Do what you love!

Saya baru baca bukunya Rene : Your job is not your career. Saya pikir pola pikir bang Rene cukup menarik untuk menggali sisi lain dari behaviour orang dalam bekerja. Buku tersebut banyak mengacu pada satu pemikiran filsuf terkemuka, Erich Fromm :

There’s two ways to be rich : Have more or Want Less

yang berimbas pada dua gaya hidup yang bisa kita jalani :

Gaya hidup pertama yang dimaksud oleh Erich adalah sebagai berikut :

Have enough > Do what you want > Be Happy

Faktanya kita tak akan pernah merasa cukup. Sebut saja gaya hidup kita semasa kuliah. Saya mencontohkan ketika saya kuliah dulu saya mematok biaya 1 porsi makan normal adalah dari 5000 sampai 15 ribu. Untuk makanan mewah misal 1 bulan-3 bulan sekali saya perbolehkan saya untuk ber me-time sendiri atau dengan teman-teman makan makanan dengan range 50-80ribuan.

Setelah saya lulus kuliah, punya penghasilan. gaya hidup berubah. Tidak cukup drastis, namun masih bisa kita amati. Standar pengeluaran berubah. Mungkin tidak berlaku untuk semua orang, tapi saya yakin sedikit banyak setelah lulus gaya hidup kalian akan berubah.

In fact, You’ll never have enough.

Erich justru menganjurkan pola gaya hidup seperti ini :

Be who you are > Do what you love > Have what you need

Passion. Mimpi. Be Happy. Ini yang sebenarnya pernah saya post waktu itu. Betapa sayangnya ketika kita melakukan sesuatu bukan karena kita suka, tapi karena sudah menjadi rutinitas. Life is too short to be spent that way.

Memang sih dalam segitiga karir yang disampaikan Rene pasti ada keseimbangan antara “Kualitas Me-Time (Waktu Luang)” – “Kompensasi(Salary, material, financial, etc)” – “Kepuasan kerja”. Jadi pilihlah satu hal yang menjadi prioritas Anda. Apa yang menjadi passion Anda.

Well, demikian isi buku ini menurut kepala saya.

Tapi seperti buku-buku career/motivational speaker pada umumnya mereka tidak memberikan deskripsi detail atas konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapi terhadap kontra aksi yang kita lakukan. Wajar memang, untuk tidak menganjurkan berpikir negatif. Tapi ada baiknya kita tetap memiliki prinsip atau idealisme — sehingga segala info yang masuk ke kepala kita dapat disesuaikan dengan kebutuhan semangat kita. Paling tidak kita telah menambah wawasan pola pikir dari berbagai orang-orang bijak.

Worry less, do more

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s