Dream

Dua puluh tahunan sejak saya dilahirkan di muka bumi. Saya sudah mengalami banyak transisi dari sisi geografis, budaya, maupun usia. Di akhir tahun ingin rasanya ngereview apa yang sudah saya capai apa yang belum. Apa yang saya inginkan, apa yang ingin saya raih, apa yang saya cita-citakan.

Kelas 1 SD, waktu itu saya masih tinggal di daerah. Saya terpukau sama seorang gubernur daerah tersebut. Oleh karenanya, saya bercita-cita ingin menjadi gubernur. Kalau orang punya cinta pertama yang biasanya cinta monyet, saya punya cita-cita monyet based on a whim. Kenapa jadi gubernur? Karena gubernur keren, pakai baju ala orang kantoran rapi, ketemu banyak orang, makan enak, naik mobil bagus, dan banyak uangnya. Naif ya. Namanya juga anak kecil.

Tapi sedari dulu kesukaan saya terhadap sesuatu terkadang tidak relevan dengan esensi kesukaan tersebut. Sebut saja cita-cita monyet itu saya sukai karena saya mengagumi setelan baju PNS ala gubernur warna coklat yang terlihat keren di mata saya waktu itu. Saya sampai dibelikan setelan baju kantor versi mini karenanya (Walaupun harus disobek waktu tangan dan kaki saya diinfus ketika kena DBD mengenakan pakaian itu). Atau saya suka Arsenal karena warna merah. Atau saya suka Juventus karena bajunya hitam dan putih. Dan lain-lain. Bisa jadi kalau baju Barcelona tidak menggunakan warna yang menurut saya norak (no offense barca fans) saya akan menggunakan nickname saya dengan qmail-barca.

Pindah ke kota, dan masuk ke budaya baru rupanya berdampak pada interest dan hobi. Saya mulai suka main gundu, main galasin, main benteng, dan mainan anak SD lainnya jaman itu. It was like I entered into new civilization. Sejak saat itu saya punya cita-cita ingin jadi pengusaha mainan. Hahaha lucu juga mengingatnya. Saya teringat membuat beberapa set mainan dari game papan, game kartu, game outdoor, dan game lainnya yang edukatif dan menarik, dan anehnya banyak yang mau memainkannya.

Satu hal yang harus saya benahi jika saya mau bergerak ke bidang bisnis. Saya kurang berbakat dari sisi bisnis. Suatu ketika di daerah, sekolah saya mengadakan acara bazaar mini. Sebagai persiapan saya menghabiskan beberapa sachet minuman persediaan rumah untuk saya jual di sekolah. Pada akhirnya saya menjualnya dengan cuma-cuma karena nggak laku sama sekali. Oh damn Nutri Sari lenyap cuma cuma (Jaman dulu Nutri Sari sachet di sekolah favorit semua anak kecil).

Saya heran kenapa saya nggak mengkomersilkan game-game buatan saya. Kalau saya sedikit nekat dan pelit itu akan jadi mainan yang laris keras. Haha.

Masuk masa SMA, hobi saya ke arah web dan blog surfing membuat saya sedikit tertarik ke arah dunia komputer. Berawal dari modal bisa mengikuti beberapa tutorial Flash, saya memutuskan dua hal saat itu. Saya mau jadi hacker dan jadi detektif. Yang pertama lumayan kesampaian (ke arah yang lebih benar. Although Son, Hacking is not crime. Cracking is.), yang kedua pff.. saya cuma bisa ketawa. Waktu SMA saya juga kepengen jadi ilmuwan. Mad Scientist. Not necessarily mad, good scientist is good enough.

Keinginan saya untuk menjadi detektif (or at least write a short story about it), sedikit banyak meningkatkan pengalaman dan minat saya di bidang tulis menulis. Tercatat saat SMA saya udah buat beberapa cerpen, puisi, dan medium cerpen. Cliche Story. But decent story IMHO, hehe. Apalagi saat kuliah saya mendapat motivasi tambahan untuk menulis setelah terinspirasi dari dosen saya Pak BR. Saya sudah beberapa kali menginisiasi beberapa novel. Saya cita-cita bisa mempublikasi satu buah buku karangan saya sendiri. Tapi nggak ada yang jadi. Dulu padahal pernah niat mau bikin novel bareng sama seseorang. Sayang nggak kesampaian. I have bad commitment issues. Sebenarnya nggak mesti novel sih. Buku apa aja boleh juga.

Di postingan sebelumnya mungkin saya pernah cerita kalau jadi Detektif, Ilmuwan, dan Programmer adalah cita-cita saya. Jadi saya nggak akan elaborate cita-cita itu. Point saya adalah hidup ini seperti remote TV. Penuh dengan tombol channel yang menjadi pilihan kita. Mau kita habiskan untuk channel mana waktu yang kita miliki. Saya jujur sedikit menyesal dengan sedikitnya pilihan yang tepat yang saya habiskan waktu SMA. But that’s part of me. My past defines what I was. And My presence define what I’ll be. Every failure I took, I won’t curse it, instead I’ll learn from it.

Setelah saya memilih channel programming — ketimbang scientist ataupun detektif — Saya dihadapi oleh berbagai peluang selama saya kuliah. Saya punya banyak jalan dan terkadang banyaknya sering membuat kita tidak fokus atau malah membuat kita terlena. Bahkan waktu itu saya dibukakan peluang untuk mengejar cita-cita lama saya (menjadi scientist, scientist rupanya nggak mesti pegang labu elenmeyer). Namun saya memilih untuk jalan di dunia orang kantoran. Mungkin latar belakang ingin menjadi gubernur bisa jadi mendasari itu semua. Tapi terlalu kebetulan. Saya sebenarnya lebih ingin menjadi pengusaha sendiri.

Satu cita-cita yang menurut saya jauh dari jalan yang sudah saya tempuh. Pengusaha. Saya dari kecil nggak bakat jualan. Bahkan pernah terjerumus dalam dunia per-MLM-an. Untungnya cuma sebentar. Tapi saya ingin sekali rasanya bisa membuka lapangan usaha sendiri. Tapi saya nggak punya modal dari sisi niat, uang, resource, pengalaman, dan segalanya. Dan buku-buku wiraswasta bilang, Just do it. Dan saya nggak tahu harus mulai dari mana.

Someone dear to me said this to me, you don’t have to be great at everything, you can do great at what you best at.

Saya nggak tahu apakah saya sudah mencapai titik dimana saya harus tahu bahwa saya harus berhenti, atau harus berkata challenge accepted. Saya rasa tahun depan saya bisa menjawab pertanyaan ini dengan pilihan yang saya ambil.

Satu hal lagi, Saya punya keinginan ideal untuk berkontribusi untuk negara ini melalui apa yang saya kuasai. Saya ingin memperbaiki birokrasi negara ini. Ya saya nggak bosan untuk mengatakan ini. Saya ingin berkontribusi terhadap negara ini. Saya tanamkan sedikit cita-cita naif itu ke dalam pikiran saya. Saya rasa saya bisa melakukannnya melalui apa yang sudah saya raih sampai detik ini. Keep chasing our dream, buddy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s