Jelajah Flores

Saya bersyukur kebagian jatah dinas ke Maumere Flores. Flores salah satu pulau di gugusan kepulauan Nusa Tenggara.

Dahulu pada era Soeharto satu pulau Flores ini terdiri dari 1 kabupaten flores itu sendiri dengan ibukota Ende. Sekarang Flores sudah menjadi 6 kabupaten yakni: Labuan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Larantuka.

Flores. Tempat dimana kota Ende berada. Kota dimana pahlawan nasional sekaligus presiden pertama kita diasingkan oleh penjajah Belanda. Tempat dimana wisata alam Labuan Bajo berada jika Anda ingin menghampiri salah satu berlian Indonesia, Pulau Komodo. Tempat dimana gunung Kelimutu dan Danau nya yang unik berada, danau tiga warna.

Setelah merevisi plan trip saya dan mencocokkan dengan rute dinas saya di sepanjang Flores akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan travel trip berikut.

Selasa : Maumere (dinas)
Rabu : Larantuka (dinas)
Kamis : Maumere (dinas), Ende
Jumat : Ende (dinas), situs pengasingan bung Karno, Pantai Pengga Jawa
Sabtu : Desa Moni, Kelimutu, Pantai Koka, Tanjung

Sesungguhnya pulau Flores menyajikan wisata lautan/pantai dan daratan yang begitu mempesona. Menimbang jadwal dinas yang begitu ketat saya memutuskan untuk memilih wisata daratan saja yakni : kelimutu dan Pantai Koka.

Fakta menarik tentang pulau Flores yang saya temukan dari cerita penduduk lokal sana adalah bahwa 6 kabupaten yang baru saja terbentuk tersebut memiliki 6 bahasa yang slightly berbeda. Tidak hanya dari logat seperti jawa tengah dan jawa timur, tapi juga punya kosakata yang berbeda.

Saya kira itu hal wajar mengingat setiap kota selalu dipisahkan oleh jalan pegunungan yang luar biasa berkelok-kelok. Itu saya alami ketika melakukan perjalanan antara Maumere-Larantuka dan Maumere-Ende. Kanan tebing yang sangat rentan terhadap longsor, kiri jurang, dan seterusnya.

Tapi untuk urusan alam jangan ragukan pulau flores. Indah tidak cukup untul menggambarkan semua keindahan pulau ini. Pegunungan dan alamnya begitu indah, laut pantai semuanya tersaji di sana. Flores juga tidak kalah dari sisi devisi floranya mulai dari pohon kacang mete yang berjajar biasa layaknya tanaman liar, kemiri dimana-mana, ubi, kakao, pisang raja, dan masih banyak lagi.

Well destinasi saya pertama (dan gak direncanakan) adalah kota tempat sejarah negara ini terjadi. Kota dimana bung Karno dibuang Belanda era penjajahan. Rumah pembuangan bung Karno memiliki arsitektur pengaruh Eropa. Berbeda sekali dengan rumah-rumah di sekitarnya. Rumahnya cukup besar dengan perabot-perabot yang menurut saya cukup mewah.

Haha, namanya orang Indonesia nggak cukup kalau yang seperti ini tidak dikaitkan dengan hal-hal mistis. Ada yang berziarah dengan niat-niat tertentu, ada yang bilang kalau mengambil air dari sumur timba di rumah pengasingan itu bisa sembuh, tempat Sholat bung Karno yang katanya bisa untuk meditasi dll. Sayang saya gak bisa melihat tempat solat bung Karno yang konon jejak kakinya sampai mengecap ke lantai. Well.. well..

Taman Merenung Bung Karno. Disini konon tempat bung Karno memikirkan ideologi negara ini, Pancasila

Taman Merenung Bung Karno. Disini konon tempat bung Karno memikirkan ideologi negara ini, Pancasila

Lanjut lagi ke taman merenung Bung Karno, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah tersebut. Disana konon tempat bung Karno memikirkan ide-ide untuk negara ini termasuk ide pancasila. Menurut pendapat penduduk lokal, ide itu tercetus seusai melihat pohon sukun yang unik dimana akarnya naik hingga di atas tanah. Akar yang keluar memiliki 5 akar besar utama. Ya, Pancasila. Pohon yang ada di taman itu sekarang hanyalah replika dari pohon sukun asli yang sudah tumbang.

Tentang kontur wilayah kota Ende itu dikelilingi oleh pegunungan dan beberapa gunung serta pulau. Yang paling dekat kota ini dikelilingi 3 gunung : Wongge, Meja, dan Ia; dan 2 Pulau : Pulau Koa dan Pulau Ende. Legendanya begini :

Legenda Gunung Meja

Alkisah, terdapat dua pemuda bernama Meja dan Wongge. Meja adalah pemuda rupawan dan baik hati, sedangkan Wongge berpenampilan buruk , baik fisik maupun watak. Kedua pemuda ini mencintai seorang pemudi bernama Iya, kembang desa di kota Ende. Pinangan Meja disambut dengan tangan terbuka oleh Iya, sedangkan pinangan Wongge ditolak. Wongge marah besar. Sakit hati karena cintanya ditolak, Wongge berencana untuk membunuh Meja. Pikirnya, Meja tidak boleh menikah dengan Iya. Maka di suatu malam ketika Meja sedang tidur lelap, Wongge mengendap dan memenggal kepalanya dengan parang. Pulau Koa yang berada di timur Ende adalah pulau karang yang tidak berpenghuni dan berbentuk mirip seperti kepala, yang diyakini sebagai potongan kepala dari Meja. Sedangkan Pulau Ende yang berada di barat Ende dan berbentuk seperti parang jika tampak dari atas, diyakini sebagai perwujudan dari parang yang dibuang oleh Wongge. Gunung Ia adalah gunung berapi yang masih aktif. Jika dia mengeluarkan asap atau mengeluarkan semburan, maka masyarakat Ende meyakini bahwa Ia sedang menangis sedih karena ditinggal mati oleh Meja.

Malam harinya kami sempat ke pantai di desa Pengga Jawa — Pantai yang memiliki tekstur tepi daratan berupa batuan-batuan indah biru yang biasanya dijadikan batu refleksi, atau batu aquarium. Sayang tiba di sana sudah jam 7 malam sehingga tak sempat lah kami berfoto-foto viewnya yang indah. Cukup jauh juga rupanya desa pengga jawa dari kota Ende.

Well, ada cerita menarik kenapa kami ke Pengga Jawa. Jadi info dari kepala datel Ende dan CSR plasa tersebut jarak tempuh ke pantai itu dekat sekali. Peringatan buat kalian semua yang ke Ende. Istilah DEKAT di pulau ini nampaknya perlu dikaji ulang. Haha ini sudah kedua kalinya kami percaya bahwa dekat itu adalah dekat. Dekat yang katanya cuma 10-20 menit ke pantai, ternyata kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Alhasil target kami meleset untuk melihat sunset di sana.

Gara-gara dibilang

Gara-gara dibilang “dekat” akhirnya kami tiba di sini sudah jam 7 malam. Nyolong batu pantai with orang kantor. Lumayan batunya enak buat refleksi dan pijet.

Target utama kami sesungguhnya adalah danau tiga warna, Kelimutu. Sehingga malam dari Pengga Jawa Kami langsung meluncur ke sebuah desa bernama Moni yang terletak dekat sekali ke danau tiga warna.

Untuk menuju ke Danau dari Moni jaraknya cukup dekat sebetulnya. Wisatawan lokal biasanya naik motor/mobil menuju area pelataran parkir Wisata Alam Danau Tiga Warna. Dari tempat parkir ke monumen tempat melihat ketiga danau jaraknya sudah begitu dekat. Anggap saja naik ke gunung Tangkuban Perahu. Tapi biasanya bule-bule merasa tertantang untuk menjadikan ini sebuah lahan trekking, untuk rute trekking dari Moni ke area pelataran parkir sesungguhnya jauh sekali mungkin sekitar 5-10 kilometer (Perlu konfirmasi sih). Naik mobil soalnya cukup jauh dari homestay yang kami inapi.

Harga homestay di Moni sesungguhnya tidak terlalu mahal untuk wisatawan lokal mungkin sekitar 200-300. Cuma karena kami dikasih homestay referensi sama orang kantor (saudaranya), jadi kami gak tega nawar. Kami dapat kamar 400 ribu untuk kapasitas bed 4 orang. ada 2 kamar dan 1 kamar mandi. Rasanya kami bisa dapat 200ribu kalau bukan karena itu referensi orang kantor. Tapi yasudahlah.

Desa Moni, dari danau mau kembali ke homestay. What a green view. di mana di Flores lagi kekeringan karena kemarau panjang di sini masih hijau.

Desa Moni, dari danau mau kembali ke homestay. What a green view. di mana di Flores lagi kekeringan karena kemarau panjang di sini masih hijau.

Trekking dari area pelataran ke bukit melihat danau gak begitu jauh, tapi buat kalian yang jarang trekking mendaki agak bersabar ya terutama untuk tanjakan terakhir. Tiga danau warna itu terbagi dua area. Dua danau pertama bisa kita kunjungi pertama saat trekking. Kedua danau dipisahkan oleh bukit tipis seperti tembok, dulu konon diantara kedua danau tersebut bisa dilalui orang, sekarang sudah tidak mungkin lagi.

Stairs to the summit

Stairs to the summit

Dari poin view itu kita belum bisa melihat danau ketiga. Kita harus menapaki anak tangga yang lumayan tinggi. (Haha, karena udah pernah naik gunung Gede dan Rinjani, ini sih gak ada apa-apanya. Sombong ceritanya hohohoho). Jalan/tangga trekkingnya bagus sudah dibeton dan dikasih pagar sehingga bisa dinikmati berbagai kalangan dengan relatif aman.

Danau Tiga Warna, Gunung Kelimutu - view dari monumen

Danau Tiga Warna, Gunung Kelimutu – view dari monumen

Setibanya di atas barulah kita bisa melihat ketiga danau. Dari area parkir ke atas mungkin sekitar 800 meter kali ya. Atau malah kurang. What a beautiful view. Hihi, penampakan uang 5000 rupiah kertas jaman dulu.

Mata Uang Kertas 5000 rupiah

Mata Uang Kertas 5000 rupiah

Fakta menarik dari danau tiga warna adalah warna ketiga danau sudah ratusan kali berubah. Seperti yang tampak dimata uang 5000 memiliki warna merah, biru muda, dan hijau. Saat saya ke sana warna biru muda nya masih ada, tapi merah dan hijaunya telah berubah : yang merah menjadi agak coklat/biru, yang hijau menjadi biru tua. Menurut fakta ilmiah yang tertera di papan informasi perubahan warna ini terjadi karena mineral yang dihasilkan oleh pengaruh vulkanis daerah tersebut. Weleh, ini daerah vulkanis rupanya. Jadi jangan kecewa kalau danau tiga warna sekarang memiliki tiga warna yang berbeda dengan mata uang keluaran 1992-1998 itu. It’s just natural phenomena. Mungkin di era tahun 90-an, ketiga danau itu memang memiliki warna seperti di uang kertas tersebut.

Jagoan kami, Pak Aston, driver kandatel Maumere. Thanks so much ya pak sudah antar kami keliling Ende dan Kelimutu

Jagoan kami, Pak Aston, driver kandatel Maumere. Thanks so much ya pak sudah antar kami keliling Ende dan Kelimutu. Ngelewatin banyak tikungan antara Maumere-Ende dengan luar biasa.

Done with Kelimutu lanjut mampir dulu ke Pantai Koka yang bentuknya seperti hati. Dinamakan Kakao mungkin karena saat masuk dari jalan propinsi menuju pantai dipenuhi oleh kebun tanaman kakao. Yes, coklat. Baru sekali itu lihat pohon coklat langsung.

Panas terik di Pantai Koka. Naik ke atas bukit yang panasnya seperti bara api.

Panas terik di Pantai Koka. Naik ke atas bukit yang panasnya seperti bara api.

Ada satu spot lagi namanya Tanjung, disana ada patung Salib, yang mana dari sana kita bisa melihat seluruh tekstur semenanjung di Maumere. Tapi sudahlah, sudah lelah seminggu di sana. Maybe next time.

Sayang juga belum sempat main ke Wae Rebo. Daerah suku asli di daerah kabupaten Ruteng, Flores. Well, ini next time juga lah. Toh sekarang lagi musim kemarau pasti pemandangannya tidak seoke yang ada di gambar-gambar. Plus Wisata airnya juga nih.. kaya Pulau Komodo, Pulau Padar, Labuan Bajo, dll.

Indonesia is beautiful, isn’t it?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s