Finally, Rinjani!

Entah bagaimana ceritanya, satu bucket list saya terlaksana. Padahal nulisnya sekitar tahun 2011, gak kepikiran berbagai random wish saya terkabul, yes, salah satunya gunung yang terpapar di selembar uang 10 ribu jaman dahulu, Rinjani.

10 ribu rupiah jaman dahulu

10 ribu rupiah jaman dahulu dan Rinjani🙂

Berawal dari rencana bung dhito dan masbro Ragil napak tilas ke Salah satu gunung vulkanik tertinggi di Indonesia itu, saya kebetulan punya waktu yang pas untuk mengambil cuti. Akhirnya saya setuju untuk ikut hike ke Rinjani.

Preparation

Selain karena sudah lama tidak naik gunung (kesannya jagoan gunung, padahal baru 2x naik gunung Gede seumur hidup haha), saya juga udah lama gak olahraga. My passion ikutan ke Rinjani cuma 1 sih. I want to defeat my self.

So what do I did before going there? Saya cuma punya waktu 1 bulan sebelum berangkat. Sangat mefeet, dan nekat.

A. Strengthened my lower body/legs by using emergency stairs the whole month to the 4th floor from ground in my building office
B. Strengthened my breath by swam 3-4 times a week until the starting date. Well, I actually even joined the gym, haha!!

Bermanfaat? hehe, nanti ya saya ceritakan hasilnya.

Fixed Plan

Oh ya, 1-2 minggu sebelum pendakian, Dhito nggak jadi ikutan. Hmm.. agak bingung dan hampir gagal awalnya. Cuma karena saya dan Ragil keep moving on, akhirnya dilanjutkan aja. Tapi kali ini kita sewa Guide. Kita pakai guide dari travel de Langkah. Kira-kira the hike plan and some sort of itinerary is like this :

04-11-2015 18-38-11

Ini plan awal ya, di tengah perjalanan kami mengubah rute perjalanan. Well, untuk mau lihat gambaran rute pendakian Rinjani sebagai berikut :

Ikut ngambil gambar itinerary orang. Tapi kira-kira sort of Rute Sembalun-Puncak-SegaraAnak-Senaru seperti itu...

Ikut ngambil gambar itinerary orang. Tapi kira-kira sort of Rute Sembalun-Puncak-Segara Anak-Senaru seperti itu…

The Day #1 : Take Off (10-10-15)

Mengambil penerbangan pagi jam 5 dari SHIA, kami tiba di Lombok International Airport (LOP), Praya/Lombok Tengah sekitar pukul 9 sesuai rencana. Ada sedikit insiden dag-dig-dug saat akan berangkat. Tiba di airport SHIA pukul 4, dan boarding pukul 4.30, saya ketiduran di rest area baru yang begitu nyaman. Saya terbangun pukul 4.48 oleh beberapa missed call Ragil. Well, saya lari ke arah gate dan untungnya saya masih ditungguin di bus. Last person to the last bus😦

Tiba di LOP, kami sudah ditunggu guide dari deLangkah, Mas Enji namanya. Tapi yang menjadi guide kami namanya Abdur, nama kerennya Bram. Nama terakhir ini benar-benar jadi hero saya di hari ketiga nanti.

Setelah makan nasi puyuh di dekat bandara, kami berangkat menuju desa sembalun hingga sekitar pukul 12.30. Mas Bram membawa kami melalui jalan berkelok-kelok menuju Sembalun dengan ngebut sekali. Mungkin roller coaster bisa menjelaskan bagaimana rasanya berada di mobil saat itu.

Tiba di Starting Site, tempat ngumpul banyak hiker di rumahnya Mas Anto. Disini kita mengambil perlengkapan seperti tenda, backpack, bahan makanan, dan bertemu dengan dua porter jagoan kita Mas Anggra dan Mas Anja. So kita start berlima : Saya, Ragil, 2 porter jagoan, dan 1 guide jagoan kita. (NB: Karena kita pakai semi-tour most of kit seperti kompor, tenda, dll selain pakaian dan perlengkapan pribadi sudah dibawakan oleh porter).

Target di Hari Pertama adalah menuju Pos ke 3. Perjalanan di sepanjang rute ini simply : Jalanan desa, savanah, bukit kecil, dan hutan saling bergantian. Jalannya relatif landai tapi panjang

DSC_7034

Bukit savana menuju pos 2. Photo by Ragil

Singkat cerita berangkat dari 13.30 dari Desa Sembalun (around 1100m) setelah melapor di Pos Informasi kami tiba di masing-masing pos :

  • Pos 1 (1300m) : Pukul 15.30
  • Pos 2 (1500m) : Pukul 17.30
  • Pos 3 (1800m) : Pukul 18.30

Tibalah kami di Pos 3. Pasang Tenda, dan makan-makan. Disanalah kami bersyukur dengan porter dan guide ini. Kami makan ENAK!!! Something like pancake, watermelon, and pineapple. Akhirnya sejak malam itu dan hari seterusnya kami cekikikan memegang motto ini di kala kita lelah mendaki:

“Loe tuh tinggal jalan, broh!!”

Haha, sudahlah dibawain tenda, sleeping bag, kompor, air, dan beberapa perlengkapan masak, disajikan makanan mewah untuk ukuran naik gunung, kita merasa nggak pantas capek lelah dengan segala kemudahan ini.

DSCN3444

Di titik ini, hasil latihan naik tangga setiap hari terbayarkan. Nggak terlalu capek. Nafas masih ngos-ngosan sih, tapi masih kuat.

The Day #2 : Regret Hills. Well, yes, with s, plural! (11-10-15)

Start dari Pos 3 hari kedua, foto dari awal bukit penyesalan

Start dari Pos 3 hari kedua, foto dari awal bukit penyesalan

Bukit Penyesalan, itu pernyataan di beberapa blog tentang perjalanan Rinjani. Konon katanya berupa beberapa bukit demi bukit menanjak terus. Tanjakan, datar, tanjakan, datar, dst.. Jumlahnya ada 9.

Di 3-4 bukit pertama saya dengan sombongnya bilang kalau sampai titik itu belum merasa menyesal, haha. Sampai akhirnya memasuki bukit ke 6, dan puncaknya di bukit ke 8-9. (Dari hitungan saya ada 9, tapi beberapa orang lain tidak menganggap beberapa tanjakan sebagai satu bukit)

Medannya nggak terlalu sulit sih, hanya saja menanjak😛 Yang membuat lebih menantang adalah pendakian pada siang hari ini membuat stamina cepat terkuras. Sifat rutenya yang tandus, minim pohon dan terkena pancaran langsung sinar matahari membuat rute ini melelahkan.

Berangkat dari Jam 7.30 kami punya target menuju Pelawangan Sembalun. Dalam beberapa itinerary traveler lain, Hari pertama dan kedua biasanya dijadikan satu, sehingga target di hari pertama dari pos pertama langsung menuju Pelawangan Sembalun (2639m) tidak berhenti di Pos 3 (1800m).

Kami tiba di Pelawangan Sembalun sekitar pukul 13.30. Di sana biasa menjadi post camping tepat sebelum Summit Attack keesokan harinya jika melalui jalur Sembalun. Tiga hal yang menarik di tempat itu adalah (1) Di area itu terdapat sumber mata air yang bisa diminum, (2) Pertama kali bisa melihat langsung Danau Segara Anak Jika berangkat dari jalur Sembalun, (3) Tempat melangkah awal sebelum menuju puncak Rinjani (mau dari rute Senaru ataupun Sembalun harus melalui tempat ini).

Pelawangan Sembalun

Pelawangan Sembalun dan penampakan jalur Pos 1-3 di bawahnya (Photo by Ragil)

Melihat kondisi kami yang cukup lelah dan kondisi curamnya Senaru sebagai rute pulang, akhirnya kami memutuskan pulang kembali melalui Jalur Sembalun. (Apalagi jika tahu adegan di esok hari hihihi)

Narsis dulu

Narsis dulu

Narsis dulu.. Sayang sore itu kami sama sekali sulit melihat danau Segara Anak karena danau diselimuti kabut tebal

Narsis dulu.. Sayang sore itu kami sama sekali sulit melihat danau Segara Anak karena danau diselimuti kabut tebal

Our Camp Site at Pelawangan Sembalun

Our Camp Site at Pelawangan Sembalun

Ragil, Mas BRAM, saya Di Pelawangan Sembalun

Ragil, Mas BRAM, saya Di Pelawangan Sembalun (Photo by Ragil)

The Day #3 : Peak Time (12-10-15)

Bangun Jam 2, dikasih sarapan roti selai kacang dan teh manis. Kami memulai summit attack. Camp kami tergolong strategis dimana kami dekat dekat sumber mata air (cuma 5 menit saja) dan dekat dengan start summit attack.

Selai Roti Kacang sepertinya bencana buat saya, entah karena kombinasi selai kacang, jalanan tanjakan berpasir yang menurunkan mental, VO2max saya yang rendah plus oksigen rendah di malam hari, dan udara dingin membuat sepanjang perjalanan saya muntah-muntah. Sebetulnya muntahnya saya paksain sih, supaya asam di lambung keluar.

20% Pendakian Pertama menurut saya adalah yang paling neraka. Di jalanan berpasir dengan kemiringan 40-50 derajat itu saya melangkah 1, lalu terperosok 1 langkah… begitu seterusnya yang membuat kita berpikir, kapan sampainya??!! Mungkin bagi mereka yang sudah pernah ke Puncak Mahameru ini sepele ya, whatever, ini debut saya ketemu rute yang seperti ini. Mental saya jujur down.

Di Akhir pendakian neraka itu sekitar pukul 4.00, saya bilang ke Ragil dan Mas Bram.

“Saya menyerah, kalian ke puncak saja ya, nanti saya tunggu kalian sampai turun”

Kondisi saat itu saya benar-benar kehabisan nafas, mental down membayangkan 20% pendakian saja seperti ini (naik 1 turun 1), kepala saya tiba-tiba pusing (takutnya kehabisan oksigen), ditambah adegan muntah-muntah. (PS. buat para calon pendaki lain, jangan khawatir, ini cuma saya aja yang cupu gak latihan fisik yang cukup).

Setelah negosiasi serius, Ragil yang tampak khawatir, Mas Bram juga yang terus menyemangati akhirnya saya memaksa mereka untuk duluan. Sendiri di ujung pendakian gila itu. Beberapa pendaki lain lalu lalang, berhenti sejenak di bara api unggun yang dibuat oleh pendaki sebelumnya, istirahat dari pendakian neraka itu.

Saya terus menyesali kenapa saya menyerah, sesekali tergoda mencoba melihat ujung bukit pendakian memikirkan apakah saya mampu. Sendiri. Setiap pendaki beristirahat di samping saya dekat unggun mereka menyapa, makan energy booster, minum, lalu lanjut lagi. Setiap ada yang lanjut ke atas membuat saya terpancing untuk ikut mereka. Dingin

Begitu seterusnya tanpa saya sadari matahari mulai terbit, mungkin sudah pukul 6.00 saat itu. Api unggun sudah padam. Hingga tiba sebuah rombongan turis asing yang terdiri dari 4-6 orang. 1 anak muda yang begitu ceria dengan musik kencang dimainkan olehnya. Beberapa orang lain para bule separuh baya. 3 orang lelaki, dan 2 orang wanita. Saya lihat dari sisi usia dan postur sudah cukup tidak ideal, tapi mereka begitu semangat. Selain itu pada saat itu tiba-tiba udara kembali mengisi paru-paru saya. Pusing itu hilang, yang ternyata penyebab pusing itu adalah kacamata hitam saya yang menekan belakang kepala saya sampai berbekas.

Begitu saya lepas semua attribut (kupluk, kacamata, dll) badan saya begitu ringan. Saya memutuskan untuk membuat target, saya mau mencapai bukit itu!

Man can dream, Man can live.

Saya bisa mencapai bukit itu dengan relatif mudah. Tracknya pun tidak seperti yang saya bayangkan. Rute batuan yang relatif keras. Tidak seperti pendakian neraka di awal. Saya kemudian membuat target baru untuk mencapai titik tertinggi dari view yang saya liat. Saya mencapainya.

Man can dream, Man can live.

Satu persatu target demi target tercapai. Beberapa pendaki yang tadi mampir di api unggun saya salip satu persatu. Saya tidak banyak berhenti, tapi melangkah dengan pasti. Satu bukit, demi bukit. Satu bukit, demi bukit. Saya tidak memasang target akan ke puncak, tapi cuma menargetkan diri sendiri berjalan sendiri ke titik tertinggi pendakian dari yang saya lihat dari target sebelumnya. Saya belum berpapasan dengan Ragil dan Mas BRAM membuat saya semangat. Saya memberi target jika saya berpapasan dengan mereka saya bersedia langsung pulang ke camp.

Sunrise. Photo by Ragil

Sunrise on the way to summit. (Photo by Ragil)

Tanpa saya sadari saya hanya berjarak 2 tanjakan lagi hingga puncak sekitar pukul 10.00. Ya Allah. Kekuatan bisa datang seperti itu ya. Saya masih belum bertemu mereka, saya bermimpi bisa ke puncak itu walau sendiri. Hingga saya akhirnya melihat mereka dari jauh. Saya sedikit berkecil hati karena sedikit lagi saya sampai puncak. Target saya tercapai😦

Way to the summit

Way to the summit (photo by Ragil)

Mas Bram dengan gayanya yang cool dan asik menghampiri saya yang beristirahat di bebatuan dengan sumringah dan semangat…

“YOOO MAAAN… Mas riiiiiissss… saya gak percaya mas udah di sini.. mas riss semangat saya semangat dua kali lipat.. Kalau mas mau ke puncak saya temani mas ke sana…”

Mendengar kata-kata itu membuat saya semangat, saya langsung mengangguk ringan mengiyakan. Ragil sempat khawatir kalau nggak kuat nggak usah dipaksa, tapi tekad saya sudah bulat. Saya persilakan Ragil untuk duluan.

Man can dream, Man can Live

Beberapa pendaki yang bertemu saya di api unggun saya temui semua dan saya anggap mereka sebagai rekan seperjuangan. Saya berkenalan beberapa dengan mereka. Hingga yang terakhir saya bertemu dua perempuan yang sama berjuangnya dengan saya. Reni dan Leni dari Depok. Mereka pada akhirnya jadi rekan seperjuangan ke Puncak dan pulang menuju camp.

Saya hampir tidak pernah istirahat sejak saat itu hingga kami akhirnya tiba.

Puncak. Saya berteriak melepas dahaga.

“Rinjani, Finally I’m here…!!”

Kami tiba di puncak sekitar pukul 11.00 WITA

Man can dream, Man can live.

Bagi beberapa orang mungkin ini lebay atau hal yang tidak biasa, tapi bagi saya ini pencapaian. I defeat myself.

Rinjani, Reni, Leni, dan Mas Bram. Thanks God to met them. Salah satu penyemangat ke Puncak

Rinjani, Reni, Leni, dan Mas Bram. Thanks God to met them. 3726 Mt Rinjaniiii… Touch Down!!

Adanya teman seperjuangan membuat kita nggak patah semangat. Jalur menuju puncak terakhir agak sedikit menyiksa seperti awal pendakian tadi, tapi saya lebih well prepared. Kami melanjutkan perjalanan pulang ke camp, tiba sekitar pukul 2.

Sedikit merasa bersalah dengan Ragil, karena hal ini, kami kehabisan waktu untuk mampir ke Segara Anak. Well kami juga cukup lelah dengan pendakian. Thanks to you too Gil, atas pengertian dan semangat nya hohoho.

The rest of the day, kami tepar. Karena rencana berubah kami langsung menuju desa sembalun esok hari.

The Day #4 : Time to say goodbye (13-10-15)

DSC_7410

Menuruni bukit penyesalan yang cukup curam

Praktis hari ini kami mengulangi jalur sebelumnya namun dengan rute menurun. Menuruni bukit penyesalan cukup menghabisi otot lutut kami.

Tidak banyak yang diceritakan setelah itu. Tiba di desa sembalun dalam waktu yang cukup cepat. Sekitar 13.30 kami tiba disana. Sesampainya disana Kami diantar mas bram dan rekannya yang lain ke Mataram. Termasuk di dalam paket de Langkah kami sudah dibookingkan hotel di Mataram. Kami baru tiba sekitar jam 5 di sana karena ada pawai 1 Muharam (di lombok banyak sekali penduduk Muslim dan masjid). Kebetulan besok adalah 1 Muharam.

Mataram kotanya cukup ramai dan banyak tempat perbelanjaan.

Last Day : Beach Time!! (14-10-15)

Last day kami habiskan untuk berkeliling. Mas bram dengan sukarela menawarkan kami untuk berkeliling Lombok. Naik motor nampaknya lebih efektif berkeliling pulau Lombok ketimbang mobil jika travel hanya berdua.

DSCN3702

  1. Pusat Tenun di desa Sukarara, disana kami berbelanja beberapa kain tenun khas Lombok yang dibuat disana.
  2. Pantai Selatan – Pantai Selong Belanak, disana saya latihan surfing untuk pertama kali. Ombaknya enak buat latihan surfing. Saya dan Ragil sempat bermain air di tepi pantai. Saya latihan surfing tentunya.
  3. Pantai Selatan – Pantai Mawun, viewnya cukup oke, kalau saja kami tidak dikejar deadline penerbangan pukul 18.00 mungkin kita bermain air lagi di sana.
  4. Pantai Selatan – Pantai Kuta Lombok. Pasirnya khas sih, kerikil-kerikil kerang kecil. Tapi saya masih lebih terkesan dengan dua pantai selatan sebelumnya.
Surfing di Selong Belanak

Surfing di Selong Belanak

Pantai Mawun

Pantai Mawun

Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok

***

What a chance kami alhamdulillah berhasil meraih puncak Rinjani.

Rinjani, Finally I’ve met you!

NB. Alhamdulillah, banyak sekali kemudahan dan perlindungan yang diberikan oleh Allah dalam perjalanan kami.

(1) Malam hari setelah kami mencapai puncak, terjadi badai angin yang terus menerus terguncang sampai pagi hari. Bayangkan jika itu terjadi pada saat kami memuncak tentu saja hampir tidak mungkin kami menuju puncak. Di pagi hari kami melihat banyak dari pendaki mengurungkan niatnya ke puncak. Tercatat dari termometer Ragil malam itu cuaca di Pelawangan Sembalun mencapai 10 derajat.

(2) Setelah perjalanan usai (13 Oktober 2015), beberapa hari setelahnya (25 Oktober 2015) Anak Gunung Rinjani (kawah/gunung Baru Jari) di tengah-tengah danau Segara Anak kembali meletus. Kecil, tapi cukup membahayakan pendaki. Sampai sekarang TN Rinjani ditutup, dan bahkan penerbangan ke arah Lombok ditutup.

2 pemikiran pada “Finally, Rinjani!

  1. Mantap bro!! Jadinya kalian nggak turun ke Segara Anak ya?
    Sayang banget gw ga jadi ikut, hiks hiks. Bakalan makin susah nih nyari temen yg bisa diajak ke sana.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s