mereka. Sebaliknya, orang Cina jika mampir ke Taiwan harus membayar Visa.

Day 01, Sabtu

Kami berangkat dari Soekarno Hatta jam 2 siang, tiba di Taiwan sekitar jam 8 Malam. Zona waktu Taiwan setara dengan WITA (Waktu Indonesia Bagian Tengah). So it meant that it should be around 9 PM waktu Jakarta. Pesawat China Airlines tidak terlalu buruk. Kami jauh-jauh hari sudah pesan ke travelnya agar kami disediakan makanan halal, karena kebanyakan dari rombongan kami muslim. (Well, another note lainnya, daftar library film yang ditawarkan maskapai tersebut cukup uptodate dan menarik untuk ditonton, alhasil nggak tidur sepanjang perjalanan menghabiskan 2 film.)

Taiwan itu pabriknya semi konduktor, begitu sampai di bandara, replika semikonduktor futuristik menyambut kedatangan kami dengan Welcome Message nya. Ni Hao Taiwan!

Kekonyolan pertama terjadi malam itu. Saya yang tidak sadar bahwa Taiwan adalah negara yang jalur kemudinya berkebalikan dengan Indonesia, langsung saja memilih tempat duduk di kiri depan supaya bisa melihat night view of Taiwan. Sementara sang supir sudah menunggu saya di sana, ha ha.. “Do you want to drive, sir?”

Setelah 2 jam perjalanan oleh mobil travel itu, kami diantar ke hotel yang cukup nyaman, yang akan kami tinggali mungkin selama 6-7 hari di Taiwan. Nama hotel tersebut adalah Regal Hotel. Di tengah kota New Taipei, dekat dengan stasiun KRL, dan tidak begitu jauh dari kantor Catchplay — tempat dimana kami bekerja. Nama daerah hotel kami yakni bernama Zhongshan. Salah satu SMA di kota itu.

And then again malam itu, saya kembali tidak sadar. Bahwa kebiasaan menyebrang saya juga harus diubah. Yang biasanya harus tengok kanan baru kiri, kini berubah menjadi tengok kiri baru kanan. Orang Taiwan ternyata tidak terlalu disiplin dibandingkan Korea maupun Singapura. Lampu merah kadang diterabas. Ngebut. Ugal-ugalan. Penyebrang jalan menyebrang sebelum lampu jadi hijau, dan lain-lain.

Day 02, Minggu

Sesuai itinerary, hari Minggu ini kami berencana naik kereta gantung di daerah timur New Taipei. Nama daerah itu adalah Maokong. Tempat suaka alam dan kebun binatang di Taipei. Cukup besar.

Satu hal yang perlu diketahui tentang Taiwan adalah Negara ini bukan negara seperti Hongkong ataupun Singapura. Taiwan bukan negara yang secara geografis negara metropolitan yang memiliki banyak gedung pencakar langit. Secara alam, Taipei sendiri dikelilingi banyak bukit. Kalau kalian cek di google Map, posisi pulau Taiwan juga gak begitu bagus sebagai suatu negara. Pegunungan dan bukit terhampar dari utara hingga selatan.

Well, kondisi alam tersebut cukup membuat Taiwan menjadi negara yang refreshing untuk dilihat. Apalagi kondisi saat kami tiba adalah pasca summer menjelang musim gugur. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

KRL yang saya bilang sebelumnya mungkin lebih mirip ke LRT (light rapid transit). Hampir semua line LRT berada di atas tanah. Hanya beberapa jalur besar saja yang berada di subway. Kalau di Korea mungkin ada beberapa lapis subway. Kalau di sini hanya ada di atas tanah atau di bawah tanah.

Kami tiba di Maokong sekitar pukul 10.00, disana kami menaiki Gondola yang dari sana bisa melihat hutan yang masih cukup asli di sana. A little bit of view of East New Taipei. Ada beberapa stop point di Maokong Gondola tsb : 1. North entrance Maokong Zoo, 2. Some temple in the valley, 3. Tea House and Green Village.

Kami tiba di ujung stop point dari Gondola. Kalau lihat di peta di sini banyak tempat makan, tempat jalan pagi, dan tempat trekking. Ada juga beberapa temple di sini. Tempat ini sepertinya lebih banyak dikunjungi anak-anak dan orang tua ketimbang anak muda. Di sepanjang jalan berkontur naik turun dan berkelok ini tampak banyak nenek kakek serta anak-anak berjalan menyusuri jalanan perbukitan ini. Kalau kalian sudah pernah ke Bandung, daerah ini mirip Ciumbuleuit dan sekitar Punclut. Haha.

Well, sampai di tempat trekkingnya, kami hanya bisa menganga, karena view yang disajikan nggak jauh lebih keren dari Indonesia. We have Lembang, Punclut, Tebing Keraton, yes, you know more..

Ya, mungkin saja untuk ukuran warga perkotaan, tempat di sisi timur New Taipei ini merupakan daerah yang cukup refreshing karena pemandangan di sekelilingnya penuh dengan warna hijau, dan asyik untuk berolahraga. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Taipei dikelilingi oleh perbukitan.

Setelah berkeliling sebentar dan merasa tidak tertarik dengan tempat itu, kami memutuskan untuk hendak ke Taipei 101. Gedung tertinggi di Taiwan yang menjadi Icon kota Taipei sekaligus Taiwan.

Awalnya kami hendak mampir ke stop point 2, sebuah kuil mirip istana dan ada air terjunnya. Namun melihat stop point sebelumnya, kami jadi urung karena ingin mencari tempat lain saja. Kami tadi juga agak terlalu lama di spot sebelumnya.

29319760504_06544dbb30_z

Kembali ke Maokong Zoo Entrance. Kami kembali berjalan ke stasiun LRT, namun di tengah perjalanan kami berencana melakukan detour.

Detour pertama, kami ingin mampir ke satu-satunya masjid besar di Taiwan. So next destination adalah stasiun LRT Daan. Turun di stasiun tersebut kami menemukan sebuah taman di tengah kota yang ramai dikunjungi warganya. Daan Park. Senangnya punya taman di tengah kota yang ramai dikunjungi orang banyak. Kalau di Indonesia mungkin udah banyak gerobak dan pedagang kaki lima.

Setelah menelusuri Taman Daan, tibalah kami di Taipei Grand Mosque. Masjidnya gak terlalu besar, cuma terawat rapi. Kami nggak langsung sholat (Jama’) di sana, tapi ke tempat makan di dekat Masjid. Di sebelah masjid ada Restoran Royal Indonesian Food. Ada dua tempat makan. Yang satu versi warteg, yang satu versi cafe. Sama-sama makanan Indonesia. Ahhh.. akhirnya…

Usai makan puas, barulah kita masuk ke Taipei Grand Mosque. Kami banyak bertemu orang Indonesia/Malaysia dan timur tengah. Kalau orang Indonesia kebanyakan antara TKI atau pelajar di NTU Taiwan. Masjidnya cukup syahdu dan bersih. Pengurus Masjidnya juga cukup ramah.

20160925_144744

Toilet di Taiwan tergolong berkiblat barat, sedemikian rupa begitu risih jika ingin buang air besar. Nah di masjid itu toiletnya syar’i, toilet jongkok. Lucunya buat flushing, tombolnya ada di langit-langit tergantung.

Well, kunjungan rohaninya udah, lanjut lagi ke Chiang Kaisek Memorial. Salah satu tempat iconic di Taiwan. Ini masih jam 3 sore lho, lumayan banyak hari itu dapat tempat wisata.

Siapa sih, Chiang Kaisek itu? Jadi begini ceritanya, fakta ini sebetulnya baru didapat dari guide kami 5 hari setelah mengunjungi tempat ini.

Jadi pada awal tahun 1990-an, ada dua kubu di Cina : Kubu sosialis/communism dan kubu ke arah demokratis. Kubu demokrat ini dipengaruhi oleh tokoh kenamaan Sun Yat Sen. Karena ditekan terus oleh pihak sosialis, kubu Sun Yat Sen terpinggir ke daerah Cina pesisir timur, di daerah Nanjing (sebelah barat Shanghai). Semakin terdesak kubu demokrat oleh pengaruh Sun Yat Sen akhirnya mereka melipir ke pulau di tenggara daratan Cina, yakni Taiwan.

Chiang Kaisek inilah orang pertama yang memimpin kepemerintahan Cina Republik di pulau Taiwan. Kalau orang kenal Taipei sebagai ibu kota Taiwan nah sebetulnya info penduduk lokal sini, ibu kota Taiwan sesungguhnya ada di daratan Cina.. haha aneh ya, daerah Nanjing kalo ga salah.

Balik lagi ke tempat iconic tadi, jadi di Chiang Kaisek Memorial, ada tiga bangunan besar dan satu gerbang di setiap sisi lapangan. Dua bangunan dijadikan museum yang berisi sejarah taiwan. Sementara bangunan yang berlawanan dengan gerbang terdapat patung Chiang Kaisek raksasa. Saya cukup beruntung datang sore itu, karena setiap pukul 5 sore, ada upacara pergantian penjaga. Upacaranya cukup unik, beberapa penjaga memorial melakukan upacara pergantian penjaga dengan gerakan-gerakan yang khas dengan senjata yang mereka kenakan.

20160925_160432

Hari itu belum terakhir, masih 17.00 waktu Taipei. Kami lanjut ke gedung iconic milik Taiwan, yakni Taipei 101. Kalau mau dianalogikan seperti menara twin towernya petronas yang iconic sekali dengan Malaysia. Kalau kalian ke tempat souvenir, pasti Taipei 101 menjadi salah satu icon “negara” itu. Kalau di Singapura patung Merlion or di Indonesia Monas kali ya, haha..

Day is not over.. The last destination of the day kami belanja ke daerah bernama Shilin Market. Disana kita belanja habis-habisan. Baju-baju, tas, kerajinan tangan, makanan dan lain-lain. Di negara ini (atau mungkin di taipei saja?) tempat hiburan mereka adalah belanja. So selain mall di pusat kota, disini banyak sekali night market. Shilin Market salah satunya. Teman serombongan saya malah beli 55 baju malam itu buat oleh-oleh ke rekan satu kantornya. Wkwkwk luar biasa. Saya sendiri beli beberapa tas oleh-oleh dan kaos Taiwan.

29320749483_ebe400488e_k

Day 03, Senin

29956048515_95e20d83ea_k

Hari itu kita kerja, beberapa bagian kerjaan sebetulnya sudah didefinisikan dan dibahas di Jakarta, di kantor rekan bisnis kami di daerah New Taipei utara itu kami hanya mengintegrasikan hasil kerjaan kami. Cukup sibuk hari itu apalagi ada beberapa ketidaksepakatan. Siang disela-sela kerja tapi kami tidak lupa dijamu lunch di tempat yang katanya sih makanannya sudah diorder supaya halal. Wallahualam.

29328935944_e74260a19e_k 29328934444_9dd4b854e0_k 29328932964_9d0ecfb9b2_k

Malam hari kami kembali dijamu oleh rekan bisnis kami untuk launching kerja sama mereka dengan salah satu konten yang mereka miliki, Premier Deep Water Horizon. Kami nonton di Mal Miramar IMAX. Tempatnya keren, di mal tersebut ada bianglala raksasa yang cukup iconic kalau dilihat dari jauh. IMAX berada di sebelah IMAX tersebut. Lol males juga nonton listen bahasa inggris saja (subtitlenya bahasa Taiwan wkwkwk). Tapi film itu keren sih. Karena IMAX dan kebagian duduk di depan pusing juga harus mendongak.

Sepulang dari IMAX pukul 22.00 kami (plus bos) cari tempat nongkrong untuk diskusi kerjaan. Karena muter-muter gak jelas gak nemu makanan halal. Bismillah, kami karena udah lapar makan di McD saja.

Day 04, Selasa

photo_2017-01-30_21-02-18

Sudah santer dari lama bahwa minggu ini akan ada badai Typhoon terbesar di Taiwan dalam 25 tahun terakhir. Well, infonya kalau lingkaran Typhoonnya besar sebetulnya justru tidak terlalu berbahaya (di pusat lingkarannya) melainkan di sisi lingkarannya lah yg berbahaya. Hari itu kami hanya setengah hari kerja. Pukul 12.00 angin sudah mengamuk. Satu hal yang bikin saya merinding adalah celetukan plafonnya goyang-goyang. Tidak sepenuhnya benar karena yang bergoyang adalah gedungnya.. uwwaaaaaaa..

Lalu kami diberitahu katanya memang gedungnya di desain lentur untuk menahan gempa dan typhoon. Saya lalu melihat gedung lain dari gedung kami di lantai 9, dan memang benar gedung-gedung itu melambai-lambai. Hihi beberapa teman saya bahkan merasakan mual-mual karena goyangan di gedung itu. Tidak terlalu terasa sih.

Kami pulang menuju hotel jam 13.00 lalu segera ke minimart sekitar hotel untuk menyiapkan perlengkapan perang. Malam adalah puncak typhoonnya. Karena lapar malemnya sempat nekat ke minimarket. Di satu sisi jalan, saya pernah harus melawan angin yang bisa menerbangkan bonsai-bonsai raksasa. Ngeri juga. Pertama kali mengalami typhoon. Well, teman-teman saya malah kegirangan bikin video instagram. Bzzz….

Day 05, Rabu

Hari rabu. Aneh, menurut saya typhoonnya sudah tidak kencang lagi anginnya, tapi malah ditentukan sebagai hari libur nasional oleh Taiwan. Mungkin bumper akibat typhoon yang sudah bergerak ke arah daratan Cina.

Well hari libur tapi kami serombongan dan Tim dari rekan bisnis kami di sini commit untuk melaksanakan UAT. Akhirnya kami menyelesaikan UAT kami sekitar pukul 17.00 sore.

Haha, karena ini di kota akhirnya kita jalan-jalan saja ke night market lain, yakni Wufenpu Clothing Market. Di sini tempatnya seperti Factory Outlet di Bandung. Jumlahnya bisa ratusan. Mirip Pasar Baru tapi lebih rapi dan modern. Juga lebih bersih dibandingkan shilin.

Karena saya dan Jafar tidak betah di toko-toko fashion itu saya pindah ke night market di sebelahnya yang lebih tradisional, namanya Raohe Street Night Market. Di sana lebih ramai dan banyak yang menjual makanan/jajanan jalanan.

Tiba-tiba.. bleeeeeehhh.. saya dan Jafar mencium bau kaya BAB di sepanjang jalan Raohe, dan saya perhatikan datang dari salah satu penjual jajanan jalanan itu. Dan anehnya yang mengantre membeli makanan itu cukup banyak. Hiiii… Selidik punya selidik rupanya jajanan itu bernama Stinky Tofu / Tahu Busuk. Mereka dengan bangga mengatakan itu the worst snack in the world. Well…  No comment.

29954956856_8e9b4657e0_z

PS. malam hari akhirnya kami nyobain naik bis dalam kota. Clean dan gampang rupanya. Sebelumnya kami pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan taksi atau LRT.

Day 06, Kamis

Finalisasi Kerja, yey. Final! Kami melakukan UAT lanjutan. Oke sekian.

Nah saya dan beberapa bagian rombongan kami udah sepakat pulang dari kantor balik ke hotel lalu menuju ke spot bernama Elephant Mountain. Salah satu spot terbaik di New Taipei untuk melihat Taipei 101 dan Taipei dari puncak yang relatif tinggi. (tertinggi?)

Beberapa rombongan yang lain ada yang memilih untuk pergi ke pusat elektronik, kembali ke Shilin Market, dan ada juga yang memilih istirahat di Hotel.

Kami pulang dari kantor pukul 17.00 tiba di hotel 18.00. Lalu menggunakan LRT jalur merah menuju ke timur New Taipei. Di ujung stasiun kami harus berjalan sekitar 1-2 km sebelum tiba di pintu masuk bukit Elephant Mountain tersebut.

Wah dari pintu masuk langsung trail menaiki anak tangga yang cukup curam ke atas. Hihi, setelah bekerja keras dan tidak menyerah akhirnya kami tiba juga di spot foto-foto yang bagus. Kami tidak mencoba jalur lainnya karena ingin kembali ke stasiun (walaupun pada akhirnya kami pulang naik bus).

img_0570 img_0605 img_0648

Day 07, Jumat

Hari Jumat sesuai itinerary Work&shop ini, kami akan ke tengah pulau Taiwan ini, yakni sebuah danau iconic Taiwan. Kami bersama tour guide menjalani perjalanan bus ke danau yang bernama Sunmoon Lake itu.

Di tengah perjalanan kami mampir makan siang dulu di rumah makan ala-ala China tradisional di Taichung City. Salah satu provinsi di Taiwan. Dulu konon katanya Kota ini markasnya mafia Taiwan. Cuma sekarang mafia-mafia sudah migrasi ke selatan Taiwan. Kami juga mampir ke Taichung National Theatre

img_0658

Kami tiba di wilayah sunmoon Lake sekitar pukul 3 sore. Kami mampir ke salah satu temple di pinggir danau. Well, danaunya cukup luas dan indah dengan background perbukitan yang cukup tinggi. Daerah itu memang dingin.

Tapi compared to Indonesia, honestly, Indonesia nature is far better. I’m proud to be Indonesian. I don’t know what to say, maybe even Kawah Putih di Bandung lebih bagus kali dari sunmoon lake ini. Apalagi kalau dibandingkan dengan danau segara anak, danau toba, singkarak, dan tiga warna. Wah kalah jauh deh. Well, at least danau ini nilai historisnya cukup kental sih.

img_0744

Kami tiba di hotel dekat Sunmoon Lake sekitar pukul 17.30. Setelah beberes barang kami, kami berkumpul di pinggir danau sekitar pukul 18.00 untuk melakukan cruising mengelilingi danau. Kami dipandu oleh guide dan diceritakan berbagai hal. Salah satu cerita nya tentang di tengah danau tadinya ada sebuah pulau kecil tempat para penduduk asli di sini melakukan ritual, namun karena gempa jadinya pulaunya tenggelam. Kami masih bisa melihat ujung pulau tersebut kecil sekali.

photo_2017-01-30_21-02-23

Kami juga baru tahu sejarah tempat itu. Istri Chiang Kaisek (yg terakhir) mengidap penyakit yang kronis sekali sampai suatu ketika dia diberi tahu bahwa salah satu obat manjurnya adalah jamur merang (ukurannya wow berdiameter kira-kira 30cm). Coba saja google. Katanya yg asli dari sana khasiatnya banyak sekali (entah ini ilmu marketing penjualnya apa bukan). Tapi satu hal yang pasti penjualnya itu adalah cucu generasi ketiga dari orang yang menjadi sahabat Chiang Kaisek tadi. Karena jamur tersebut berhasil menyembuhkan istri Chiang Kaisek sedemikian rupa penduduk indian di Taiwan ini diberikan privilege khusus terhadap wilayah tersebut.

20160930_170053

Asal tahu saja ya penduduk indian di Taiwan itu satu ras dengan suku asli di Filipina dan Kalimantan. Bahkan salah satu film box office Taiwan yang menceritakan suku Indian di sana diperankan salah seorang suku dayak. Lucunya ada beberapa kosa kata kita yang dipakai juga di suku tersebut seperti “Makan”.

Oh malam hari nya kita kembali ber Night Market at sunmoon lake.

Day 08, Sabtu

Sunrise at sunmoon lake, tidak terlalu wah sih, karena posisi danau yang dikeliling bukit tinggi membuat matahari sudah terlanjur tinggi di atas . Usai foto-foto kami kembali ke Taipei. Kali ini kami mencoba kereta shinkansennya Taiwan. Stasiunnya ada di Kota Taichung yang sudah kami kunjungi sebelumnya yang kami tempuh dengan bis sewa.

20161001_130210

Akhirnya dalam tempo cuma 1-2 jam (padahal sebelumnya naik bus bisa 6-7 jam) kami tiba di Taipei Main Station.

Nah infonya di sini ada banyak toko Indonesia, maklumlah banyak TKI di Taiwan. Kami muter-muter di Taipei Main Station cari tempat makan indo itu. Setelah keliling satu jam lebih akhirnya ketemu rumah makan Indo Rasa (Dan ada juga rumah makan padang, dll). Saya dan Jafar juga tidak lupa belanja Indomie (udah kangen haha).

And then? Kami sudah berpencar jadi beberapa kelompok group sesuai minat.

Ada yang belanja, ada yg istirahat. Group Kami?

Terbesit dua buah opsi destinasi wisata terakhir. Antara ke jembatan Cinta atau Yeohliu Geopark, queen’s head. Salah satu tempat wisata alam iconic juga yang letaknya di pantai timur laut Pulau Taiwan. Jaraknya sekitar 2 jam jika menggunakan bus/mobil. Setelah bertekad bulat akhirnya kami memilih Yeohliu Geopark.

20161001_151845

Kami sempat nyasar 1 jam di stasiun mencarai di mana terminal busnya. Sampai akhirnya ketemu eh malah ditawari taksi ber empat dengan harga yang gak jauh beda dengan naik bus. Mengingat waktu akhirnya kami naik taksi.

Berangkat jam setengah 3 sore, kami tiba di Yeohliu Geopark sekitar jam setengah 5.

Not Bad!! It’s the real iconic place in Taiwan. Sun Moon Lake banyak di Indonesia, Taipei 101? Di Jakarta juga banyak gedung-gedung tinggi. Yah ga beda jauh lah. Tapi Yeohliu cuma ada di Taiwan. Yeohliu Geopark adalah tempat pesisir pantai yang terkikis laut Cina Selatan yang memiliki tekstur unik.

20161001_155626

Kami pulang dari Yeohliu pukul 18.00 dan tiba di Taipei Main Station pukul 20.00. Sudah selesai?

Belum kami lanjut ke night market modern lain, yakni Shi-Men-Ting ~ Ximending. Disana seperti wilayah Braga – Merdeka – BIP. Tapi semuanya pedestrian walk.

Satu tempat fashion franchise yang paling saya suka disana adalah NET. Saya beli jaket dan pakaian disana. Ibarat Indomaret/Borma tapi buat fashion. ah sayang sekali cuma ada di Taiwan. Fashionable tapi masih ramah kantong (even in rupiah jauh lebih murah di NET).

Day 09, Minggu

Sudah lelah nulis nih. Hehe. Morning flight 8 Waktu Taiwan sampai Soekarno Hatta pukul 12.00 WIB. See you next Journey.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s