Life of Pi, bab 5

Tapi aku tidak mau hidup dalam bayangan orang lain, meski aku bersedia disebut apa saja — termasu “adik Ravi”– asal jangan disebut Pissing(kencing). Aku punya rencana lain yang lebih bagus.

Rencana ini kulaksanakan pada hari pertama masuk sekolah, dalam jam pelajaran pertama. Di sekitarku banyak alumni lain St. Joseph’s. Kelas dimulai seperti biasanya kelas baru, dengan memperkenalkan diri. Kami menyebutkan nama kami dari tempat duduk masing-masing, sesuai urutan duduk kami.

Masing-masing nama yang sudah disebutkan dicentang di daftar, diikuti tatapan tajam singkat dari guru. Aku gugup setengah mati.

Empat meja lagi, tiga meja lagi, dua meja lagi,

“Sylvester Naveen,” kata Sylvester naveen yang duduk persis di depanku.

Giliranku. Saatnya unjuk gigi. Ini dia, aku datang.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan bergegas ke papan tulis. Sebelum guru kami sempat mengatakan apa-apa, aku mengambil sepotong kapur, dan sambil menuli aku berkata,

Namaku Piscine Molitor Patel, biasa dipanggil

Kuberi dua garis bawah pada dua huruf pertama nama depanku —

Pi Patel

Sebagai penegasan, aku menambahkan

 Phi = 3.14

lalu aku menggambar lingkaran besar, yang kemudian kubagi dua dengan diameter, untuk menjelaskan pelajaran geometri dasar itu.

Hening. Guru memandang ke papan tulis. Aku menahan napas. Kemudian guru berkata, “Baiklah, Pi. Duduklah. Lain kali minta izin dulu sebelum meninggalkan meja.”

“Ya, Pak.”

Dia mencentang namaku. Dan menatap anak berikutnya.

“Mansour Ahamad,” kata Mansoor Ahamad.

Aku selamat.

..

Awal yang baru.

Aku mengulangi cara tersebut dengan setiap guru. Pengulangan ini penting dalam melakukan pelatihan, baik terhadap binatang maupun manusia. Saat giliranku tiba, aku bergegas maju ke depan kelas, menuliskan detail-detail jati diriku yang baru itu, kadang sampai kapurnya berdecit-decit ngilu di papan tulis. Setelah beberapa kali, anak-anak lain ikut menyuarakan kalimat-kalimatku, alunan nada dari pelan ke keras, yang mencapai klimaksnya setelah menarik napas cepat. Sementara aku menggarisbawahi nada yang tepat, berakhir dengan pengucapan nama baruku dengan begitu bersemangat, yang pasti menggembirakan hati seroang pimpinan paduan suara. Beberapa anak mengikuti dengan bisikan seru. “Tiga, Koma, Satu, Empat!”” sementara aku menulis secepat mungkin, dan mengakhiri konser itu dengan membagi dua lingkaran yang kubuat dengan penuh semangat, sampai-sampai butir-butir kapur berterbangan.

Ketika aku mengangkat tanganku hari itu —  dan ini kulakukan setiap ada kesempatan– guru-guru memperbolehkanku berbicara dengan memakai nama panggilan baru yang terasa bagai musik di telingaku. Anak-anak lain mengikuti. Termasuk berandal-berandal St Joseph’s. Malahan nama itu menjadi mode. Negeri kami rupanya penuh dengan calon-calon insinyur yang menjanjikan. Tak lama kemudian, seorang anaklelaki bernama Omprakash menyebut dirinya Omega, dan ada anak lain yang menyebut dirinya Upsilon, lalu ada juga yang menyebut diri mereka Gamma, Lambda, dan Delta. Tapi akulah yang mempelopori dan bertahan paling lama di antara kaum Yunani di Peiti Seminaire. Bahkan kakakku, si kapten tim kriket, si idola lokal, memuji langkahku. Dia menarikku untuk bicara pada minggu berikutnya.

“Kabarnya kau sekarang punya panggilan baru ya?”katanya.

Aku diam saja. Sebab dia pasti akan meledekku. Tidak bisa kuhindari.

“Tidak kusangka kau ternyata suka sekali warna kuning ya?”

Warna kuning? Aku menoleh ke sekitar. Tidak boleh sampai ada yang mendengar ucapan Ravi, terutama salah satu pengikutnya. “Ravi apa maksudmu?” bisikku.

“Aku sih tidak apa-apa. Nama apa pun lebih baik daripada ‘Pissing’. Mending dipanggil Pi… sang kuning.

Sambil berjalan pergi, dia tersenyum dan berkata, ” Wajah-mu agak merah.”

Tapi dia tidak meledekku.

Demikianlah, aku menemukan pelarian dalam huruf Yunani itu, yang bentuknya seperti bangunan gubuk dengan atap seng berombak-ombak, serta dalm angka yang elusif dan irasional itu, yang digunakanpara ilmuwan untuk memahami alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s