Ihsan

Ada notes menarik dari ceramah kantor hari ini, tentang ihsan. Sebenarnya tema dari ceramah ustad ini 4 hari kebelakang adalah bagaimana menyambut Lailatul Qadr. Pak ustad lebih menekankan pada “sebenarnya kita yang butuh”, bukan Allah yang butuh. Kita harus mulai menghargai diri. Seperti harga iman yang sebenarnya tidak terhitung jumlahnya ketimbang seluruh harta apapun di dunia ini. Harga tak ternilai lainnya adalah waktu, umur, kesehatan, dan ilmu.

Pak ustad tidak banyak bercerita keutamaan Lailatul Qadr, sebatas menyatakan bahwa Lailatul Qadr setara dengan malam 1000 bulan atau setara dengan kurang lebih 83 tahun.

Terkait dengan Lailatul Qadr ini, sebenarnya ada kaitannya dengan Ihsan. Ihsan adalah soal rasa. Perasaan yang kuat untuk mengagungkan Allah. Ini digambarkan oleh keutamaan Umar Bin Khattab yang menurut hadits ditakuti oleh Iblis. Konon dikisahkan bahwa kalau Umar hendak shalat, ketika berpapasan dengan iblis, iblislah yang mengalah mencari jalan yang lain. Sebegitu kuatnya penggambaran ihsan pada diri Umar. Adapula kisah tentang sahabat nabi yang terkena panah perang di pahanya yang minta dicabut saat Shalat. Tidak ada yang dirasakan oleh sahabat tersebut hingga ia bertanya “kapan panah tersebut dicabut?” Subhanallah.

Sebenarnya seperti apa itu ihsan. Analogi yang disampaikan cukup menarik.

Pertama analogi tentang durian. Bagaimana rasa durian? sangat sulit mendeskripsikan bagaimana rasa durian kecuali dengan mencobanya. Ihsan pun demikian. Ihsan adalah tentang rasa.

Analagi kedua adalah tentang kisah pak ustad yang ketika kuliah di Makkah pernah menjadi guide seorang paspampres. Oleh ustad ditanya, adakah cerita yang menarik ketika mengawal presiden. Presiden yang menjabat saat itu adalah almarhum Soeharto. Kisahnya seperti berikut.

Suatu ketika sang presiden ingin melakukan survey seperti apa desa yang ideal. Oleh karena itu beliau menyamar menjadi “rakyat biasa” dengan para ajudannya memposisikan diri agak jauh dari sang presiden. Alhasil, semua orang tak menyadari kehadirannya. “Pak, dimana rumah pak lurah” tanyanya. Dijawab dengan arahan menuju rumah sang lurah.

Kemudian sang lurah menyambut tamu dengan ketusnya, “Iya, siapa Bapak?”

“Saya mau mengobrol sebentar”

“Oya, ada apa?”

“Boleh saya duduk, iya silakan duduk”. Tak dijamu minum, tak dipersilakan duduk, sang lurah menjamu orang tersebut dengan kurang sopan. Gaya duduk pak lurahnya pun seenaknya dengan kaki disila.

Merasa sedikit kesal dengan perlakuan pak lurah, sang presiden pun mengerjainya. “Pak itu di sana foto siapa”, seraya presiden menunjuk foto dirinya bersama foto pancasila dan foto wakil presiden di kala itu.

Dengan angkuhnya dijawab, “Bapak masa nggak tahu itu siapa, itu presiden RI kita”, dengan agak sombong ia sedikit menghina, “masa gitu aja nggak tahu”

Sedetik dua detik kemudian pak lurah merasakan ada yang salah. Ia mulai mengenal siapa wajah dibalik kostum rakyat biasa di depannya. “Anu, Bapak, Presiden Soeharto…?”

“BIII…!!! keluarin minumannya, semua kuenya juga.. aduh maaf pak kalau saya tadi lancang” rumah lurah itu pun tiba-tiba menjadi sangat sibuk sekali. Perlakuan sang lurah pun berubah 360 derajat.

Seperti itu analogi yang digambarkan oleh sang ustad. Ketika kita tidak mengetahui siapa sang pencipta, kita berlaku seenaknya dan semaunya sendiri, padahal kalau kita tahu siapa sang pencipta kita barulah tunduk dan patuh padanya. Karena kita tidak tahu.

Analogi terakhir dari pak ustad adalah tentang jatuh cinta. Ketika kita sedang jatuh cinta atau suka terhadap seseorang kita pasti akan selalu membayangkannya. Entah itu melihat meja, kursi, ataupun sapi, yang kita bayangkan pasti si dia. Begitulah yang seharusnya kita rasakan kepada Allah SWT. Allah memberikan bantuan imajinasi tentang nikmat yang akan kita dapatkan kelak nanti seperti segala sesuatu yang dijanjikan di surga.

Sudah sepantasnya kita selalu bergetar ketika kita harus berhadapan kepada-Nya. Mari kita beribadah karena kita mau melakukannya, bukan karena terpaksa, bukan karena iming-iming-Nya, tapi karena ingin selalu dekat dengan-Nya

#Penulis juga manusia tak sempurna yang ingin terus memperbaiki diri untuk menjadi seorang yang ihsan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s