2 Days Cianjur-Garut Trip

“Spontaneous is always the best way to backpacking”

Nyepi. 2 Hari. 3 Motor. 5 Backpackers. 6++ Tempat Wisata. 24-25 Maret 2012

Initial Trip Plan :

Gue akan membahas trip dua hari ini dalam beberapa sub bab, silakan skip ke bagian yang menurut kalian menarik jika berkenan.

Introduction

Maksudnya long weekend kemarin mau pulang ke rumah tapi karena orang rumah sedang pergi ke luar kota jadinya gue butuh tempat pelampiasan. Berawal dari sebuah YM ke seseorang akhirnya timbulah ide backpacking ini. Rencana awal sebenarnya adalah touring motor ke Ujung kulon, tapi berhubung Adi sudah punya rencana sendiri touring motor Cianjur munculah ide touring ini. Berawal dari sini, beberapa teman backpack yang lain juga ada yang ingin ikutan : Kuncoro, Haryus, dan adiknya Haryus. Sementara itu beberapa backpacker yang lain sudah punya rencana sendiri tour ke Lombok selama 10 hari.

Untuk pertama kalinya gue bener-bener gak siap. Bangun sedikit kesiangan karena semalem baru pulang hampir jam satuan malem. Untungnya tiga hari sebelum hari H gue udah nyiapin berbagai perlengkapan backpack touring motor seperti :

  • Isi bensin (belum sempet servis motor)
  • Beli pulsa
  • Jas hujan
  • Autan
  • Pelindung dada
  • Helm
  • Pakaian secukupnya
  • Alat mandi+handuk
  • Tissue
  • Nikon Coolpix P300

Ah just fyi, 3 motor yang dipakai adalah Yamaha Mio (punya Haryus), Satria (punya adik Haryus), dan Honda Supravit (punya kuncoro). 5 backpacker itu adalah Gue, Adi, Kuncoro, Haryus, dan adiknya.

+2 pre-Journey

Sebelum masuk ke tempat wisata utama kita berhenti sejenak untuk mengunjungi dua spot berikut.

Pertama adalah jembatan panjang Sungai Citarum di daerah dekat kota Cianjur. Mungkin bagi kalian yang pernah ke Bandung dari Jakarta melewati Cianjur pernah juga melihat jembatan ini.

Kedua adalah terowongan kereta api Lampegan di daerah Gunung Padang. Waktu itu gue gak ada feeling apa-apa di sana. Tapi setelah pulang dan gugel-gugel ternyata terowongan kereta api yang dikunjungi hari itu adalah terowongan kereta api tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1879 oleh Belanda. Walaupun beberapa waktu yang lalu terowongan ini pernah runtuh karena longsor tapi waktu kami tiba di titik ini terongan itu sudah kembali baik. Fyi, agak konyol juga melihat tulisan “1879-1882” lalu dilanjutkan dengan “direnovasi tahun 2010”. Oh crap, ngerusak nilai vintage terowongan ini saja.

Terowongan Kereta Api Tertua di Indonesia. Lampegan, Gunung Padang

Ada 3 hambatan yang terjadi sebelum perjalanan yang sesungguhnya. Hambatan#1 adalah ketika gue telat bangun sehingga kita baru bisa berangkat jam setengah 6, yang harusnya kita berangkat jam 5 pagi dari Dago. Hambatan#2 adalah ketika ban motor supravit Kuncoro kempes tapi bukan terlalu masalah setelah ban belakangnya dipompa kembali. Hambatan#3 adalah ketika ban motor yamaha mio milik Haryus bannya bocor di tengah perkebunan antah berantah.

Menunggu bala bantuan tambal ban datang

Ya, setelah melanjutkan perjalanan motor dari terowongan Lampegan, motor Haryus kempes sehingga harus ganti ban dalam. Di long weekend seperti ini susah sekali mencari tukang tambal ban di tengah perkebunan antah berantah. Kejadian ini cukup menghabiskan banyak waktu.

1# Situs Megalith yang konon terbesar se-Asia Tenggara

Gunung Padang, Cianjur

Setelah mengalami berbagai hambatan di atas kita menuju situs purba megalitikum yang konon katanya terbesar se-Asia Tenggara. Sebagai catatan saja, bagi kalian pecinta sejarah bahwa zaman purba di negeri kita mengalami beberapa era : Palaeolithikum (zaman batu tua), Neolithikum (zaman batu muda), dan Megalithikum (Zaman batu besar). Ketiganya merupakan era zaman purba sebelum mereka mulai menggunakan logam. Kenapa dinamakan zaman batu besar? karena pada saat itu teknologi bebatuannya sudah mulai menggunakan batu-batu besar (seperti stonehenge di Britania yang menggunakan tatanan batu besar membentuk lingkaran). Ah, CMIIW.

Pintu masuk situs Megalithikum Gunung Padang

Kami tiba di Gunung Padang sekitar pukul 10-11 siang. Gue udah ngebayangin bahwa situs ini mirip situs megalith Stonehenge di Inggris (bongkahan batuan berjejer berbentuk lingkaran), tapi ternyata jauh berbeda. Situs megalith ini lebih keren dengan caranya sendiri. Sejumlah batuan-batuan yang relatif besar tersebar secara teratur membentuk ruangan-ruangan. Gue jadi keinget sama Kjokkenmoddinger (Dapur purba) yang dulu pernah diceritain sama Guru Sejarah SMP. Untuk ukuran manusia purba mereka sudah cukup maju untuk membuat arsitektur ini.

Masih di Situs Megalith

Situs Megalith Gunung Padang

Pemandangan dari atas bukit situs megalith Gunung Padang

2#Balada Curug Citambur dan Curug Cikondang

Kalau kalian liat peta initial plan di atas. Dari A (Jembatan Pasopati), kita akan menuju Cianjur(B) lalu ke situs megalithikum Gunung Padang (C), baru ke Curug Citambur (D). Banyaknya hambatan sebelum mencapai Situs megalith membuat rencana kita sedikit berantakan. Kuncoro yang bersikeras ingin mengunjungi curug tertinggi se Jawa Barat (Atau Indonesia?) itu akhirnya kita beri kompensasi untuk mencari curug lain yang lebih dekat, yakni curug Cikondang masih cukup dekat dengan situs megalithikum. Curug ini oke, tapi sayang kurang terawat dengan baik.

Top Waterfall Point of Cikondang

Setelah berjalan menuruni curug (startnya dari atas curug) sampai bawah akhirnya kita bisa main-main di curug. Gue nggak ikutan main karena harus mindahin data SD Card 8 GB ke netbook Adi. Biar bisa foto-foto terus😀 Oh iya di tempat ini Haryus jatuh kepeleset. Untung gak kenapa-kenapa.

Curug Cikondang. Memori SDCard Penuh, pindahin dulu ke netbook Adi

Buruknya jalan akses dari Situs Megalithikum ke Curug Cikondang membuat kami cukup frustasi baik sang driver dalam mengontrol motor maupun sang penumpang yang harus rela bujurnya nyeri karena sang pengemudi sudah nggak lagi peduli apakah penumpangnya nyaman atau tidak.

3# Two Hour to APRA Beach, Human Shock Breaker

Before and after Curug Cikondang. Inilah masa-masa dimana shock breaker motor nggak ada gunanya lagi. Semua lubang di hajar. Bebatuan off-road dihajar oleh motor Mio, Supravit, dan Satria. Di sana lah awal gue menemukan metode human shock breaker. Begitu Kuncoro trolling menghajar motor melewati berbagai lubang itulah saatnya gue berdiri dari dudukan motor.

Ini adalah metode human shock breaker yang gue lakukan :

  • Pastikan pandangan mata ke jalan.
  • 5-10 meter menjelang melewati lubang jalan, kuatkan pegangan di titik ini :
    • pegangan tangan ke dudukan motor
    • kaki harus pas di injekan motor
  • Menggunakan pegangan di atas, berdiri secara simultan saat motor menghujam lubang.

Human shock breaker bisa kalian tiru jika sebagai penumpang kalian dikerjai oleh supir kalian.

Perjalanan selanjutnya masih Off-Road. Walaupun sudah masuk jalan besar tetap aja jalannya rusak parah. Gue nggak tahu banyak jalan menuju pantai APRA (kalau peta di atas ditunjukkan oleh huruf E). Setelah makan di daerah Sukanegara, gue lebih banyak ketiduran di atas motor. Walaupun Kun trolling gue dengan menghajar motornya ke lobang-lobang jalan, gue tetap tidur dengan damai di atas motornya😀

Kita tiba di Pantai APRA pukul 18.00 WIB. Di sana sudah sangat gelap tapi masih sempat foto-foto. Just FYI, rasanya nama pantai ini nggak ada hubungannya sama Angkatan Perang Ratu Adil, pasukan pemberontak buatan Westerling pasca era kemerdekaan dulu loh ya. Yuk lanjut ke destinasi selanjutnya.

Pantai APRA. Di tempat ini kalau kita pakai Flash muncul Photo Orb yang sering muncul di tempat-tempat bersejarah, angker, yang menandai adanya partikel-partikel yang tidak terlihat.

Pantai Apra, Haryus, dan Venus

APRA to Jayanti, Night of First Accident

Malam pun tiba. Kami berencana mencari penginapan di dekat pantai Jayanti, Cidaun. Malam ini gue pikir adalah yang paling horor, tapi ternyata malam selanjutnya juga sama horornya. Ah itu gue ceritain nanti. Malam ini kita menuju Pantai Jayanti untuk mencari penginapan. Dalam perjalanan tiba-tiba lampu depan motor Kuncoro mati. CRAP!

“Kun, kok gelap sih?”

“Iya gitu?”

“Kun, lampu motor lo gak nyala!”

GELAP GULINDANG! Sementara itu jarak dua motor di depan jaraknya semakin jauh, gue dari bangku penumpang gak bisa lihat jangankan lubang jalan, belok-belokan jalan pun gak terlihat. Kita dalam beberapa menit sejak lampu motor Kun labil mati hidup praktis mengandalkan intuisi based on dua lampu motor di depan kita (Satria dan Mio). Gue yang panik segera mengeluarkan HP Nokia E63 yang “punya SENTER”. Gak guna sih, seenggaknya lebih terang sedikit. Tahukah Anda fitur HP paling berguna di Indonesia? SENTER!!!! Seriously!

Tiba-tiba nyala… tiba-tiba mati… tiba-tiba nyala… tiba-tiba mati. Setelah beberapa saat akhirnya Kun nemuin cara supaya lampunya tetap nyala : Nyalain lampu pakai lampu jauh. Hasilnya lampu kedip-kedip tapi selalu menyala.

Konfigurasi pembonceng-yang dibonceng beserta urutan motor sebelumnya adalah :

  • Mio : Adi (pembonceng), Haryus
  • Satria : Hisma
  • Supravit : Kun (pembonceng), Gue

Nah untuk change of pace, kami tukeran pembonceng dan urutan motor jadi :

  • Supravit : Kun (pembonceng), Gue
  • Mio : Haryus (pembonceng), Hisma
  • Satria : Adi (pembonceng)

Setelah melewati pasar malam di suatu desa kejadian pertama terjadi. Jalanan cukup gelap dan berasap saat itu. Setelah melewati jembatan. Jalanan di depan kabur. Ada lampu jalan menanjak ke kiri. TAPI ITU HOAX. Jalan yang sebenarnya adalah ke kanan. Kuncoro yang tampak ragu segera gue peringati bahwa jalan berbelok ke kanan. We made it. Alhamdulillah.

GROSAAAAKKK!!!

Motor di belakang kami tersungkur. Astagfirullah. Motor mio yang ditumpangi Haryus dan Hisma terpeleset pasir. Keduanya terjatuh. Haryus cukup terluka di bagian dagu, tangan, dan kakinya. Hisma hanya lecet di beberapa bagian. Kami segera beristirahat sejenak di warung makan dekat situ. Setelah makan, minum kopi, dan membersihkan dan menutupi luka-luka Haryus dengan perban kami melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan mencari puskesmas di Cidaun. Beruntung bagi kami puskesmas Cidaun buka 24 jam.

Setelah dijahit di beberapa bagian (tapi tidak di bagian dagu karena akan menimbulkan bekas nantinya) Haryus diberikan antibiotik, dan beberapa obat. Kami cukup menyesal dengan kejadian itu. Kami melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.

Konfigurasi pembonceng-dibonceng serta urutan motornya menjadi :

  • Mio : Gue
  • Satria : Adi (Pembonceng), Hisma
  • Supravit : Kun (Pembonceng), Haryus

Kami tiba di Pantai Jayanti dengan sangat kelelahan sekitar pukul 10 malam. Setelah berputar-putar mencari tempat penginapan didapati Penginapan Putri seharga 150,000 IDR per hari (sebenarnya bisa ditawar tapi kami terlalu lelah untuk itu). Kami menyewa satu kamar.

4# Jayanti Beach, Cidaun  (kalau lihat peta di atas ditunjukkan oleh huruf F)

Morning guys. It’s day two~

Sunday Morning, Jayanti is coming. Penginapan Putri

Well, well, Haryus akhirnya memilih untuk beristirahat di penginapan sementara kami main ke Pantai yang sangat dekat dengan penginapan. Get well soon, buddy! Selanjutnya kita main-main, makan Ikan Tongkol 1 kilo dari pasar, minta dibakarin sama warga sekitar, deliciouso~

Human Interest trial, but failed. Gak berani minta tolong bapak nelayannya untuk jadi model.

Selama main-main di pantai kami menyusuri beberapa kapal nelayan yang masih tertambat di dermaga, main-main di pantai, mandi di pantai (cuma Adi sih). Pasir pantai Jayanti tidak terlalu bagus. Kalau istilah Hisma yang anak FITB itu adalah tanah lanau, bukan pasir. Satu level di bawah pasir. Walaupun tanah pasirnya bukan pasir yang ideal hal itu menimbulkan efek yang menarik di foto. Pasir menjadi sangat lama untuk kering. Karena cukup lama basah kita bisa membuat efek mirror dari pasir yang masih basah itu. Gue menemukan konfigurasi bracketing yang oke adalah :

  • Shutter Speed sekitar 1/1250 (agar tidak terlalu banyak cahaya yang masuk dan langit biru dapat tercapture)
  • Aperture F. sekitar 5,6 (ini set auto sih tapi hasil foto gue rata-rata menggunakan aperture segitu)
  • ISO 160. Cukup rendah. Alasannya hampir sama dengan shutter speed.
  • Without camera effect (no exposure, saturity, etc).

Ini beberapa hasil jepretannya.

Sepulang makan ikan tongkol gue dan Kuncoro sedikit terlibat perselisihan masalah charger. Setelah sebelumnya dia main asal cabut charger HP waktu malem, di pagi hari dia nyabut charger Nikon. Ya udah deh hari kedua gak bakalan banyak motret. Soalnya kamera gue kalo baterenya udah habis harus dicharge sampai 4 jam penuh.

Anyway, udah jam 10 Pagi kita harus segera ke pantai berikutnya. Lanjut yuk.

5# Rancabuaya Beach

Konfigurasi pembonceng-dibonceng serta urutan motornya sekarang berubah lagi menjadi:

  • Mio : Gue (Pembonceng), Adi
  • Satria : Hisma
  • Supravit : Kun (Pembonceng), Haryus

Katanya sih di Rancabuaya pantainya oke. Gue nggak tahu lokasi Rancabuaya di peta. Yang jelas perjalanan menuju pantai Rancabuaya dari Jayanti sekitar setengah jam.

Nothing to do here actually for me and Haryus. Paling cuma makan-makan es kelapa muda. Tidur-tiduran di pendopo. Kun, Adi, dan Hisma mengeliling bukit di pantai Rancabuaya. Lebih jauh kami gak bisa berenang dengan nyaman di pantai ini karena di sepanjang garis pantainya penuh dengan karang. Sekalinya ada garis pasir pantai, pantainya terlalu curam nggak bagus dipakai untuk berenang.

Courtesy of Kuncoro Album

Lanjut aja deh. Setelah Adi bertanya-tanya lokasi pantai dekat sini yang bisa dipakai berenang katanya ada 1-2 KM setelah Rancabuaya.

6# Santolo Island + Beach, Garut

Awalnya kami berniat pulang dari Rancabuaya. Tapi karena tidak terpuaskan kami memutuskan untuk bergerak jauh ke Timur masuk Ke Kabupaten Garut. Pantai Santolo. Harusnya judulnya adalah 2 Days Trip Cianjur aja, tapi karena kita sampai ke timur jauh ke perbatasan Garut. Maka….

Waktu kami memutuskan ini gue udah sadar pasti malam nanti kami akan pulang sangat larut. Tapi gue pikir yaudahlah tanggung. Gue belom main basah-basahan dua hari ini.

Gue cukup mengebut hingga V average nya mencapai 70-80 km/ jam. Jalan dari Pantai Rancabuaya menuju Pantai Santolo walaupun yang terjauh dari semua rute yang kami tempuh (selain Santolo-Bandung tentunya) tapi memiliki pemandangan yang oke banget. Perjalanan siang hari + berjalan menyusuri sisi selatan pantai + Jalan yang relatif bagus membuat perjalanan ke Santolo begitu menyenangkan.

Kami tiba di daerah Santolo sekitar pukul 14.10 WIB. Rupanya di Pantai Santolo terdapat Pusat Peluncuran Roket oleh LAPAN. Epic sekali. Berasa nonton 3mm per second aja. Bedanya nggak ada roket yang diluncurin hari itu.

Again because of kurang ngecharge kamera, dan pengen main air laut gue gak banyak moto di pantai Santolo. FYI, rupanya setiba di Pantai Santolo terdapat pulau yang jaraknya sangat dekat dengan pantai. Hanya dipisahkan oleh muara saja. Karena gue udah capek dan cuma pengen main air, akhirnya kami gak bermain ke pulaunya. Go to the beach!!

INI BARU NAMANYA PANTAI…. pasirnya bertekstur, landai, tidak ada karang, ombaknya besar dan asik untuk dimainkan, AND IT IS ON….

Pantai Santolo, Garut

The Last Game

It is our last game. kami resmi berangkat dari Santolo menuju Bandung sekitar pukul 15.30 atau lebih. Rute yang akan ditempuh adalah kembali ke Rancabuaya, Jayanti (Cidaun), lalu berbelok ke atas menuju Naringgul-Ciwidey-Soreang-Bandung. Kami mengisi bensin di Santolo, Rute antara Rancabuaya dan Jayanti, serta di Naringgul.

Mari kita skip perjalanan dari Santolo ke Cidaun yang relatif aman karena jalannya relatif bagus dan masih sore. The game is ON when we reached Cidaun. Kita berhenti sebentar di Alfamart Cidaun untuk membeli perbekalan dan uang. Kami melanjutkan perjalanan.

Pukul 18.30, hujan lebat mulai mengguyur. Kami berhenti sejenak memasang jas hujan ataupun ponco. Adi nggak pakai keduanya terpaksa basah-basahan. Gue agak kurang siap menyetir di medan seperti itu setelah di siang hari hanya menyusuri jalan yang bagus. Jalan off-road + menanjak + menurun + sempit.

Pukul 19.15, Adi minta tukeran nyupir karena tangannya gak kuat menahan getaran setang akibat jalan yang sangat rusak parah dan menanjak. Beberapa kilo menuju Naringgul. Jalan masih terus naik-turun berbelok dan berbatu. Hujan terus mengguyur kami yang mencoba menyusuri gunung atau perbukitan (gue nggak bisa lihat apa-apa malam itu yang jelas di kiri jurang, di kanan tebing yang rawan longsor).

Truk melintas dari arah berlawanan, jalanan saat itu menurun tajam, batuannya juga nggak stabil, di kiri jurang, di kanan trus melintas. Motor gue berhasil melewati truk itu, tapi…

GRUSSAKKK!!

Kali ini motor Satria yang ditumpangi Hisma yang tersungkur. Kali ini tidak separah Haryus, karena motor dibawa relatif cukup pelan. Walau begitu kaca depan satria Hisma pecah, nggak bisa nyalain lampu sen ke kanan. Setelah berhenti sesaat kami melanjutkan perjalanan dengan extra hati-hati. Udara dingin menusuk badan kami. Plus hujan yang masih mengguyur. Hujan sudah sedikit mereda tapi hawa dinginnya masih terasa saat itu.

Kami berhenti sejenak pukul 20.15 di salah satu warung makan yang masih buka. Hisma keep stay cool. Motor Satrianya manual, jadi pakai sistem gigi motor yang aneh itu. Gigi satu ke depan, turun setengah normal, gigi dua, tiga, empat selanjutnya. Di medan seperti ini aturan gigi tersebut agak ribet ketika akan melakukan koordinasi antara gigi 1, 2 ataupun normal. Motor dia sempat mati-mati karena harus berulangkali melewati gigi normal antara gigi 1 dan 2. Tapi faktor utama gue yakin karena kelelahan sih.

Perjalanan dilanjutkan pukul 21.30 lebih. Gue agak menyesal kita berhenti karena dalam waktu yang singkat itu daerah Situ Patenggang, kebun teh, dan Ciwidey menjadi luar biasa dingin. Gue berani bertaruh suhu malam itu at least mencapai 10 derajat celcius (apalagi habis diguyur hujan). Adi udah nggak tertolong lagi karena kedinginan alhasil gue harus bertahan dari dinginnya malam itu. Gue harus bertahan kedinginan sampai sekitar pukul 23.30 lebih. Nyanyi-nyanyi sendiri, komat-kamit sendiri, dan shalawat di setiap tikungan, tanjakan, dan turunan.

Sepanjang perjalanan ternyata kami nemuin dua curug dipinggir jalan. Curug Naringgul, sama entah curug apalagi. Kalau kami menikmati perjalanan mungkin kami akan berfoto-foto ria di sana. BUT IT’S HELLISH NIGHT. Selain itu kami juga ngelewatin gerbang masuk kawah putih, ciwidey, dan ranu/danau Situ Patenggang ON A NIGHT!! lol, gue yang selama 5 tahun ini nggak pernah ke ciwidey (kawah putih ataupun situ patenggang) dalam semalam akhirnya pernah lewat tempat itu. Bau belerangnya cukup kerasa malam itu.

CIWIDEY EUY!!!

Sudah mulai menghangat ketika kami tiba di daerah kota Ciwidey. Adi sudah mulai bisa tahan dengan cuacanya yang menghangat. Gue minta ganti bukan nggak tahan dingin ataupun capek. Tapi ngantuk. Praktis dari Ciwidey sampai Braga gue ketiduran di atas motor.

Kita tiba di Braga untuk ngambil duit dulu. Tiba-tiba Bandung kembali hujan dan gue kembali gantiin Adi karena kembali kedinginan. Haryus-Kuncoro sudah berpisah dengan rombongan kami entah dimana (gue ketiduran).

Alhamdulillah kita bisa pada akhirnya sampai dan dapat bersistirahat in peace di kosan maisng-masing setelah kita bersimbah keringat dan darah selama perjalanan tadi.

Conclusion (nyolong dari notes fb adi)

Realisasi Road Trip++ kemarin per tanggal 24-25 Maret 2012, mengunjungi beberapa tempat dan wahana di beberapa tempat berikut (disusun terurut):

1. Terowongan Lampegan yang memiliki nilai historis dalam sejarah perkeretaapian di jawa barat.

2. Situs Megalithikum Gunung Padang, bermain gamelan batu, ngeceng sana sini😛

3. Curug Cikondang, sebagai kompensasi tidak direalisasikannya berkunjung ke Curug Citambur, demi memenuhi hasrat dan ambisi si Kuncoro,,di sini kita berbasah-basah di tengah pemandangan kebun teh yang asri.

4. Pantai Apra (Angkatan Perang Ratu Adil,,*nebak), yap setelah makan di Sukanegara dan dengan terburu2 menuju pantai selatan, kita istirahat dan menikmati sunset di sini, Pantai Apra dekat dengan Muara sungai, di Muara sungai ini umumnya banyak warga/pengunjung yang renang di air yang sedikit ombak nya. Cukup Nyaman dan santai, tapi kalo pantai yang menghadap laut ya, lumayan besar ombaknya.

5. Pantai Jayanti, pantai ini mungkin yang paling terkenal dan rame di Cianjur, dekat dengan pelabuhan nelayan, banyak penginapan dan warung2, membuat kesan cukup rame dan nyaman di sini, tepat sebelum masuk gerbang terdapat sejenis pasar, jadi bisa belanja dulu di pasar tersebut kalo mau. Kita menginap di sini dan menikmati sunrise serta pesona Jayanti

6. Pantai Rancabuaya, ini pantai jarang kurang begitu asik untuk berbasah-basahan karena kontur pantainya yang berkarang, ada pasirnya tapi tidak landai, tapi kadang terlihat juga orang yang mandi di lubang2 karang atau area pantai pasir yang sempit. Rancabuaya adalah pantai terkenal paling barat di kabupaten Garut. FYI, selama perjalanan ke Apra, Jayanti dan Rancabuaya, kita menyusuri jalur lintas selatan, sehingga jika berniat, banyak sekali pantai yang bisa buat renang di sepanjang jalan tersebut, namun kita memilih pantai2 yang terkenal saja.

7. Masih ada yang penasaran dengan pantai Santolo, maka selanjutnya kami bablaskan saja perjalanan sampai ke pantai yang sebenarnya sudah saya kunjungi, Pantai Santolo. Pantai yang dekat dengan sarana militer dan pelatihan TNI AU ini terbilang rame di Garut, kalo dari Kota Garut mungkin sekitar 4 jam-an, kalo dari Rancabuaya sekitar setengah jam-an, Pantai ini cukup asik untuk berbasah-basah dan main2 air laut. Santolo adalah nama pulau di sekitar muara sungai, tapi kita tidak benar2 ke pulau Santolo, karena keterbatasan waktu. Jadi cukup berbasah2, ngobrol dengan penduduk sekitar, dan seperti biasa menikmati pemandangan dan suasana pantai.

8. Rancabali, sebenarnya ini bukan tempat tujuan wisata kita, tapi katanya sih banyak orang sering sengaja datang ke sini sekedar makan2 di warung2 sekitar kebun teh. Suasana seperti di puncak cuma jalannya gak selebar jalur Puncak, Bogor. Kita makan2 dan istirahat di sini.

9. Patengan, Kawah Putih….cuma ngelewat gerbangnya aja..hehe..

10. Kosan, Rest Place.

Selain dari tempat2 tersebut, kita juga mengalami perjalanan yang menakjubkan, melihat curug2 di pinggir2 jalan, hujan di tengah perjalanan, melewati Jembatan2 panjang dengan suasana muara sungai yang Indah (terutama pas jalur Jayanti-Rancabuaya-Santolo).

Salam Backpacker!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s