Papua Day 02 : 1 December Summit

Praktis, informasi 1 desember itu membuat saya urung pergi jauh-jauh dari kota. Kemenangan 4-0 Real Madrid atas Valladolid di pagi hari cukup menghibur, apalagi sang mega bintang nomor 2 dan termahal di dunia mencetak hat-trick dan 1 assist. Malam itu tidur sangat nyenyak di hotel.

Saya menginap di depan hotel yasmin. Letaknya di depan swalayan Gelael. Di lantai 2 swalayan Gelael terdapat franchise terkenal yakni, KFC. Kalau kita berjalan dari Gelael, di utara terdapat Taman Imbi Yos Sudarso. Di taman ini sebenarnya tempat mengenang korban peperangan jaman Belanda paska kemerdekaan dulu. Ingat pertempuran antara Letkol Yos Sudarso dan kapal tempur Belanda di perairan Arafuru? Di sinilah para pejuang itu diabadikan dalam sebuah patung tembaga Yos Sudarso. Ironis sekali patung tersebut disulap menjadi tempat makan dan tempat pacaran muda mudi.

Di Jayapura lagi musimnya buah matoa, konon kata Pak Marimin buah ini mirip kelengkeng namun dalam versi yang manis sekali. Beruntung sekali saat ini lagi musim berbuah. Tapi jangan senang dulu karena buah ini dijual sangat mahal. Sekilo hampir mencapai 80-90ribu.

Saya melihat buah yang dijajakan di emperan jalan, saya pikir itu buah matoa, rupanya itu buah pinang. Suatu “snack” atau lebih tepatnya seperti “sirih kunyah” yang suka dikonsumsi orang papua. Saya tanyakan ke pedagangnya. Buah pinang ini biasa dipakai untuk dikunyah. Khasiatnya? bibir dan lidah jadi merah. EPEN!

Apa maksudnya “biar merah” pikir saya waktu itu. hahaha.

“Biar kuat giginya” orang yang lain menambahkan.. wah ini mirip sirih yang suka dikunyah nenek buyut saya di Malang.

“Saya mau coba satu”

“Jangan, kalau pendatang baru biasanya langsung mabuk kalau coba ini”

Wah, ibu ini pengertian sekali. Saya pendatang baru? tahu dari mana? barangkali melihat kulit saya yang putih :p

Ibu penjual pinang ini berkerudung. Jadi jangan heran, bahwa agama di provinsi ini cukup berimbang penduduknya. Mayoritas dari mereka beragama kristen dan Islam 50:50. Kaum muslimnya saya pikir hanya dari golongan transmigran Toraja maupun Jawa, tapi ternyata penduduk aslinya pun banyak yang Islam. Pak Marimin bahkan sempat cerita kalau penduduk Kumare di Wamena (puncak Jaya) Islamnya cukup kuat.

Kembali ke emperan jalan, ada persepsi menggelikan waktu pertama kali jalan malam-malam di ibukota papua itu. Saya melihat seorang anak muda membeli sebungkus plastik berisi bubuk putih. DAMN. ‘Mereka menjual heroin di tempat seterbuka ini? Gila’

Pedagang pinang di emperan jalan jayapura

Pedagang pinang di emperan jalan jayapura

Untungnya persepsi itu luntur setelah bertemu dengan ibu penjual pinang berkerudung tadi. Saya dijelaskan bahwa bubuk tersebut adalah kapur, yang mana membuat pinang menjadi lebih ‘hot’. Selain mulut dan lidah merah, gigi kuat, lidah juga terbakar dengan adanya kapur bubuk.

Hati-hati dengan persepsi gan, that’s not heroin!

Hari ini saya ke pangkalan laut TNI AL. Tempatnya cukup sejuk dan pemandangannya pun indah. Tempat ini menampakkan teluk Youtefa, teluk yang berbatasan langsung dengan samudera pasifik. Di ujung jauh tampak sebuah patung salib besar, yang nampaknya di desain sedemikian rupa seperti patung-patung terkemuka seperti yang ada di Rio de Janeiro. Kalau malam patung itu menyala terang di samping tulisan Jayapura di atas bukit. Kalau ini bukan 1 Desember, saya ingin sekali mendaki ke bukit Jayapura itu. Konon kata tukang taksi, di sana tidak ada transportasi harus jalan mendaki hingga setengah hari. I don’t mind actually, but it’s 1 December. Poor me.

Teluk Youtefa, Jayapura

Teluk Youtefa, Jayapura

Oh, iya, jangan heran dengan taksi di sini. Ada taksi, tapi taksi yang saya maksud adalah angkot. Di sini angkot disebutnya dengan taksi. lol. Pak Marimin sempat mewanti-wanti saya agar tidak naik taksi. Kenapa? bau angkutan ini katanya bisa bikin muntah. Orang papua sini konon tidak peduli dengan bau-bau tersebut. Kalau kata senior di Telkom yang pernah tinggal 7 tahun di sini bilang bahwa bau itu dikarenakan mereka suka makan makanan dari Sagu yang entah mengapa membuat tubuh mereka jadi bau yang aneh.

Tapi saya nekat naik taksi tersebut dari Mal Jayapura ke hotel. Overstatement, saya tidak mencium bau tersebut. Bisa jadi karena ini taksi dalam kota sehingga tidak terlalu bau.

Makanan daerah? Saya sudah berkeliling kota untuk mencari papeda, makanan khas papua. Orang bukan asli papua bilang, deskripsi yang tepat untuk papeda adalah “Makan Lem”. Bayangkan saja makan lem kanji, mereka bilang. Semakin dilarang semakin kepingin. Kita lihat dalam beberapa hari ke depan apakah saya bisa menyempatkan diri makan Papeda.

Oh, iya, senior saya juga bilang jangan lupa mampir ke Horasko, tempat jual ikan. Noted. Matoa juga, noted. Penangkaran Hiu, noted. See you tomorrow

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s