[Post Review] Gede 2.0

My previous gede hiking is posted here. And the plan for this hike trip is posted here.

Berangkat sejak pukul 6 pagi. Agak diluar dugaan kami harus memulai pendakian dari pukul 4 sore. Cara sama. Experience yang berbeda. Seperti yang sudah saya duga, saya lebih siap dengan pendakian kaki kali ini. I’ve geared up with military boot, short, dry shirt, and light backpack. Saya juga sudah latihan lari sejak lama, dan tracking ke Lembang demi hiking Gede kali ini.

Satu yang belum saya siapkan : hiking dengan udara tipis (oksigen yang relatif tipis di malam hari di tengah hutan) dan udara malam lembab Gede yang basah dan dingin. Dua jam pertama pendakian saya cuma ngos-ngosan tanpa ada kebutuhan mendesak untuk istirahat. I got the rythm right… yeah, at least until the sun went down. Gejala awal muncul adalah nafas kian berat. Gejala kedua yang muncul adalah lutut kanan bermasalah. I had no rythm anymore. Semakin banyak berhenti. Semakin banyak istirahat. Gejala ketiga adalah mulai batuk-batuk basah dan pilek. Mulut nggak ada filternya lagi untung dikasih masker sama Kun. Well, kata orang di pos Cibodas enak daki malam hari via Gunung Putri. WTH, nggak lagi deh daki malam hari.

Sampailah di Surya Kencana sekitar pukul 8.30. Overall kita nggak ada masalah pendakian. Sempat nyasar sekali karena memang gelap, tapi kita cukup ingat rutenya. Karena pendakian Gede both Gunung Putri dan Cibodas sebenarnya relatif gampang. Di Surken kita segera mencari tempat memasang tenda. Langit cerah. Langit tampak indah seperti biasanya di pelataran Surya Kencana beratapkan langit planetarium alamiah.

Usai memasang tenda, kita fail masak = fail makan malam. Damn. Jam 12 malam. Gomen nasai, kompor mini Yosanya bermasalah.

Evolusi Neo – Kera – Neo Erektus

Besoknya, nggak seperti pendakian sebelumnya, most of us including me doing Mager. Yeah, males gerak, kedinginan, etc. Cuma Kun sama Dhito yang nampaknya masih bersemangat buat summit attack mengejar sunrise. Namun apadaya, waktu berlalu. Akhirnya kita menikmati pagi di Surken. Again, New Experience.

Persiapan makan pagi. Untungnya tenda sebelah baik hati meminjamkan kompor gasnya.

Tentang Surken, masih penasaran seperti apa bunga edel weiss itu. Apakah pohon perdu itu yang dimaksud dengan Edel Weiss? Tapi kalau lihat di google, ternyata pohon perdu yang berkeliaran di Gunung Gede itu adalah Edelweiss. Bukan tipe yang muncul di Wikipedia. Tapi masih Edelweiss. Surken memang salah satu tempat terluas ladang Edelweiss di Indonesia, selain Gunung Rinjani, Gunung Papandayan, serta tetangga Gunung Gede, Gunung Pangrango. Konon dari Pangrango bunganya lebih rimbun dan besar.

Pohon perdu ini ternyata edelweiss. Keren kalau gitu bisa ada di sepanjang padang Surya Kencana. Jangan dicabut ya, tanaman ini hampir punah!

“Edelweiss.. Edelweiss.. Every morning you greet me. Small and white, clean and bright. You look happy to meet me..”

Kita melanjutkan perjalanan ke puncak. Seperti biasa foto default di pelat “Puncak Gede 2958 mdpl”, lalu foto default lain berlatar kawah Gede. Done! Setelah berfoto beberapa shot lagi, dan makan pop mie dan minum teh/kopi, kita lanjut turun sekitar pukul 10.00. Target kita tiba di pos Cibodas pukul 4 sore.

Tak seperti biasanya kita turun ke turunan setan via turunan itu. Benar-benar terjal. Mungkin kalau naik lewat jalur ini boleh dibilang sebagai climbing, bukan hiking lagi. Dahulu kita melalui jalan memutar. Via jalur alternatif. Kali ini kita mencobanya. New Experience.

Turunan Setan – Kandang Badak – Kandang Batu – Air Panas – Persimpangan air terjun Cibeureum- Pos Cibodas. Done!

Let’s go hiking, next time!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s