Etos dan Budaya Kerja

Semalam gue ada dinner kecil bareng seorang kenalan gyang kerja di daerah merdeka. Kerja di salah satu sekolah seni, di sana dia punya berbagai pengalaman menarik yang mungkin menurut gue patut untuk dishare. Berikut kira-kira intisari potongan percakapan kami, dengan saduran.

F : ‘Dulu aku kerja di salah satu perusahaan asing’

G : ‘Wow, pengalaman yang menarik tentunya dong’

F : ‘Iya, menarik dan enak banget di sana. Beda jauh sama di sini’

G : ‘Loh, emang work situated nya gimana gitu?’

F : ‘Di sana HRD mendidik kita untuk membangun. Keynya adalah preferensi pujian ketimbang cacian. Selain itu beberapa hal juga sangat jelas garis tanggung jawabnya. Berbeda dengan di tempat kerjaku sekarang.’

G : ‘Yah mungkin karena memang bukan perusahaan juga sih. Jadi masih berasaskan kekeluargaan yang resikonya segala sesuatu dilihat secara subjektif’

F : ‘Tapi gapapa deh, aku juga sambil cari-cari kerjaan yang lain. Anggap aja ini pengalaman kerja yang lebih keras.’

Ada dua contoh event yang walaupun gak berkaitan sama sekali tapi satu tema dengan judul postingan kali ini.

Yang pertama adalah gue salut sama kinerja etos kerja anak SMK yang menurut gue patut kita tiru. Di kantor ada beberapa anak SMK yang magang untuk kerja di bidang IT. Yang gue lihat mereka nggak pernah mengeluh, fokus, dan professional. Sama halnya dengan kinerja para D3 yang memang notabene sekolah/kuliah dan kerjanya lebih sinkron (karena aplikatif). Bagi gue yang masih merasa bahwa gue belum professional dalam urusan bekerja, mereka adalah panutan!

Yang kedua adalah rapat DPR semalam membahas kenaikan BBM, yakni yang terkait dengan UU ayat 7 pasal 6. Isi bunyinya kira-kira adalah bahwa pemerintah nggak boleh menaikkan BBM. Yang gue lihat di sana kebanyakan hanya strategi memenangkan pasar. Sama sekali gue nggak ngelihat mereka yang benar-benar bekerja. Musyawarah, bollocks…. Budaya ngantri, bollocks…. Memajukan kepentingan bangsa, BOLLOCKS!! Walaupun gue masih percaya bahwa at least 1 % dari mereka ada yang benar-benar serius tapi kalah oleh kekuatan mayoritas. Konsekuensi dari sistem pemerintahan musyawarah sih : Mayoritas adalah benar.

Point dari postingan gue adalah. You concern your world. Concern mulai dari diri sendiri dulu aja. Be a better man for a better world, lebaynya begitu. Mari kita mulai dengan berlatih memiliki etos kerja yang tinggi serta meninggalkan budaya negatif kebanyakan dari kita (menyerobot, tidak menyegerakan, suka wacana, dan iri hati dalam kaitannya pekerjaan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s