R chapter 4 : Redemption

Dua belas malam.

Tiga motor.

Satu Kawasaki Ninja ZX-6R Berwarna hijau gelap, di atasnya seorang pria setengah baya dengan pakaian serba gelap. Sarung tangan hitam bercorak. Jaket kulit ketat. Helm cukup mahal terpasang mengamankan kepala pria dengan brewok tebal.

Satu motor Honda supra jenis lama yang sudah dimodif dengan model kepala Aprillia. Pengendara motor ini sedikit lebih modis. Tak mengenakan helm di kepalanya melainkan bandana biru dengan motif tengkorak. Baju dan celananya buntung memastikan tato naganya membuat orang-orang disekitarnya terintimidasi.

Satu motor Harley modifikasi untuk balapan yang juga serba gelap. Dengan helm modifikasi setengah kepala membentuk pelindung kepala prajurit Romawi, motor itu dikendarai seorang pria brewokan dengan tato wanita dengan tulisan yang samar-samar terlihat seperti kutunggu jandamu.

Ketiganya berhenti sejajar di pertigaan depan kantor Telkom daerah Suci. Lampu lalu lintas bukanlah suatu hal yang wajib dipatuhi bagi mereka. Beberapa kendaraan yang ingin melewati Pasopati mengalah untuk memberikan kesempatan sekelompok orang ini melaksanan ‘aktivitas’ mereka.

Bunyi dengungan kencang meraung-raung saling bersautan. Seakan tidak mau kalah Sang Janda Harley memberikan ejekan kepada lawan-lawannya dengan suara deru motornya yang besar. Sang supra juga tidak mau kalah, hasil modifikasinya terbayar sudah malam ini. Raungan motornya terdengar paling kencang di antara ketiga pembalap liar ini.

Beberapa orang dari atas motornya di pinggir jalan menyoraki pembalapnya masing-masing untuk menang. Satu sampai 4 orang melakukan pengamanan perimeter. Satu orang berada di depan ketiganya untuk memberikan aba-aba.

“REEEAA-DEEHH (ready)”, teriak sang pengadil balapan.

“Tiga.. “

Ketiganya saling bergantian mengegas motor mereka terdengar seperti auman-auman harimau.

“Dua”

Beberapa pembalap saling melirik satu dan lainnya sambil tetap fokus pada jalanan yang sudah sangat lengang itu.

“Mulai!!”

Ketiga motor maju dengan akselerasi bervariasi berusaha mendapatkan tempat terdepan. Tiga? Empat lebih tepat. Beberapa penikmat balapan di sekitar daerah itu bersorak riuh, bukan mendukung siapa-siapa, tapi lebih karena emosi mereka terpancing.

Urutan terdepan balapan itu bukannya Harley, Supra, atau Ninja, melainkan Tiger. Pengendaranya sendiri tampak cuek dengan balapan itu. Sekelompok penonton yang semuanya merupakan pendukung pembalap Supra naik ke atas motornya masing-masing untuk mengejar sang Tiger. Salah seorang petinggi dalam kelompok itu mengambil telepon selulernya.

“Rang, siap-siap, ada mangsa” Satu kalimat intruksi singkat yang segera dipahami oleh anggotanya yang barusan dihubungi. Ia lalu menutup telepon selulernya.

“Sorry, man, padahal ini balapan penting tapi ada aja yang gak ngerti kalau ini daerah gue. ******** ****** emang,” ujarnya geram dan memaki. Ia menaiki motornya berpamitan dengan geng lainnya, “Lain kali bro, biar yang satu ini kita urus”

Jauh di daerah Taman Sari salah seorang anggota baru geng mereka sudah bersiap di tempat. Mendengar kabar bahwa sang target bergerak entah menuju Dago atau tempatnya, ia lalu bersiaga. Ia mengendarai motornya dari arah Simpang menuju lokasi. Motor bebeknya ia parkirkan menyilang di dekat pos LAPAN yang kalau malam sepi tak ada penjaga.

Daerah Taman Sari memang cocok untuk memangsa target. Arahan dari pemilik kebun binatang bandung untuk tidak memasang lampu agar para binatang di sana bisa tidur menjadi keuntungan tersendiri bagi para penyamun. Banyak mahasiswa dari kampus di dekatnya terjerat. Dan sejauh ini belum ada tindak lanjut dari aparat dan pemda untuk menangani dilema ini.

Sebuah motor terdengar datang dari kejauhan. bergerak pelan menuju TKP. Sesaat motor itu hampir tiba, ia majukan motornya cepat. Namun tidak terlalu cepat. Ia tertabrak motor yang harusnya menjadi targetnya. Setidaknya motor targetnya juga terjatuh.

Beberapa rekannya tiba disekitarnya.

“Woy, lo ***** banget sih, gua suruh jaga malah lo yang jatuh. Motornya juga rusak gini, mana ada bisa kita pake ******,” makinya sambil mengeluarkan sumpah serapah.

“Sori, bang, maklum masih pemula,” sambil ketawa menahan sakit. Kakinya agak keseleo karena ikut terpental.

“gara-gara si Rango ****, pasti banyak warga yang denger bunyi tabrakan tadi. Cepet kita beresin nih anak. Panjul! tuh motor bisa nyala ga?” instruksi bossnya pada anak buah lainnya

Rango mendekati lelaki itu, “Hey man, situ oke?

Bossnya menyingkirkan anak buah barunya lalu merogoh seluruh pakaian target. Handphone. Dompet. Handphone lagi. Tas berisi perlengkapan futsal pria itu ia tinggalkan di sana.

“Ayo, cabut man, keburu ada yang dateng. Sialan lo Rang, motornya harusnya bisa kita bawa.”

Sang Boss menghampiri pemuda itu lalu memaki di telinganya, “JANGAN BELAGU LOE, MENTANG-MENTANG MOTOR LOE GEDE, RESPEK LOE SAMA YANG NAMANYA GENG MOTOR. UDAH TAU KITA LAGI BALAPAN”

Pemuda itu tiga-empat kali mendapat perlakuan kasar dari geng motor itu. Rango ikut menimpali untuk menebus kesalahannya tadi. Pemuda itu hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya.

Secepat kilat, secara terorganisir mereka membersihkan wilayah itu. Sang pemuda dilempar ke pinggir jalan. Tiger sang pemuda digiring ke pinggir trotoar. Semua anggota geng kembali ke motor mereka masing-masing dan pergi.

Rango tidak mengekor teman-temannya. Rango dalam dilema. Tak mengira julukan premannya bisa membuat seorang pemuda tidak bersalah harus terluka. Ia memutuskan untuk bergabung dengan geng motor itu agar ia mendapatkan status preman dengan level lebih tinggi. Rango cenderung dikucilkan di daerah tempat tinggalnya. Jalanan.

Sunyi. Jalanan itu masih lengang. Tidak ada lagi suara-suara riuh di sana. Hanya ada Rango dan pemuda terluka.

Astagfirullah,’ ucapnya refleks.

Sudah hampir tiga tahun ia tidak beristighfar. Bahkan ia tidak pernah sekalipun berpuasa di bulan yang kata para ulama penuh berkah dan rahmat. Shalat terakhir kali ia lakukan hampir setahun yang lalu. Entah kenapa dia begitu iba melihat pemuda ini.

Ia duduk termangu di pinggir trotoar memandangi luka dan memar pada muka sang pemuda. Dingin. Perutnya lapar. Bukan karena ia sedang puasa, namun karena semua kejadian ini memeras otaknya. Konflik internal sedang berkecamuk dalam pikirannya. Seolah dikendalikan oleh orang lain, ia bangkit dari trotoar. Motor bebeknya yang juga tertabrak tidak bisa ia nyalakan.

Rango membopong sang pemuda ke pundaknya. Ia menuntun Rango berdiri. Namun sang pemuda tampak tak lagi memiliki tenaga. Ia menghela nafas panjang lalu tersenyum.

‘Memang sudah waktu gua’

Rango menggendong pemuda itu ke punggungnya. Ia berjalan menyusuri Taman Sari. Setapak demi setapak hingga ia tiba di Dago. Rumah sakit paling dekat dari tempatnya menyambut kedatangan mereka dengan sigap. Sang satpam membantu Rango membopong pemuda itu. Sang pemuda itu segera dimasukkan ke ER untuk perawatan darurat.

Tanpa banyak berkata-kata Rango meninggalkan tempat itu berjalan menyusuri jalan Dago. Seakan tidak terpedaya oleh keramahtamahan kota Bandung, ia meneruskan perjalanannya ke selatan. Setibanya di sana ia tertidur.

“Pak, pak, bangun, Bapak gak boleh tidur di sini” pinta sang petugas berseragam dengan sopan keesokan paginya.

Dengan sisa kesadarannya Rango mengucapkan, “Silakan tangkap saya, Pak”

2011@aykzir

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

5 pemikiran pada “R chapter 4 : Redemption

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s