Mine is not yours

Suatu ketika saya ditanya oleh teman tentang tanggapan saya terhadap reaksi masyarakat muslim terhadap pernyataan salah satu tokoh politik yang menyudutkan agama saya.

Saya jawab dengan diplomatis, saya dukung mereka yang lagi demo, yang nulis di postingan di facebook, dan di media lainnya selama itu dalam kadarnya.

Kenapa?

Di era medsos ini sudah ada pergeseran pemikiran bahwa segala sesuatu bersifat stream. Informasi begitu banyak masuk kepala dan berlalu begitu saja. Perubahan ini mengerikan menurut saya, karena hal ini membuat orang jauh lebih apatis.

Dulu waktu ngaji pernah dibilangin (sumbernya saya gak tanya, karena dulu sih nurut-nurut aja), “Kalau kamu melihat hal buruk di depan mata, lawanlah. Jika kamu tak punya kuasa atasnya, bicarakanlah.. ” and so on.. yang intinya adalah janganlah kita berdiam diri ketika ada hal yang tidak benar terjadi di depan kita. Seberapa lemah kita, tidak peduli itu.

Well dalam konteks kali ini, Orang Jakarta, sudah sibuk sama urusannya sendiri-sendiri. Terhadap isu-isu yang beredar kadang sudah menjadi apatis. Semua informasi tentunya harus dipilah dan dikaji sih, tapi tetap saja kalau benar-benar ada hal salah di depan mata kita harus lawan. In my humble opinion.

Jika perasaan ingin melawan itu bisa diwakilkan oleh mereka, saya dukung mereka. As long as there are no violence.

Emangnya politikus itu berkata salah?

My Opinion: tidak bijak, tidak berkata pada tempatnya, judging

Ada dua hal yang saya pegang dari pelajaran ngaji pas masih kecil terhadap konteks ini :

  1. Kalaupun Islam nanti ada banyak golongan peganglah Al Quran dan Hadits sebagai pedoman, dan Ijma sebagai jembatan penyesuaian ajaran Islam lintas masa. Tafsir itu tidak bisa sembarangan dilakukan oleh orang, harus punya ilmunya.
  2. Al Kafirun, menyatakan tegas bahwa : agamaku agamaku, agamamu agamamu (well literally.. Aku tidak menyembah apa yang kau sembah, dan sebaliknya.. sampai diulang-ulang)

That’s my Islam. That is not yours. Sudah disyariatkan bahwa kita harus memilih pemimpin dari agama kami. Jika kami menyerukan itu ke sesama umat, kenapa lalu Anda mempersalahkan syariatnya. Kita tetep Respect each other kok, cuma kalau urusan agama yang wajib-wajib ya gak ada toleransi.

Even Khamr/Bir/Babi sudah dibuat sedemikian rupa oleh manusia abad depan menyehatkan tubuh, kalau dilarang, ya tetep aja haram hukumnya. *Syarat ketentuan berlaku

Just my two cents.