Menggunakan konsep baru atau ikut mainstream?

Dalam mengembangkan suatu karya inovasi baru terkadang kita dihadapi pada dilema mengikuti konsep baru atau ikut dengan  mainstream yang ada. Apakah Anda ingin menjadi trendsetter atau sekedar menjadi follower konsep yang telah ada.

Contoh pertama dari sisi teknologi. Teknologi yang lagi gaul sekarang adalah teknologi mobile. Semua perusahaan mulai mengalihkan bisnisnya dari yang di awal milenium mereka memiliki bisnis antara PHP+MySQL dengan tambahan Macromedia Flash, kini seiring semakin canggihnya teknologi mobile, mereka berlomba-lomba mengambil pasar mobile yang semakin prospektif.

Seandainya Anda memiliki konsep baru suatu aplikasi misalnya, apakah Anda tertaarik memanfaatkan teknologi baru yang out of the box, mungkin misalnya dengan menggunakan perangkat wiimode, AR, atau teknologi lainnya.  Atau, Anda akan hanya mengikuti mainstream teknologi yang lagi ngetrend?

Sebenarnya konsep tersebut Anda tujukan untuk apa? Bisnis? Customer? Proyek? Senang-senang? Untuk sisi bisnis, customer, maupun proyek biasanya disesuaikan dengan permintaan client berbeda dengan kerjaan senang-senang yang semau kita aja. Contoh lain terkait teknologi adalah versi HTML dan CSS. W3c sedang dalam proses transformasi standard HTML dan CSS yang akan digunakan beberapa tahun ke depan. Saya pikir perubahan standard ini memberi dampak yang signifikan bagi perkembangan dunia web di masa mendatang. Apakah client mau bertaruh mengambil resiko untuk menjadikan proyeknya ujicoba dengan HTML 5 dan CSS 3 yang belum stabil? Umumnya, We will just do what they want. Tapi ingat cepat atau lambat HTML 5 dan CSS 3 akan menggantikan versi sebelumnya.

Contoh kedua adalah dari sisi trend name. Salah seorang peserta lomba IWIC sekitar pertengahan 2000-an yang memenangkan lomba tersebut membuat situs belanja foto. Waktu mereka membuat situs tersebut facebook belum booming. Dalam situs tersebut, mereka menggunakan konsep “Bookmark User” yang sebenarnya merupakan list of friend yang sudah di approve. Lalu seiring dengan munculnya facebook, istilah bookmark user ini jadi terdengar sangat aneh ketika disandingkan dengan konsep Friends yang diusung oleh facebook (Friends dianggap lebih common sense). Sejak saat itu menurut pembuat situsnya mereka mengalami penurunan pengunjung.

Menggunakan konsep baru, kalau berhasil akan meningkatkan profit Anda. Sebaliknya kalau gagal dalam menerapkan konsep baru tersebut terlepas apapun alasannya akan berdampak buruk pada ide tersebut. Mungkin yang banyak melakukan ini adalah R&D kali ya. Facebook menurut saya adalah salah satu produk yang menggunakan jalur ini. Sebelum facebook, hampir jarang ada yang memanfaatkan ajax sebagai platform transfer datanya yang memiliki keunggulan kecepatan transfer yang relatif lebih baik ketimbang non ajax di masa itu (Saat itu internet masih lemot). Voila, friendster tergusur facebook!

Menggunakan konsep mainstream, biasanya lebih konstan. Mungkin istilahnya cari aman. Facebook juga melakukan hal ini. Misalnya dalam hal status, related friends (setelah sukses di Twitter, fitur ini ikut dikembangkan di facebook).

Contoh gagal yang melakukan penerapan baik konsep mainstream dan konsep baru menurut saya adalah Google+.

Konsep mainstreamnya adalah mereka membuat social network yang sudah ada dimana-mana. Why we should try them if it’s the same? Facebook mungkin bisa menjawab itu kepada customer friendster dengan jawaban : “well, we much faster!”. Saya pikir dari situ saja sudah gagal. Mereka terlambat untuk bergabung dalam persaingan pasar. Facebook sudah merebut pasar social network. Sementara itu Twitter sudah merebut pasar status network.

Konsep inovasi mereka yang gagal saya pikir adalah penamaan “Circle Friend” mereka yang susah dipahami hanya dengan mendengarnya saja. Padahal penjaringan teman adalah hal vital ketika seorang user ingin berinteraksi dengan teman lainnya. Sewajarnya ini adalah yang pertama dilakukan oleh user. Kalau hal ini saja sulit dilakukan, bagaiman user mau melanjutkan menggunakan fitur ini. Lucunya, fitur ini IMO ditiru oleh facebook. Beberapa bulan ini list of friends kita bisa diatur bukan?? Semacam kategori pertemanan sehingga memudahkan kita jika ingin melakukan privatisasi konten.

Damn you,

idea, timing, and marketing.

Satu pemikiran pada “Menggunakan konsep baru atau ikut mainstream?

  1. koreksi, konsep “circle of friend” di g+ gak ditiru oleh facebook. List of friend udah ada sejak lama, dan aku udah pake itu buat filter newsfeed dari temen-temenku yang ada di list berbeda. Cuma sejak g+ ngenalin “circle of friend”, facebook sepertinya merasa fitur “list of friend” mereka belum obvius. Makanya muncul design list of friend yang user friendly kaya sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s