R chapter 5 : Relief

“Kak, hari ini kita sahurnya makan apa?” Tanya buyung pada kakaknya yang sedang memilah-milah koran bekas yang ia kumpulkan di berbagai tempat untuk ia jual saat Shalat Jum’at esok siang.

“Hm.. nasi uduk sama ayam bakar angin”

“Ih, Buyung dibohongi terus, ayam bakar angin pasti bohongan kaya hamburger angin kemarin kan,” respon adiknya menggerutu.

“Iya, iya, nanti kalau kakak dapet uang lebih, kita makan yang lebih enak ya,” ucapnya menghibur, “kamu tuh harusnya bersyukur yung, masih bisa makan nasi, teman-teman kakak bahkan harus menunggu dua sampai tiga hari untuk bisa membeli nasi.”

Usai merapikan koran-koran bekas, Rudi berencana untuk menyetor hasil ngamen mereka kepada pengasuhnya. Banyak orang bilang pengasuh mereka adalah seorang preman yang memperalat mereka. Tapi apa boleh buat, bagi mereka pengasuhnya satu-satunya orang yang masih baik mau mengurusi mereka. Mendapat jatah tempat tidur di bawah jembatan, diberikan jatah makan ala kadarnya untuk sahur dan buka, dan lain-lain. Bagi mereka pengasuhnya itu seorang kakak.

Hasil ngamen hari ini hanya menghasilkan sedikit uang, sehingga malam ini ia hanya bisa menyetor tiga ribu rupiah saja.

Rudi berjalan menyusuri Dago melewati depot Petronas dan beberapa factory outlet ditemani lampu-lampu klasik yang memanjakan wisatawan yang datang ke Bandung. Pengasuhnya biasa berkumpul dengan teman-temannya di sekitar pasar simpang Dago. Anak itu berharap pengasuhnya akan membelikan kue pancong lagi. Rudi selalu kepikiran adiknya, Buyung.

“Halo, bang, kok makin ganteng aja nih”

“HA-HA-HA” tawanya lebar, “Bise aje loe muji-mujinya, dapet berapa duit hari ini”

Senyuman di wajah Rudi sedikit memudar, ia mencoba menjelaskan, “Hari ini setoran dikit, Yang ke Salman hari ini lagi pelit bang, Simpang Dago juga sepi.”

“Jadi, berape duit, he?”

“Eh, Ti-tiga ribu aja bang,” ucapnya terbata-bata takut dimarahi.

“Nah, bilang gitu aja muternya ke monas dulu, sini duitnya,” perintah sang preman padanya. Ia menyambar uang receh ditangan sang pengamen.

“..”

“Cepek, dua pek, gopek.. eum..” ucapnya lantang menghitung hasil jerih payah Rudi dan Buyung, “seceng, dua ceng.. okeh… Pas Tiga Juta”

“Hehehe”, Rudi terkekeh, “Bang, ada makanan gitu nggak? Si Buyung ngoceh terus kepengen makanan enak, bang”

“MANEE ADAA,” bentaknya membuat Rudi terperanjat, yang ternyata hanya bercanda, “Tapi bo-ong. Nih, tiga ribunya lo ambil, beliin yang enak-enak ya buat adek lo.”

“Seriusan nih, bang?” Mata Rudi berbinar, senyumnya melebar dibalik wajahnya yang lusuh.

“SHE-RI-NA”

“Munaf, Bang,” tawa keduanya. Rudi berpamitan ingin segera membelikan kue untuk adiknya.

“Oi, Rud,” Sang preman memanggilnya kembali, “Gimana, jualan koran lumayan kan, tuh duit ditabung ya.”

“Iya bang lumayan, makasih berat, kalau kata berita di tipi-tipi, ‘tengkyuu somach’”

“Haha, bagus-bagus, belajar bahasa Inggris lo, Rud. Tahun 2015 biar lo bisa nemenin turis dan dapet duit hurufnya S coret”

“Dolar bang”

“Yoi”

“Gimana, loe sama Buyung ikutan programnya anak-anak kampus sono? Apa tuh namanya.. euuum.. ya pokoknya punyanya anak kuliahan itu”

“Iya, bang, makasih infonye, lumayan sekarang Rudi sama Buyung udah bisa baca tulis dikit-dikit”

“hohoho, itu kebetulan aja abang liat pamflet di sekitar Ganesha, siapa tahu lo pengen pinter juga…”

‘BUZZZZ…..Cinta satu malam oh indahnya…. BUZZZ’

Telepon selular sang preman berbunyi melantunkan irama lagu dangdut sebagai ringtone nya. Rango mengangkat teleponnya.

“Ke arah Dago atau Taman Sari ya Boss? Siap, gue sama Bandot udah siap mau kesana. Pasti beres bos,” jawabnya singkat, kemudian menyuruh temannya untuk bersiap juga,“dot, lo cegat di Dago ya, biar gua ke Taman Sari”

Rudi hanya celingukan memperhatikan kakak asuhnya tiba-tiba disibukkan oleh telepon barusan. Kakak asuhnya menggeber motor bebeknya lalu berpisah dengannya.

“Oya, kelupaan gua, ini buat sahur lo sama Buyung,” ucap sang preman sambil menyodorkan dua lembar uang dalam pecahan dua ribu rupiah.

Kakak asuh dan temannya pergi meninggalkan Rudi di Pasar Simpang. Sejak bergabung dengan komunitas teman-temannya, Rudi selalu khawatir terjadi kenapa-kenapa dengannya. Ia merasakan firasat buruk.

“Hosh.. hosh.. hosh..” demikian suara nafas Rudi yang terengah karena berlari mengejar kakak asuhnya dari kejauhan. Ia berlari tanpa tujuan mengikuti sisa-sisa jejak arah motor bebek itu.

Rudi beristirahat sejenak di depan Sasana Budaya Ganesha. Dari kejauhan terdengar bunyi ricuh yang mengundang tanda tanya. Tidak lama suara-suara itu memudar hingga kembali sunyi senyap. Sesosok gelap muncul dari kegelapan Taman Sari. Insting kehidupana jalanannya membuat Rudi secara tangkas bersembunyi di balik semak-semak dan pohon. Seorang pria membopong pria lainnya. Keduanya sama-sama babak belur terutama pria yang berada dalam gendongan pria yang satunya. Pria yang menggendongnya terlihat jantan dengan kekuatan yang dimilikinya.

Rudi tahu benar kakak asuhnya kalau sedang emosi sehingga ia memutuskan untuk tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Rudi mengikuti kakak asuhnya pagi itu. Bukannya tidak mau membantu tapi Rudi tidak mau meruntuhkan egonya. Setelah meletakkan pria yang digendongnya ke atas strecther, ia meninggalkan rumah sakit dan pergi.

Keesokan paginya berita-berita di koran terutama koran Bandung sibuk membahas tindak kekerasan yang terjadi tadi malam. Pikiran Rakyat. Republika halaman 6. Kompas Halaman 16 rubrik Jawa Barat. Dan beberapa koran lainnya.

Dalam berita itu diceritakan bahwa salah seorang pelaku penganiayaan terhadap seorang mahasiswa salah satu institusi teknologi di Bandung telah menyerahkan dirinya ke polisi entah apa motifnya. RS Boromeus tiba-tiba kedatangan sejumlah wartawan yang ingin mengejar setorannya.

Rudi berusaha masuk ke area RS namun diusir oleh satpam berkali-kali. Usahanya yang ketiga dengan masuk melalui pintu belakang berhasil. Meja resepsionis yang ia tuju.

“Kak, saya mau menjenguk kakak yang tadi pagi dibawa ke sini”

“Tadi pagi ya, hm.. sebentar ya, dik,” sang resepsionis memperhatikan pakaian lusuh anak kecil ini yang seperti pengemis, sambil sedikit heran, “Adik siapanya kakak Rangga?”

Rudi mengintip kamar dan lantai ‘Rangga’ berada. Ia menoleh cepat ke arah resepsionis dan menggeleng, “hmm.. Lain kali saja, kak”

Ia berjalan cepat menghindari pantauan pegawai RS terutama satpam menuju kamar ‘Rangga’. Di sana cukup ramai. Rudi cukup lama mondar-mandir sambil memandangi kamar itu. Rudi duduk di bangku yang disediakan di lorong itu. Sambil clingak-clinguk, ia mengecek apakah sudah tidak ada lagi yang menjenguk.

“Hey! Hayo, ngapain di sini Rudi??” kejut perempuan muda di sebelahnya.

“Eh, kak Rini?”

2011@aykzir

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

5 pemikiran pada “R chapter 5 : Relief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s