Party Power vs People Power

Kalau bicara tentang pilkada DKI Jakarta putaran kedua tahun 2012 ini antara Pak ‘kumis’ Foke dengan Bapak ‘baju kota-kotak’ Jokowi rasanya seru sekali. Ini satu dari sekian banyak pilkada yang perseteruannya penuh dengan sisi intrik dan politik. Seingat saya pilkada DKI kali ini yang pertama kalinya dipilih langsung oleh rakyat, cmiiw.

Terlepas dari berbagai isu yang dilontarkan kedua kubu, terutama isu SARA, saya ingin membahas persaingan di belakang layar mereka. Saya adalah seorang pihak ketiga yang tidak punya kekuatan hak pilih namun punya bias ke salah satu pihak, tapi saya mencoba untuk tetap netral dalam pembahasan pilkada ini.

Party Power

Kubu Foke boleh kita anggap sebagai kekuatan calon gubernur yang memiliki kekuatan politik sangat kental (didukung hampir 60% lebih partai politik, more or less, cmiiw). Walaupun pihak lawan juga diusung oleh dua buah partai politik, tapi kalau mau bicara matematis dukungan kekuatan partai sudah semestinya menang dalam putaran kedua pilkada DKI ini. Partai kuning, biru, hijau, hitam, dan beraneka ragam warna politik melakukan sejumlah kontrak politik dengan kubu ini. Jika sistem politik berjalan baik dan sesuai dengan tujuannya — yang tertuang dalam partai — harusnya pendukung partai mengikuti apa arahan dari partai.

People Power

Out of the odds, istilah “kekuatan ada di tangan rakyat” tampak tertuang dari calon dari kubu Jokowi. Saya melihat confidence calon ini dibandingkan calon lainnya datang dari charm dan citra Jokowi yang bisa menarik simpati dari masyarakat DKI. Melihat situasi di DKI saat ini kehadiran Jokowi hampir mirip dengan kehadiran SBY di perebutan kursi kepresidenan. SBY datang dengan charm, membawa harapan wajah baru yang segar untuk memperbaiki negara ini. Begitu pula Jokowi yang punya trade record baik dalam masa baktinya semasa menjabat sebagai walikota Solo. Ia datang dengan segenap pikiran baru.

Walaupun saya bilang kubu Jokowi lebih berupa People Power, tapi kubu ini juga tetap memiliki dukungan partai, yang kalau dibandingkan dengan Foke dapat dikatakan sebagai kubu minoritas.

Analisis hasil pilkada

Seandainya party power menang dalam pilkada kali ini, secara matematis sistem demokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan benar. Orang partai kan orang yang dipilih oleh rakyat. HARUSNYA.

Seandainya people power menang dalam pilkada kali ini, saya punya anggapan bahwa rakyat TIDAK lagi sepenuhnya PERCAYA dengan sistem politik di Indonesia.

Jika party power menang mereka akan dengan mudah menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya jika people power menang, mereka akan menghadapi tantangan berat bagaimana membuat kepentingan para legislatif di DPRD mau bekerja sama dengan kepentingan eksekutif yang dalam hal ini, gubernur dan pemerintahannya.

Tentang Demokrasi di Indonesia

Kalau sistem politik demokratis berjalan benar harusnya alurnya seperti ini :

  1. Rakyat punya pikiran/visi/keinginan ->
  2. Rakyat mendukung  atau bergabung menjadi kader partai yang punya visi sepaham->
  3. Partai mendapatkan wakil di legislatif (bagian negara yang punya wewenang membuat keputusan) berdasarkan banyaknya rakyat yang mendukung ->
  4. Keputusan akhir legislatif diambil berdasarkan keputusan mayoritas keinginan wakil partai ->
  5. Keputusan akhir memenuhi keinginan rakyat bisa juga tidak ->
  6. Kembali ke nomor 1

Dalam sistem ini ada banyak sekali loophole yang bisa membuat sistem tidak berjalan dengan baik. Saya menyoroti keberagaman dan mayoritas sebagai inti biang kerok loophole ini. Bukan berarti dua hal itu penyebab gagalnya demokrasi, tapi saya yakin demokrasi justru diambil sebagai jalan tengah keberagaman dengan cara menilai mayoritas sebagai yang benar.

Loopholenya dimana?

Keinginan setiap rakyat pastinya saling beririsan satu sama lain, tapi juga banyak yang tidak berhubungan sama lain. Ketika keinginan mayoritas terpenuhi, minoritas biasanya tidak terpenuhi. Persoalannya di sini terkadang mayoritas tidak selalu benar/minoritas tidak selalu salah. Hal ini memberikan kesan bahwa demokrasi adalah tentang suara mayoritas. Ketika suara mayoritas sudah diduduki oleh orang-orang yang tidak sepaham dengan kita, maka keinginan kita tidak akan lagi terpuaskan.

Imbasnya menurut saya, orang-orang yang tidak terpuaskan yang berupa golongan minoritas ini akan merasa tidak percaya dengan sistem politik. Jangan kira Anda bukan golongan minoritas. Yang saya sebut dengan golongan minoritas di sini adalah orang-orang yang pernah tidak terpuaskan dalam suatu keputusan. Mayoritas dan minoritas di sini adalah dalam konteks kasus per kasus, bukan rakyat secara umum. Masing-masing dari kita pasti pernah menjadi golongan mayoritas, pernah juga menjadi golongan minoritas.

No system created by human is perfect, but we care, we want to care. Makanya ada yang namanya toleransi dalam sistem demokrasi. Ada yang namanya win-win solution. Kalaupun keputusan mayoritas dipilih, harusnya yang menang memberikan kompensasi kepada minoritas. TEXTBOOK nya sih seperti itu. Naif. Ya Naif. Dalam opini saya sistem telah membangun kita untuk terus menjaga kesejahteraan golongan mayoritas. Win-win solution bisa terlaksana kalau orang-orang yang terlibat di dalamnya nggak egois dan mau berbagi.

Poin saya dalam bagian terakhir post ini adalah bahwa saya pribadi nggak cukup percaya dengan sistem politik saat ini. Tapi saya nggak  mau apatis. Nggak bisa sistem tiba-tiba abrakadabra jadi gitu aja. Sistem mengalami perbaikan atau justru kemunduran. Sistem demokrasi bisa baik kalau orang-orang di dalamnya tepat. Saya sendiri malu karena saya saat ini hanya cuma bisa ikut pemilu untuk minimal memberikan suara saya dan berpartisipasi dalam sistem. Saya hanya bisa mencoba merubah lingkungan mulai dari diri sendiri.

Inti dari post ini sendiri adalah penilaian saya tentang pilkada DKI putaran kedua yang mencerminkan politik di Indonesia. Apa makna partai, seberapa percaya masyarakat kepada sistem politik, dan dampak jika salah satu kekuatan memenangi pilkada ini.

PS. Dari hasil quick count sejauh ini People Power unggul tipis atas Party Power. What will happen to Jakarta next 5 years? Enough with my serious talk, what is your thought?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s