Sistem voting digital?

Masih membahas rapat DPR soal kenaikan BBM. Kali ini gue pengen membahasnya dari sisi teknologi informasi.

Satu yang paling gue sorot adalah kenapa sih mereka masih pakai sistem vote manual. So megalithikum deh. Kenapa mereka nggak mencoba mengefisiesi rapat mereka dengan melakukan pengadaan sistem vote digital. Time is also resource, if you don’t know this. Masa buat vote apakah mau memperpanjang jam rapat sampai jam 1 harus sampai 15 menit (belum ditambah interuspi-interupsi gak penting kaya “sebenarnya saya ingin bertanya apa dasar ketua rapat memperbolehkan perpanjangan waktu… jada jada jada…”), oh please.

Gue pernah berbincang maupun tahu persoalan pengadaan teknologi informasi di birokrasi. Permasalahan pengadaan teknologi informasi adalah :

  1. Birokrasi menolak diadakannya pengadaan teknologi informasi. Why? Versi dari berbagai sumber dengar sana sini :
    1. tenaga kerja yang melek IT terbatas
    2. dengan teknologi informasi maka rantai birokrasi akan semakin pendek dan itu akan mengurangi jumlah  “biaya-lain-lain”
    3. para tetua yang ada di birokrasi nggak percaya dengan sistem digital, mereka baru percaya jika ada birokrasi influental yang menjadi benchmark perubahan birokrasi. Okay jika mereka bilang dengan sistem digital takut kena hack lah, takut kena injection lah, atau apapaun itu. Lebih solutif aja dong, misal dengan mempekerjakan tenaga IT yang dipercaya membangun sistem yang secure. Kalau perlu alokasikan dana juga untuk tenaga stresser IT, secure checker IT, dan semacamnya.
    4. dikhawatirkan korupsi
  2. Oke, anggap birokrasi tersebut mau melakukan pengadaan teknologi informasi. Tetap saja urusan teknologi informasi ini bermasalah, Why?
    1. Tidak efektif. Nggak efektif dalam artian mereka melakukan pengadaan teknologi informasi tapi seringkali tidak tepat guna. Misalnya dengan membuat sistem informasi yang ujung-ujungnya nggak terpakai karena sistem informasi yang dibuat salah, Salah Analisis Kebutuhan sehingga nggak sesuai tujuan dibuatnya sistem itu.
    2. Tidak efisien. Nggak efisien dalam artian  nggak bijak mengatur resource (uang, waktu, tenaga kerja). Dalam kaitannya uang, bukan rahasia umum di kalangan perusahaan IT lokal jika uang tender pengadaan teknologi informasi kalau judulnya “Oleh birokrasi/kementrian/dan teman-teman”  maka mereka wajib ikut aturan main tender. Perusahaan yang menang tender biasanya diwajibkan melakukan markup. Misal mereka mintanya dicantumkan proyek seharga 1M walaupun sang pemenang tender cuma dapat 500juta saja. Lalu dalam kaitannya waktu. Terkadang untuk eksekusi pengadaan IT itu sendiri juga dipersulit oleh birokrasi mereka sendiri. Yang pada akhirnya ditunda-tunda, lalu saat tiba pergantian kepengurusan kepala birokrasi, akhirnya proyek pengadaan IT dibatalkan. dahell!

Please, bahkan di film Star Wars aja senatenya pakai vote otomatis. Dear Padme Amidala, help us!

Senate vote star wars

Dear Amidala, Help Us!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s