Standard

Misalkan saja,

Suatu hari Anda memiliki seorang koki yang begitu handal dan dapat memasak layaknya chef restoran terkemuka. Namun karena sudah terbiasa mendapat jamuan dari koki Anda, Anda merasa masakan itu sehari-hari terasa biasa saja. Anda terpaksa memaksa si koki dipecat karena satu dan lain hal. Anda mencoba mencari penggantinya namun semua masakan koki baru yang Anda pekerjakan tidak memiliki jiwa memasak yang baik, setidaknya sebaik koki Anda yang pertama. Dua hingga lima koki sudah Anda pecat dan hingga koki ke delapan sejak koki pertama Anda tidak memuaskan Anda.  Padahal satu-dua koki yang Anda pecat itu di antaranya pernah bekerja di restoran terkemuka. Anda barulah menyadari betapa berharganya koki Anda yang pertama. Setelah introspeksi diri Anda akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan koki selanjutnya terlepas kemampuan si koki.

Misalkan saja,

Suatu saat Anda diterima di salah satu perusahaan multi nasional walaupun hanya dalam program internship saja. Dalam scope job Anda, Anda merasa bahwa pekerjaan di sana cukup baik, memiliki fasilitas yang cukup, serta gaji yang di atas rata-rata, walaupun lingkungan di sana terkadang mengintimidasi. Seusai program internship Anda berakhir, Anda mendapat tawaran kerja tetap di perusahaan itu namun di posisi lain, divisi lain, serta dengan kebutuhan background pendidikan yang berbeda dengan Anda (tentu saja Anda juga akan diberikan pelatihan di bidang tersebut). Anda menolak meneruskan bekerja di sana dengan alasan “butuh tantangan baru”. Sial bagi Anda, usai berhenti menjalankan program internship tersebut Anda tidak lagi dapat dengan mudah mendapat pekerjaan yang setara dengan pekerjaan sebelumnya. Anda mencoba kembali melamar ke beberapa perusahaan lain yang sebenarnya memiliki “level” yang setara dengan pekerjaan sebelumnya. Beberapa kali Anda ditolak, beberapa kali ANDA yang menolaknya dengan alasan “tidak cocok”. Pada akhirnya Anda memutuskan untuk bekerja sampingan terlebih dahulu dengan senangnya.

Misalnya saja,

Suatu saat Anda memiliki seorang pacar yang biasa saja. Jago menggambar, jago memasak, jago  dalam segala hal kalau boleh kalian imajinasikan. Multi talented type. Namun karena satu dan lain hal Anda memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacar Anda. Seperti biasa Anda memasuki masa galau seperti kebanyakan orang normalnya. Lalu Anda memutuskan untuk melakukan soul searching p-d-k-t sana sini dimanapun dia punya kesempatan. Di saat itu ia merasa tidak ada orang yang mendekati kebaikan-kebaikan orang yang pertama. Cukup lama Anda tidak memiliki pacar hingga pada akhirnya Anda memutuskan untuk jatuh hati pada orang yang memiliki sifat berbeda jauh.

Dari tiga contoh kasus ini persoalan utamanya adalah STANDARD. We people, jika sudah menyukai sesuatu maka akan menyimpan standard tersebut sebagai suatubenchmark untuk membandingkan dengan lainnya.

Lesson learned pertama adalah terkadang kita tidak menyadari sisi kuat yang dimiliki oleh sesuatu. Jikal dalam kasus pertama Anda menyadari bahwa koki Anda begitu handal, atau kasus kedua Anda menyadari pekerjaan pertama begitu fantastis, dan kasus ketiga adalah sang pacar pertama begitu dapat diandalkan, Anda barangkali tidak akan memutuskan sesuatu dengan gegabah. Walaupun terkadang dalam pengambilan keputusan tersebut seringkali dilandasi oleh emosi sesaat. Anda memecat koki tersebut, memutuskan pacar Anda, berhenti dari pekerjaan Anda karena tidak suka dengan suatu hal bukan?

Lesson learned kedua adalah adaptasi. Ketika kita menemukan sesuatu yang baru dan kita terlanjur mengeset standard kita begitu tinggi untuk suatu hal maka kita cenderung untuk apatis/tidak suka/menolak/mengabaikan hal baru tersebut. Di otak kita berpikir, “sebelumnya Aku bisa dapat segini, kenapa aku nggak bisa dapat lagi yang sama?”. OKE, dalam suatu waktu Anda mungkin akan dapat menemukannya. Tapi perlu disadari bahwa kenyataannya jika kita akan menghadapi hal yang berbeda. Kita pasti menemukan kelebihan dan kekurangan pada hal baru tersebut. Menurut Saya persoalannya bukan pada hal baru tersebut tapi soal kita mampu beradaptasi dengan hal baru tersebut  atau tidak.

Terkadang kita terlalu idealis kalau sudah pernah mendapatkan sesuatu yang “WAH” dan harus mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu atau minimal sama dengan yang pernah kita dapatkan dulu. Too much ifs and too much buts. Begitu kita ditawarkan sesuatu dipikiran kita pasti langsung terucap, “Gimana kalau ini… Gimana kalau itu… Tapi, kan….” Dan sebagainya. Kita kadang harus menghadapi kenyataan untuk mengalah pada rasa idealis kita. Enjoy what we have.

Carpe diem, seize the day!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s