R chapter 6 : Rest of the story

Rini sudah tiga bulan menjalani program kakak asuh dari keluarga mahasiswa di kampusnya. Di program itu, Rini mendapatkan banyak sekali adik asuh yang butuh pengajaran. Empati Rini rasakan sejak pertama kali mengajar di sana. Ia belajar bagaimana ia harus bersyukur terhadap segala apa yang telah diberi kepadanya.

Hari itu ia tidak menyangka akan mengalami hari paling sibuk sedunia. Pertama, kabar mengenai Rangga yang masuk Boromeus karena kejadian yang menghebohkan di daerah Taman Sari. Kedua, pertemuannya dengan anak didiknya dari program bantu di rumah sakit.

Rangga sudah tersadar dari kondisi kritisnya.

“Hey, Rang, kamu sudah bangun?” suara di sampingnya terisak.

“Rin,”

“iya?”

“Berat kamu nambah berapa kilo”

“…”, ekspresi murungnya berubah menjadi amukan Sangkuriang terhadap para pekerjanya yang gagal memenuhi tuntutan Dayang Sumbi.

“Aw, aw, aw, sakit atuh lah. Kamu nggak kuliah?”

“Jam 7 malem, malam minggu? kayaknya nggak deh,” ujarnya menyindir.

“Hehe. Hm.. Hey, kamu gimana Rin?”

“Gimana? apanya? baik kok”

“Bukan, nggak teraweh? gih doain eke biar cepet sembuh.”

“Lagi nggak sih, tapi mau pulang kok bentar lagi. Sekalian nungguin ayah, masih di kampus sampe malem katanya.”

Keduanya saling diam cukup lama. Speechless. Keduanya masih merasa canggung untuk saling berbicara dengan normal mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Walaupun Rangga terlihat cuek sambil tiduran dengan nyaman di kasur kamar 2304 berkelas Maria I di Boromeus itu, ia tidak bisa menyembunyikan sikap canggungnya.

Rini terlihat lebih aneh lagi, secara repetitif ia memandangi seluruh bagian kamar itu secara episodik : Rangga, gorden pemisah ruangan pasien, jam dinding, jendela, bingkisan berupa bunga dan apel dari teman-teman Rangga, pintu, jam tangannya, televisi yang sedang menyiarkan sinetron Ramadhan, inbox hapenya, lalu kembali ke Rangga, begitu seterusnya.

“Oh, iya..,” flops. Keduanya saling menyahut.

“Duluan aja,” ucap Rangga

“hmm.. okey, kamu tahu anak asuhku dari program kampus, Rudi?”

“Iya, tahu, kenapa?”

“Salah seorang anggota geng motor yang kemarin ngeroyokin kamu ternyata yang menolong kamu, membawa kamu sampai sini,” Rini membiarkan lawannya mencerna, “memang agak aneh sih, tapi dia orang yang baik, dia yang mengurus Rudi dan adiknya”

“Hm, lalu?”

“Kamu mau kan memberian kesaksian, Rudi memohon sama aku supaya hukuman pengasuhnya itu dapat diringankan. Setelah kejadian itu dia membawa kamu ke sini lalu ia menyerahkan diri ke polisi.”

“Oh, ya? Hm.. okay, kalo gitu.”

“Sip, sip, nanti biar aku bicarain sama Rudi”

Eh, btw, kamu tahu motor ku dimana?”

“Tigermu diamankan polisi sebagai barang bukti. Geng motor yang nyerang kamu juga udah ditangkap gara-gara kesakisan pengasuhnya Rudi.”

“Oh, I see

Keduanya kembali saling diam. Weird.

“Tadi, kamu mau ngomong apa?”

“Hmm.. nggak kok, gak apa-apa,” berhenti sejenak, penasaran ia lalu bertanya, “kamu nungguin dari tadi?”

“Nggak sih, dari tadi sore aja, Aku diminta tolong sama kakak kamu”

“Wew, dasar, orang itu emang gak pernah bertanggung jawab ckckck,” ucapnya tertawa.

“Oya, selama kamu nggak sadar, Bono, Sinto, Banu, Ruri, Lingga, geng ajeb, sama anak-anak himpunan arsi jengukin kamu”

“Oh, ya?”

Rini mengangguk lalu menambahkan, “Oiya, trus tadi banyak wartawan yang nungguin kamu di luar, tapi untungnya mereka menyerah jadinya kamu bisa istirahat.”

“Hahaha, berasa artis ya. Pasti mereka kabur karena ada cewek galau penunggu kamar ini kan”

“Weeee..”

Keduanya tertawa ringan. Rangga memperhatikan penampilan mantannya yang terlihat lebih anggun dari biasanya.

“Hey, Rin”

“Yap?”

“Kalau dipikir-pikir kamu lebih oke kalau pakai kerudung kaya gini deh”

“hehe, thanks. Yakin cuma oke aja nih?”

“eumm.. apa dong? Ajib? Maknyoos? Oh, tau, tau… keren, kaya ninja”

“ewww… garing garing..” ejeknya sambil mengacungkan jempolnya kebawah.

Kembali terdiam dalam background suara detak-detik jam dinding yang terpampang di dinding ruangan itu. Suara lalu lalang kendaraan dari jalan Juanda sedikit terdengar dari ruangan ini. Sabtu. Malam minggu. Biasanya kedua insan ini menghabiskan waktu berkuliner ria di salah satu sudut kota Bandung. Namun, satu rantai kejadian yang sudah ditakdirkan oleh Sang Penguasa Jagat Raya, membuat semuanya berubah. Setelah berpikir masak-masak kini Rangga sudah yakin dengan keputusannya.

“Kamu tahu, Rin? Selama beberapa bulan ini, sadar nggak sih kalau kita terlalu sering Hedon?”

Rini mengangguk mendengarkan pasien kamar itu berceramah.

“Sebelum kejadian kemarin sebenarnya aku sudah muak dengan kebiasaan kita yang suka berlebihan, dalam bates tertentu ya.”

“..”

“Kalau kamu nggak marah, gimana kalau,” Rangga mengambil nafas sejenak, “kita temenan aja?”

“Eh,” Rini tampak syok mendengar potongan kalimat itu. Mental state dia masih berada dalam posisi masa transisi diantara labil dan stabil.

“Rasanya kita lebih cocok kaya gitu, betul ibu insinyur? hehe” tawanya aneh.

“Tapi, tapi..,” Rini kembali terisak. Ia teringat beberapa hari lalu sempat bertengkar dengan ayahnya yang telah memperkeruh suasana hubungan mereka.

“Tapi?”

“Masa, gara-gara kita batal jalan kita putus kaya gitu sih. Kalo gitu aku marah deh. Kamu bilang kita temenan aja kalau aku nggak marah kan” ucapnya tergesa-gesa emosi.

Well, bukan kaya gitu juga sih.”

Kali ini yang terdengar hanyalah sedu sedan dari pengunjung pasien kamar itu.

“Kamu tahu, selama aku nggak sadarkan diri, aku dapet mimpi. Atau lebih tepatnya flash back. Semua tentang kita. Kupikir kita sudah menjauh dariNya entah disadari atau nggak.”

“..”

“Dulu gue-erm.. aku selalu berdoa agar mendapatkan pacar cantik yang bisa membuat aku semakin dekat sama Dia. Tapi..”

“Jadi, maksudmu, gara-gara aku”

“Bukan, bukan, no-no-no, ini bukan tentang siapa-siapa, ini cuma tentang aku. Mungkin kamu nggak berubah. Tapi aku semakin menjauh dariNya, if you didn’t notice,” Rangga berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan,

“ Jika kejadian di bulan Ramadhan ini tidak terjadi mungkin aku tidak akan pernah sadar dari utopia kita. Kupikir ini rahmat Ramadhan buat kita semua. Buat diriku sendiri secara khusus. Kita juga bisa kembali fokus sama urusan tahun keempat kita kan?”

“Tapi..” Rini masih terisak.

I think it’s the best for us

“..”, mata Rini sudah sangat sembab. Speechless.

“Shraaaaakk!!”

Gorden pemisah kamar pasien di samping Rangga tiba-tiba terbuka. Keduanya salah tingkah menyadari bahwa di kamar itu tidak hanya mereka berdua saja. Mereka memaksakan pose cool di masing-masing wajah mereka berpura-pura tidak ada percakapan aneh yang telah terjadi malam itu.

“heeeee~y,” sesosok pria tua yang merupakan pasien satu kamar Rangga muncul mengagetkan keduanya tiba-tiba layaknya sinema horor thriller, “kaaaa~liiii~aaaaan…”

Rini dan Rangga saling menatap seram. Lampu istirahat ruang pasien yang remang-remang membuat suasana mencekam menjadi-jadi.

“Kalian sebaiknya menikah saja, uhuk.. uhuk.. uhuk..”

Keduanya kembali saling menatap kali ini sambil tertawa terpingkal-pingkal.

***

“Yah, banketnya mau ditaruh dimana?”

“Ditaruh diujung meja aja”

Thanks ya, tadi kamu ngomongnya lancar banget. Mengingat sifat ente yang gak pernah serius eke udah khawatir aja kita bakalan batal menikah”

“hehe, tenang saja, sama Aa’ semuanya pasti rebes”

“Latihan berapa kali sih, yah”

“Eum.. aku kemarin baca-baca buku panduan, entah berapa kali, sambil nonton PD sih, tapi lancar kan, Ho-Ho-Ho” ujarnya tertawa pongah.

“Sinetron pede yang di SCTV?”

“Piala dunia, Rinriiiiin… Harusnya kamu mengikuti perkembangan jaman. Tadi malam kan ada semi final Brazil lawan Spanyol. Pe-de 2014 tahun ini emang Brazil sudah kembali berjaya. Neymar, Nilmar, Ganso, Kaka, blah.. blah.. blah..”

“APAAA!! Semalem kamu nonton bola?”

Rangga mengangguk sambil nyengir.

“Ah, susah deh emang ya nikah sama orang macem situ”

“Tapi suka kan”

“Weeee..”

“Hey, tadi ayah ketemu Rudi, dia sudah masuk SMP loh, adiknya mau Ujian Nasional tahun ini. Kata Rudi, preman pengasuhnya juga udah keluar dari tahanan beberapa bulan yang lalu, ngojek di TB katanya”

“Hush.. bukan preman, yah”

“i-iya, sorii..”

“Beruntung banget ya, sejak saat itu udah nggak kedengaran lagi yang namanya geng-geng motor.”

Rangga mengangguk , “Yuk ah, makan malem”

“Halo, selamat ya pasangan baru,” mertuanya memeluk menantunya kemudian mengajaknya duduk bersama.

“Terima kasih, pak”

“Anak saya tolong dirawat dengan baik, ya?

Rini dan Rangga menjamu kedua keluarga mereka menghabiskan malam pertama sejak pernikahan mereka. Masing-masing individu menikmati sisa-sisa hasil catering pernikahan mereka yang juga merupakan hasil catering keluarga Rini. Sate Maranggi. Somay tahu Bandung. Martabak Crepes. Gule. Ayam bakar Madara. Lontong. Kari. Risoles. Kue-kue kering. Semuanya tersisa banyak berhubung selaku event organizer orang tua Rini tidak keberatan membuatkan porsi lebih untuk pernikahan anaknya.

Rahmad mendekati Rangga duduk disebelahnya membawakan camilan untuk mereka nikmati.

“Rang, Bapak mau tanya sama kamu,” ucapnya serius,“Empat tahun lalu”

“Iya?”

“Jadi kamu sebenarnya dulu nyontek kuis RBT Bapak atau nggak?”

aykzir@2011

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

5 pemikiran pada “R chapter 6 : Rest of the story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s