[Backpack] Kiluan Trip Execution

Akhirnya setelah terakhir kali backpack adalah hiking ke Gunung Gede akhir April silam, group backpack kami mengadakan backpack yang relatif ramai, bertujuh! Trip kali ini punya destinasi ke daerah Kiluan di Propinsi Lampung.

Prelude I – Persiapannya?

Dunno, karena destinasi kita adalah melihat sekawanan lumba-lumba di laut lepas, oleh karena itu gue gak punya preparasi khusus untuk trip ini. Just ordinary clothes, towel, and bath pack. Sialnya, gw harus memakai tas olahraga yang gede karena nggak ada tas yang relatif besar untuk memuat sejumlah baju. Thanks to broken zipper!

Money budget estimate : around 400k IDR/orang

Time budget estimate : Start dari Jakarta berangkat jumat malam, sampai minggu sore, sampai Jakarta kembali kemungkinan senin petang/pagi

Prelude II – Plan akomodasinya?

Berangkat rencananya akan menggunakan kendaraan umum  dari Kampung Rambutan-Merak-Bakauheni-Terminal Rajabasa (Bdr Lampung) sendiri-sendiri dengan meeting point entah itu di Bandar Lampung atau di Merak. Kemudian muncul usul lain untuk naik Bis DAMRI Stasiun Gambir – Terminal Rajabasa (Bdr Lampung). Berikut diskusinya :

Neo : “Bro,mbil mulai sabtu pagi kan?
Dri jakarta mending kita brangkat naek damri gambir-bndar lampung, pling malam jm 10, nyampe subuh lah. Jdi kita ngga perlu mikirin nginap.
Jdi bsa bareng pula ksananya.
Gmna?”

Abdul : “kalo ga perlu mikirin nginep sih aku oke2 saja. paling kalo pake damri aku agak keberatan di ongkos nya yang lumayan beda jauh dibanding kalo kita ngecer aja (kp rambutan-merak, merak bakau, bakau-rajabasa(bandar lampung) ),
bakau-bandar lampung 24 jam jg kok, bisa via bis atau travel,
kalo bis ekonomi sekitar17rb/20rb, kalo travel sekitar 25rb/30rb, dan kita bisa minta jemput ke tukang rentalnya di terminal rajabasa.
tarif damri katanya 140rb/160rb, kalo ngeteng dari kp rambutan ke rajabasa bisa kira2 60rb (kalau bakau-bandar lampung nya bis) dan 70rb (kalau di bakau nya pake travel)”

Pada akhirnya diputuskan rombongan 7 orang kami (yang awalnya ber-14) untuk berpisah menjadi 2 rombongan dengan alasan waktu/istirahat (naik bus Damri dari Gambir) vs ongkos(naik angkutan eceran). Rombongan yang ikut yaitu : Adi, Dhito, Kamal, Khairul, Lutfi, Neo, Rizky.

Sementara rental mobil kami menyewa di CV Samania yang infonya di dapat dari twitter @BandarLampung : sewamobillampung.com. Untuk trip ke Kiluan rental mobil agak susah, apalagi kalau mau sewa tanpa sopir. Kebanyakan tempat rental malah menolak karena medan ke sana sangat jelek. Untungnya muncul dua opsi tambahan di detik akhir yang salah satunya adalah CV Samania. Sekitar 400k IDR termasuk Supir.

Untuk tempat penginapan belum di plan sama sekali saat berangkat. Bahkan apa saja yang ingin dilakukan di Lampung kita sama sekali nggak begitu tahu. Just did it spontaneously!

Departure

Gw termasuk rombongan Damri bersama Dhito, Kamal, Khairul, Lutfi, dan Neo. Rombongan yang terpisah cuma Adi yang prefer untuk naik kendaraan eceran ke Bandar Lampung.

Destinasi Bis Damri dari Stasiun Gambir ada 2 : Bandara Soekarno Hatta, dan Bandar Lampung. Cukup heran rasanya mengetahui bahwa dari sekian banyak destinasi ada Terminal Rajabasa, Bandar Lampung!

Untuk kelas Bisnis kena charge 125K IDR. AC, no-toilet, no-TV, snack, bantal/selimut, tempat relatif sempit

Kelas Eksekutif kena charge 150K IDR. AC, toilet, smoking area, TV, snack, bantal/selimut lebih tebal, tempat sangat longgar untuk kita selonjoran

22.00 # Kami ber-6 ambil kelas bisnis. Berangkat jam 22.00.

01.00, Sabtu # Bus akhirnya naik ke atas kapal ferry(di Pelabuhan Merak)

04.00 # Kapal tiba di Pelabuhan Bakauheni, bus kembali melaju ke Bandar Lampung

05.50 #  Bus tiba juga di Terminal Rajabasa, Bandar Lampung.

Day 01, Saturday

#07.00

Kami kembali berkumpul + Adi di Terminal Rajabasa. Mobil rental telah menunggu sejak pagi di sini. Setelah sarapan di depan Museum Lampung kami memulai perjalanan menuju Kiluan.

#10.00

Destinasi pertama adalah Pantai Klara. Masuk ke tempat ini kena charge 5k IDR per orang. Waktu itu gw nggak expect banyak dari tempat ini, “just another beach”. Lalu kami ditawari untuk bermain di pulau yang tampak dari seberang pantai. Kami dikenai charge 15k per orang untuk menyebrangi ke Pulau Kelagian.

Ini pertama kalinya gue lihat pulau dengan pasir sebagus ini. I never know such sand exist!

Di sini kami hanya having fun dengan pasir unik yang putih bersih tanpa kerikil. Tidak terlalu ringan, tidak terlalu berat. Beberapa dari kami termasuk gw mencoba sand bath. Komposisi pasirnya cukup nyaman untuk dijadikan timbunan badan kami. Tempatnya juga asyik untuk berenang. Cukup dangkal dalam beberapa ratus meter dari tepi pantai. Lokasi pulau yang berada di selat dan di dalam teluk Semangka membuat air laut tidak terlalu bergelombang.

#12.00

Kami selesai bermain dan kembali ke Pantai Klara (sama sekali nggak ngapa-ngapain di sini, selain kecuali mandi). Kami melanjutkan perjalanan. Sempat Shalat di Masjid (di daerah menuju Kiluan nuansa Balinya sangat kental sehingga kalau terlalu jauh dari Bandar Lampung akan sulit menemukan tempat shalat) lalu kami makan siang di RM Padang Ampera sekitar 13.00.

Perjalanan selanjutnya mulai jelek. Gw sengaja pengen duduk di belakang supaya pulangnya bisa dapat giliran duduk di tengah :p

Dan… jalannya makjang… bikin susah tidur. But I barely made it! (to sleep of course)

Di perjalanan kami sempat berhenti sejenak karena satu-satunya jalanyang akan kami lewati terhalang oleh truk milik PLN yang mengangkut tiang penyangga listrik gagal melewati jalan cekung. Penduduk sekitar ikut menonton kejadian ini. Beberapa traveler lain terpaksa menunggu truk bisa lewat termasuk kami.

#16.00

Kami tiba juga di salah satu tempat penginapan di Teluk Kiluan. Entah itu satu-satunya tempat menginap di Kiluan atau bukan, yang jelas tempat yang kami tempati itu jadi satu-satunya bangunan yang mirip dengan penginapan. Opsi lain menginap di sini tentunya adalah homestay. Terlambat sedikit mungkin kami tidak akan mendapatkan tempat itu. Tempatnya bersih dan rapi. 400k IDR per hari. Listrik didapat dari genset/diesel. Maklum listrik katanya sih belum masuk sini. Contact : Pak Amin Kiluan, 081272283879

Jangan harap kalian dapat sinyal handphone di sini (XL, Simpati, As no network found!) . Tapi jangan khawatir karena kalau pagi bisa dapat sinyal at least 1 bar kalau beruntung. Bahkan menurut saksi mata ada orang yang nelpon di pulau kiluan. Bahkan ada Major di sini (foursquare).

Kami melakukan tracking sekeliling teluk sampai 18.00. Agenda sore ini hanya istirahat saja. Bersama dengan kami ada 1 keluarga chinese, dan rombongan besar dari Jakarta (Sekitar 50 orang). Ternyata rombongan besar sudah di sini sejak kemarin (malam sabtu).

Tidak ada Adzan berkumandang di sini. Sepi. Gw memaklumi berhubung jalan sebelum ke penginapan terdapat banyak tempat peribadatan orang Hindu di sepanjang jalan. Masjid baru kami temui jika menempuh setengah s.d satu jam perjalanan dengan mobil.

Untuk makan malam kami memesan dari ibu/bapak penginapan.

Day 02, Sunday

Kami bangun shubuh. Setelah melakukan berbagai persiapan termasuk makan pagi yang juga dipesan ke ibu/bapak penginapan akhirnya kami siap untuk berangkat melihat lumba-lumba. Come and get the doplhin.

#07.00

Kami naik kapal yang disebut dengan kapal Jukung. Seperti kapal canoe tapi dengan motor dan kayu penyeimbang di kiri dan kanannya. Dan kami naik kapal ini untuk ke laut lepas. WEW. Walaupun lokasinya berada di teluk, tapi fakta bahwa laut terhubung dengan Samudra Hindia yang punya gelombang besar menjadikan hunting lumba-lumba ini sedikit mengerikan.

Kami dibagi menjadi 2 regu :

Jukung 01 : Neo, Kamal, Lutfi, Dhito

Jukung 02 : Rizky, Khairul, Adi

Masing-masing jukung dikendalikan oleh warga setempat yang duduk dibelakang kami. Kami memakai life vest untuk keamanan. Kami menyusuri laut meninggalkan pantai. Tak pernah membayangkan sebelumnya naik kapal seringkih ini untuk menembus ombak yang cukup bergelombang. Ombaknya besar tapi nggak sampai menghasilkan ombak yang tinggi. Tetap saja di kepala gw terlintas berbagai skenario bagaimana cara ombak membalikkan jukung ini.

Tapi jukung ringkih yang didorong oleh baling-baling kecil ini ternyata sangat stabil untuk mengatasi laut di teluk ini. Baling-baling kecil dihasilkan dari energi pembakaran diesel yang diletakkan di tengah perahu. Dari mesin tersebutlah baling-baling itu bisa mendorong jukung kecil nan ringkih ini.

Setengah jam pertama pikiran gw hanya tertuang pada mekanisme perahu jukung ini. Gw sekarang cukup dapat membayangkan bagaimana penderitaan Pi dalam novel Life of Pi yang sedang gw baca. Bedanya dengan Pi mungkin bersama gw tidak ada harimau, hyena, dan zebra di atas kapal ini. Hahaha.

maybe #8.00

Mungkin sekarang sudah jam 8? Mana lumba-lumbanya?

Me : “Mas, emang lumba-lumbanya keluar kalau pagi-pagi ya”

JD : “Sebenarnya mau pagi atau sore lumba-lumbanya ada sih, cuma kalau sore nanti takutnya keburu gelap. Kalau pagi nyarinya gampang”

Me : “Wah udah ramai nih, Kita terlalu kesiangan ya berangkatnya?”

JD : “Nggak sih, yang penting pinter-pinter nyari lumba-lumbanya”

Nyari? Bayangan gw dari foto referensi blog yang gw baca lumba-lumbanya keluar dari laut lalu berkumpul bersama. Wadehel ieu mah!

Kami sudah jauh di tengah teluk. tapi tanda-tanda lumba-lumba belum ada. Gw sekali melihat ada sesuatu yang melompat dari air.

Gw sempat melihat satu lumba-lumba melompat dari air, tapi yang lain nggak melihatnya. Wajar saja agak rancu melihat lumba-lumba dengan gelombang laut yang warnanya juga abu-abu. Selain itu cahaya matahari yang mulai terik membuat perburuan lumba-lumba ini menjadi seru. Well, well.. rupanya yang seru adalah hunting mamalia ini.

Perahu-perahu jukung saling berputar, bermaneuver, untuk jeli melihat keberadaan lumba-lumba. Gw sudah nggak peduli dengan bayangan imajiner di kepala gw bahwa lumba-lumba Kiluan ini nantinya akan dengan sukarela muncul di sebelah kita mempertontonkan kebolehannya (Just Like a CIRCUS!)

Beberapa dari kami mulai melihat lumba-lumba bermunculan for real. Sekalinya muncul lumba-lumba itu akan muncul ke permukaan secara berombongan. Kami mulai melihat kembali lumba-lumba dalam formasi 3 lumba-lumba berjejeran melintasi di depan kami. Yes, muncul dan hilang. It’s merely a hunting, guys, without gun of course.

Entah kenapa setiap kali lumba-lumba muncul selalu dalam formasi tertentu. Itu mungkin sebabnya lumba-lumba disebut secara jamak? Lumba dan Lumba. Karena orang pertama yang menemukan Lumba selalu dalam formasi lebih dari satu lumba? Just kidding.

Seketika sang JD melihat lumba-lumba dari kejauhan di depan. Secara logika agak susah mengejar lumba-lumba yang notabene ini adalah rumahnya. Gw nggak berharap banyak mengejar lumba-lumba yang sedang dikejar oleh beberapa paparazzi lainnya. Gw memilih untuk melihat lumba-lumba lain.

HUNTING TIPS : Keep looking other Jukung Ship. If there are at least two people that point at something. There’s big possibility that that ship has found the dolphins!

Saat itu disaat sang JD memilih untuk mengejar rombongan lumba-lumba di depan, gw memilih melihat kapal lain. Tidak sia-sia gw melakukan itu karena di saat bersamaan gw melihat kapal di belakang kiri kami ada rombongan lumba-lumba yang lewat di kiri mereka.  Sontak gw berteriak ke JD untuk berbelok ke kiri walaupun kita sedang mengejar rombongan yang ada di depan.

Agak kecewa karena setelah belok gw nggak nemu mereka lagi. Tapi gw yakin at least ada 3 lumba-lumba yang secara logika menuju ke arah kami. Gw inget kata-kata si JD.

“Wah padahal tadi di depan juga ada”

Nggak perlu waktu lama untuk membuktikan kata-kata ane. Tiga lumba-lumba muncul dalam jarak yang cukup dekat. Kali ini kami mengejarnya.

GOOD JOB AND THANKS FOR MY CAMERA. Battery Exhausted.

Tapi lumba-lumba itu terlalu cepat untuk dikejar. Sekali lagi mereka hilang. Tapi nggak butuh waktu lama untuk melihat rombongan lumba yang muncul kali ini dari sisi kanan. Kali ini adalah rombongan yang lebih banyak. Photography memory gw menghitung mungkin ada sekitar 6 ekor lumba-lumba dalam formasi tertentu melewati di samping kami. Mereka hilang dalam lautan Hindia yang luas ini.

Setelah itu entah karena kami (kapal kami dan semua kapal jukung lain) sudah keburu puas atau karena memang matahari sudah terlalu terik kami mengakhiri perburuan lumba-lumba. Kami kembali menuju ke arah Kiluan. Ombak sudah bukan cerita lagi.

Ada dua korban dari masing-masing kapal jukung kami yang mabuk laut. Ombaknya memang membuat perut mual terutama bagi mereka yang duduk relatif paling depan. (Maybe the same way how Kora-Kora dufan make our stomach shook).

maybe #10.00

Ada cerita menarik dari sang JD. Waktu itu gw iseng tanya apa maksud dari Kiluan ke JD. Entah benar atau hanya sekedar konspirasi yang jelas sumber cerita ini berasal dari salah satu sang pelayar Jukung kami.

History of Kiluan

Kiluan sebenarnya merupakan suatu tempat keramat. Kiluan memiliki arti permintaan.

Suatu waktu di daerah ini ada seorang Raden dari Kute tinggal di daerah sini. Raden ini adalah orang yang nakal. Nakal dalam artian pembuat onar, meresahkan masyarakat.

Oleh karena tingkah sang Raden yang nakal itulah masyarakat sekitar melakukan permintaan (to who? do not know) agar sang Raden ditindak. Akhirnya sang Raden di bawa ke Pulau Kelapa untuk di hukum.

Raden dihukum dengan ditusuk dibagian, maaf, pantatnya. Tempat hukuman itu berada di tengah Pulau Kelapa, yang sekarang berada di belakang tempat penyewaan snorkeling Pulau Kelapa.

Selanjutnya daerah ini dikenal menjadi teluk Kiluan, dan Pulau Kiluan.

Believe it or not, just think that as a myth.

Selanjutnya kami main di Pulau Kelapa/Kiluan sampai hampir pukul 11 lebih. Di sana kami berenang, bermain pasir (we build a failed Castle! and then improvised it into a submarine!). Beberapa dari kami juga ada yang snorkeling. Di spot tertentu ada beberapa ikan yang bagus untuk dilihat. Karangnya nggak terlalu oke. (Based on interview).

#12.00

Kami telah kembali berada di penginapan (daratan) untuk mandi dan persiapan pulang. Kami pulang menempuh perjalanan yang sama dengan sebelumnya. Sejenak kami makan di RM Padang Ampera (yang berbeda dengan ampera saat berangkat).

Around # 16.00

Kami telah tiba di  Bandar Lampung. Kami ke pusat jajanan di Jalan Ikan Kakap. Kami mampir ke satu-satunya toko yang buka (yang katanya sih paling ramai), yakni Toko Yen Yen.

Di sana dijual bermacam keripik pisang kepok yang terkenal dari Lampung. Selain keripik pisang ada juga jajanan lain seperti sambal lampung, keripik nangka, kopi lampung, dan lain-lain. Contact : 0721 – 482192

Kami terlebih dahulu memesan tiket pulang Damri menuju Gambir. Ternyata dari Terminal Rajabasa ada 4 pilihan destinasi :

  • Stasiun Gambir
  • Bekasi
  • Bandung
  • Bogor

Kami berharap mendapatkan tiket tidak terlalu malam agar teman-teman yang besok akan bekerja tidak terlambat. Kami mengambil kelas eksekutif tujuan Bandung yang juga berhenti di stasiun Gambir. 150k IDR.

See you next trip, travelers!

Tiba juga di Terminal Rajabasa, Sabtu jam 6.30 pagi

Nungguin kapal motor di Pantai Klara, menuju Pulai Kelagian

Tiba juga di Pulau Kelagian

Pantai Pulau Kelagian, the special white sand… never see something like this

Neo took a sand bath with me and Lutfi

The chipmunks

Pantai Kiluan, start berangkat hunting lumba-lumba, 6.30

Finish hunting around 8.30

 

El finale… main-main di Pulau Kelapa (Kiluan). We build a submarine here! (failed castle)

5 pemikiran pada “[Backpack] Kiluan Trip Execution

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s