Papua Day 01 : 8 hours instantaneous friendship

Saya udah janji ke diri sendiri bahwa petualangan ke Papua akan didokumentasikan. Untuk pertama kalinya sepatu saya akan menginjakkan dirinya ke tanah cendrawasih, tanah Papua. Ini adalah pengalaman baru yang menyenangkan.

Jumat, 23.30 saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dengan satu tas backpack 35L ditambah tas sepatu olahraga (niatnya sih jogging, just let’s see.. hohoho). Saya selalu kesal dengan mekanisme guarantee para penyedia jasa. Sebut saja travel bunga. Setiap penyedia jasa selalu menawarkan jaminan pengiriman/pengantaran dalam durasi waktu tertentu, tapi saya kesal karena mereka selalu memberikan margin aman agar jaminan itu terpenuhi. Lalu apa gunanya garansi?

Suatu franchise makanan delivery misalnya, menjanjikan akan memberi makanan tersebut gratis apabila dalam 30 menit sajian tidak tiba di tempat. Setiap kali kita memesan sajian tersebut, sang penerima order pasti akan melakukan bargain dengan sang customer. “Maaf pak, wilayah bapak ada di luar jangkauan kami, sehingga bapak tidak bisa menerima jaminan delivery 30 menit itu”

DAMN. jaraknya gak begitu jauh, tapi alasannya banyak sekali. Apa esensinya memberi jaminan delivery 30 menit kalau pada akhirnya mereka beralasan seperti itu. Sistemnya sudah bagus, tapi demi mencapai target mereka berkelit sedemikian rupa hingga esensi ada jaminan itu malah terabaikan.

Begitu pula dengan si travel bunga ini.

“Bandara keberangkatan jam berapa dengan maskapai apa?”

“Lion Air jam 5.30.”

“Wah maaf, pak, keberangkatan pertama travel kami tidak bisa menjamin bahwa bapak tidak akan terlambat ke pesawat, di luar Jaminan kami”

“Memangnya jaminannya akan sampai tepat waktu jam berapa?”

“5 jam”

Dalam hati, what the hell.. tengah malam ke jakarta cuma 2 jam mamen… Kenapa mereka melakukan jaminan flat rate. 5 jam untuk keberangkatan di pagi hari masuk akal, tapi untuk keberangkatan di petang hari? seriously?

Anyway akhirnya berangkatlah saya dengan tasnya ke Bandara Soetta. Seperti yang diduga, saya tiba di Soetta pukul 02.15 pagi. Setelah belanja oleh-oleh untuk penjemput saya di Papua nanti, makan pagi (literally pagi), akhirnya saya memutuskan untuk check-in 2 jam lebih awal. Beruntung saya melakukan itu karena et voila, saya divonis untuk meletakkan tas backpack saya ke bagasi. Alhasil tas backpack yang sudah terkemas dengan rapi (in my defense, tas tersebut rapi😀 ), akhirnya harus dibongkar juga. Barang-barang berharga saya keluarkan untuk dibawa ke kursi penumpang.

Perjalanan dari barat menuju timur akan terasa lebih lama ketimbang dari timur ke barat. Kenapa? karena bumi berputar dari barat ke timur (eh betul kan ya?). Kalau dihitung-hitung, perjalanan lebih lama 1 jam, selain itu ditambah perbedaan waktu antara WIB dan WIT akan menyebabkan pesawat tiba 3 jam lebih lama dengan waktu setempat.

Pesawat Lion Air JT-*** yang saya tumpangi transit sekali ke Ujung Pandang, Bandara Hasanuddin. Total waktu tempuh adalah 05.30 WIB s.d 15.40 WIT atau kira-kira 8 jam waktu normal.

Saya duduk di kursi 24C. Di ujung terdapat seorang beretnis timur, yang nantinya kukenal sebagai leonard. Dia orang Makassar. bekerja sebagai seorang dinas lapangan di Wamena. Beruntung sekali ketemu dengannya karena saya ada niatan ke Wamena (Kabupaten puncak Jaya berada, walaupun akibat 1 desember saya urung ke sana, I’ll tell that later). Sesaat pesawat akan berangkat, seorang cantik jelita menghampiri kami berdua dan duduk di ujung dekat jendela.

Radar saya sudah berbunyi ketika dia sedang antri duduk, tapi tak menyangka akan duduk di row yang sama dengan kami.

Pesawat lepas landas. Perjalanan Jakarta-Ujung Pandang memakan waktu kurang lebih 2 jam, yang artinya kami tiba di sana sekitar pukul 9 WITA.

Awalnya wanita itu menawarkan makanan kepada kami, namun perlahan tapi pasti kami bertiga saling berkomunikasi. Dimana yang lain sedang tidur, kami bertiga saling ngobrol dengan serunya. Seperti biasa strangers talk selalu memulai pembicaraan dengan tujuan perjalanan dan pekerjaan. Kebetulan kami bertiga memiliki tujuan Jayapura. Saya seorang pegawai BUMN, Leonard seorang PNS, dan dia seorang pramugari Trigana Air. Sebut saja Mawar.

Wew, paham sekarang kenapa wanita ini begitu cantik. Salah satu profesi yang sangat mengagumkan untuk seorang wanita di dalam kamus saya adalah seorang pramugari dan peneliti. Pramugari itu tinggi, sementara peneliti itu jenius. Smart and tall is sexy😀

Back to topic. Kita bertiga menjadi sangat akrab. Kita bercerita masing-masing dari kami. Usianya masih 18 tahun ternyata. Wew. Usia yang sangat muda sekali untuk seorang pramugari. Pramugari menurutnya punya batas usia untuk diperbolehkan melamar menjadi pramugari, yakni 23-25 tahun. Tapi usia pramugari yang diperbolehkan bisa mencapai 40 tahun.

Tentang Leonard. Pekerjaannya adalah melakukan survey-survey ke lapangan. Karena akhir bulan, maka ia segera pulang ke Wamena untuk tutup buku. Padahal teman-temannya masih vacation di Jakarta usai ada training di ibukota. Saya paham betul, Leonard yang duduk persis di sebelah Mawar (bukan nama yang sebenarnya) sedang tebar pesona ke pramugari muda ini. hehe, nice job.

Sisa jam perjalanan saya habiskan untuk tidur. Sayup-sayup saya masih terus mendengar Leonard menginterogasi wanita di tempat duduk 24A yang letaknya di tengah pesawat. Dari jendelanya tampak wing Lion Air yang terus menderu. Maklum saya tidak ikut perbincangan di sisa waktu menuju Ujung Pandang. Hampir 24 jam sebelumnya saya tidak tidur karena ada deadline kerjaan. Saya harus menyelesaikan kerjaan agar dinas (baca : vacation) ke Papua ini tidak diganggu kerjaan harian. Finally got nice deep sleep.

Hampir tiba di Hasanuddin perjalanan sedikit tidak smooth. Beberapa orang menyebarkan cerita menyeramkan tentang pesawat udara ini. Mulai dari Marissa yang menceritakan pengalamannya bahwa pesawat tiba-tiba kehilangan velocitynya dan langsung turun selama 5 menit secara mendadak. Atau Nicky yang menceritakan pendaratan yang tidak nyaman. Untung saja kami bertiga tetap asyik ngobrol, sehingga pendaratan pesawat di Hasanuddin yang sangat berguncang dan sudden lost height yang pesawat alami tidak terlalu diacuhkan.

Mawar dan Leonard sempat makan siang di Hasanuddin (Coto Makassar + Buras). Berhubung saya sering makan itu di depan Japati, saya memilih untuk tidak makan.

Me, Mawar (bukan nama sebenarnya), Onard. OMG, itu tas pinggangnya tolong dikondisikan

Me, Mawar (bukan nama sebenarnya), dan Onard. OMG, itu tas pinggangnya tolong dikondisikan

Perjalanan kembali dimulai dari Hasanuddin. Penumpang beragam sekali dari orang batak, orang papua, orang toraja, orang Jawa memenuhi kabin pesawat. Rambut orang papua sangat keriting. Yes, literally keriting. Paradigma saya tentang keriting berubah sudah. Mohon dibedakan antara wavy dan keriting.

Saya sudah bersiap untuk tidur lagi. Capek sekali karena kurang tidur. Tapi onard (panggilannya), terus saja mengobrol… seperti tak ada habisnya. Saya intip Mawar yang sebenarnya juga sedikit kelelahan. Tapi apa boleh buat. Saya pun juga nggak bisa tidur dibuatnya.

Onard (panggilannya) adalah seorang Toraja yang bekerja di Papua. Sementara Mawar adalah orang Sunda yang lagi kebagian kerja di Papua. Saya? orang yg kebetulan lagi mentraining di Papua.

Di sisa perjalanan kami mengobrol tentang bahasa daerah, kita bertukar istilah unik di daerah masing-masing. Mawar yang sudah keliling Indonesia lebih banyak tahu tentang istilah-istilah aneh. Epen (masalah buat lo?), Aga Kareba (apa kabar), Kurre Sumanga (terima kasih), iko, pante cie la gadang (***), J word, tula baga (***), etc. Finally kita tukeran pin BB dan berpisah di bandara Sentani.

Bandara Sentani letaknya di sebelah utara danau Sentani. Danau terbesar ke dua di Indonesia setelah danau Toba. Kalau kalian cek di google maps kalian akan paham betapa besarnya danau ini. Besar dan indah. Dataran Papua penuh kontur. Begitupula deskripsi danau Sentani dan ibukota Jayapura.

Screenshot_2013-12-01-12-11-17

Bandara Sentani Jayapura, tepat di sebelah utara Danau Sentani. Tampak begitu indah dari udara

Jayapura tampak seperti kota yang dipigura dengan bukit di sisi utara, barat, dan selatan. Sementara di sisi barat kota ini bersebelahan dengan Teluk Youtefa yang cukup asri (tumpahan minyak tanker tampak sedikit mengotori laut, tapi jauh lebih baik dari pelabuhan lain di pulau Jawa).

Saya dijemput Pak Marimin di Bandara. Hingga berita itu tiba di telinga saya :

(1) Mess Telkom lagi kehabisan air, sehingga saya harus menginap di Hotel.

(2) Tanggal 1 Desember setiap tahunnya adalah momen yang buruk bagi pengunjung Papua. Kenapa? Karena tanggal tersebut adalah hari (illegal) kemerdekaan Papua. OPM. Pada hari itu selalu saja ada pertikaian antara TNI dan oposisi. Saya melihat pasukan patroli sudah berjaga di beberapa pos.

Pak Marimin menceritakan berbagai kisahnya di Jayapura. Malam itu saya berkeliling Jayapura kota untuk mencari makan.

Say goodbye to Merauke or Wamena.

Epen

PS. Arsenal menang 0-3 lawan Cardiff. Crescet Concordia Arsenal!

4 pemikiran pada “Papua Day 01 : 8 hours instantaneous friendship

  1. Wow…mantap Ky. Sampai tukeran PIN BB.

    Saya juga paham betul, jejaka yang duduk di nomor 24C ini juga sedang tebar pesona ke pemuda pramugari muda yang duduk di sebelahnya.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s