Catching Expression

Awe...

My nephew in Awe…

Ngerti sekarang kenapa Jiwo ataupun beberapa fotografer lain suka sekali capture ekspresi orang. Karena menangkap ekspresi orang sangat menarik. Priceless. Seolah dari foto itu mereka berbicara. Candid tentunya. Menunjukkan wajah jujur mereka yang sesungguhnya.

Beberapa orang barangkali nggak suka wajahnya dipotret dalam jarak dekat atas berbagai pertimbangan. Nggak pede, merasa lagi nggak oke, ataupun jaim–jaga imej.

Tapi menurut saya yang namanya ekspresi itu mau kulit putih, hitam, hijau, jerawatan, mulus, tua, muda, cantik, tampan, kewl, agak-cool, unyu,garang, dan beraneka ragam ciptaan Tuhan lainnya, tidak ternilai harganya. Ok, fine, nggak masalah kalau mereka mau foto tersebut stay in private, tapi salah satu hal yang saya pelajari dari foto ekspresi itu adalah kita bisa menghargai diri kita.

Foto ekspresi bisa membuat kita ketawa sendiri, ikut sedih, berpikir, merenung, dan terhanyut dalam emosi di dalam foto itu. Apalagi kalau kita ikut terlibat dalam sikon pada foto itu.

BUT, menangkap ekspresi orang nggak segampang itu. Cara paling gampang dan relatif mahal ada sih, pakai SLR dan lensa tele, yang mana Anda tidak akan sadar distalkingfoto dalam jarak 500 meter sekalipun. So, kalau mau cara murah ya harus tebal muka dan sabar menunggu ekspresi itu datang.

Setelah tools siap, eksekusinya pun nggak gampang. Musuh paling besar dari menangkap ekspresi orang ada dua : 1. Orangnya narsis dan selalu sadar kamera atau; 2. orangnya anti difoto. Walaupun ada juga tipe orang yang sadar kamera dan narsis serta tahu akan difoto candid, tapi sok cool supaya bisa dapat profile picture, PP. At least orang ini nggak nyusahin fotografer…

Konsep foto ekspresi saya adalah full face-zoom type dengan background blurry. Yang mana kalau dicapture dari Nikon Coolpix ane akan sangat ketahuan sekali. Teknik yang sering saya contek dari Jiwo biasanya adalah tetap fokus ke satu orang. Bidik selama mungkin. Tunggu momen orang tersebut melakukan sesuatu. Pastikan semua konfigurasi kamera sudah ditest di objek lainnya karena menangkap ekspresi nggak bisa diulangi dua kali.

Saya sejauh ini masih sering terlalu cepat mengambil momen sehingga ekspresinya datar. Atau kelamaan sehingga orang itu sadar akan candid, dan ketika saya capture dia bergerak dan menghasilkan foto blur. Komposisi juga masih jadi musuh utama saya hingga detik ini — Salah satu alasan kenapa saya beralih dari SLR untuk kembali ke camdig point-and-shoot.

Sekali lagi ini opini saya sendiri. Sudah setahun lebih saya mencoba masuk ke genre foto ekspresi dan video kompilasi. I’ll try to enhance this skill further. Yey, for the jack all of trades!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s