R chapter 3 : Rangga

“Apa-apaan sih pake ngadu segala,” keluh Rangga seusai berbuka. Pikirannya suntuk dengan hal-hal yang tidak berguna yang menghambat pikirannya beberapa hari ini.

Hari ini ia praktis tidak bertemu siapa-siapa di kampus, berhubung hari ini hanya berisi materi kuliah 2 kuliah berbobot dua sks. Sejak dua hari yang lalu ia tidak pernah lagi bertukar pesan dengan pacarnya. Mm.. Mantannya.. Yeah, it’s complicated. Ia dan teman-temannya sudah berencana nonton pirates carribean ke-5 yang katanya diputar hari ini. Agak merasa bersalah karena harus kembali melewatkan tarawihnya. Dua tahun ini Rangga memang sudah terjerat dalam gaya hidup hedon yang membuatnya sering keliaran di sekitar kota Bandung. Tidak terjerat seburuk itu, tapi cukup buruk bagi dirinya sendiri. Boros. Tidak sehat. Buang waktu.

Setidaknya ia tidak ikut-ikutan party ke klub seperti teman-teman lainnya. Beberapa pemuda di Bandung memang sudah banyak yang jatuh dalam gaya hidup kota Bandung. Disadari atau tidak. Untungnya di lingkungan kampusnya tidak mendukung aliran-aliran aneh walaupun boleh jadi aliran itu ada.

Misal. Gaya hidup GAY. Ironik. Tapi komunitas gay di kota ini sudah tidak dipungkiri lagi. Rangga pernah menonton movie di braga, lalu ia dan Rini memperhatikan dua cowok yang nonton di ujung deretan atas salah satu studio bioskop. Bukannya asik menonton film, mereka justru tertawa membahas dua gay itu.

Aliran aneh lainnya mungkin, aliran NII. Aliran yang sedang heboh dibicarakan orang setelah salah seorang korbannya dicuci otak. Para orang tua mahasiswa di kota-kota besar stress mendengar isu ini. Orang tua Boni, teman baiknya bahkan dikirimkan mentor privat agar anaknya tidak terjerumus aliran itu. Tapi akhirnya orang tuanya mengerti bahwa anaknya dapat menjaga diri.

Banyak gaya hidup aneh yang merajalela di kota ini. Salah satu gaya hidup aneh yang sudah tidak terasa aneh karena ngetrend di kalangan pemuda Bandung saat ini adalah, gaya hidup Hedon, seperti Rangga. Bandung sebagai kota yang relatif lebih kecil dibandingkan Jakarta memiliki pusat perbelanjaan dimana-mana yang membuat warganya menjadi konsumtif. Mall. Sebut saja ada 8. Give or take. FO? Ratusan. Dan yang paling penting kuliner dimana-mana. Banyak spot makanan kuliner di Bandung, mulai dari Dago Pakar, Punclut, Moko Daweung, Lembang, sampai Madtari. Mencoba semua hal baru termasuk berbagai sajian kuliner Bandung sudah laiknya petualangan game RPG. Tapi sekali lagi, Rangga belum mencoba sejauh itu. Ia memilih untuk tidak terjerumus pada kehidupan gelap Bandung. Party. Sex. Narkotika. yeah, Life is our choice.

“Rang, lo ntar malem main futsal nggak?”

“Jam?”

“Jam 11 di antapani”

“Wokey”

Maksudnya ia akan tarawih terlebih dahulu namun karena buka hari ini ia makan terlalu banyak, ia memutuskan untuk tarawih di kosannya.

‘Dua, tiga, jam lagi’

Makan buka barusan cukup membuatnya lupa dengan mantannya. Walaupun ia bukan seorang yang begitu taat, namun ia sadar kalau perbuatannya itu bukan hal yang baik buat dirinya terutama di bulan puasa. Manajemen emosi menjadi perhatiannya. Belakangan ini ia lebih sering disibukkan oleh emosinya yang labil.

Rangga mengambil kunci motor Tiger miliknya. Setelah satu hingga dua percobaan mengignite mesinnya, ia segera meninggalkan kosannya menuju Antapani.

“Lo mainnya jelek banget tadi”

“Maklumlah, puasa, belom sempet ngegym

“Alasan aja lo”, temannya tertawa ringan. Futsal malam itu berakhir pukul 12.15.

“Madtari, Rang?”

“Gue balik aja lah”

Hari ke 18 Ramadhan merupakan salah satu hari masa transisi dari 10 hari pertama menuju 10 hari terakhir. Berdasarkan apa yang diajarkan oleh guru ngajinya saat kecil, tahapan ini adalah salah satu hari dalam tahapan hari pengampunan.

Muncul dibenaknya apa yang ia lakukan selama 17 hari ini. Apakah ia telah melewati 10 hari spesial pertama untuk memaksimalkan hari rahmat yang berlimpah? Apakah ia telah melewati 7 hari terakhir ini dengan meminta ampun kepada-Nya. Terngiang beberapa dosa kecil dan dosa besar yang telah ia perbuat, ‘I didn’t give the damn thing about it, really..’ ucapnya dalam hati.

Biasanya ia akan belok ke arah Dago untuk langsung melaju ke arah kosannya, namun entah kenapa ia mengidam martabak telor balubur. Mungkin sekalian beli sate buat sahur nanti.

‘ugh, ya pasti udah bubar lah ya, ini jam..umm..,’ ia merogoh sakunya untuk mengecek jamnya, ‘setengah satu..’, ujarnya mengeluh.

Ia memutuskan untuk pergi ke CircleK untuk membeli beberapa Snack.

Gelap. Dingin. Udara malam Bandung yang cenderung lembab terbelah dua oleh motor yang Rangga geber. Menyusuri Taman Sari, motor itu ia bawa hati-hati akibat banyaknya lubang di jalan itu. Tiba-tiba muncul momen singkat dan cepat dimana ia begitu menyesal.

‘Ahhhhhh!! Pirates Carribean!! Gua lupaaaaa!! malah main futsal,’ sesalnya dalam hati sambil teringat akan tiket di dompet yang sudah dibeli olehnya.

Tapi sebenarnya pada momen itu ada hal yang lebih penting yang membuatnya begitu menyesal malam itu. Dalam sepersekian milisecond ia begitu menyesali mengapa ia harus melalui jalan itu.

“SHRAA-RKKK”,

Bunyi keras menghantam ujung depan bemper Tigernya. Ia sempat menghindar tapi tidak cukup cepat. Tubuhnya terlepas dari dudukan motor, motornya terseret. Ia terpelanting tidak terlalu jauh dari motornya. Motornya yang besar dan berat membuatnya sedikit aman. Badannya cukup kesakitan. Nanar. Ia mendongak ke atas melihat orang-orang di sekitarnya diterangi oleh cahaya lampu neon dari motor yang lalu lalang. Sesosok orang paling dekat dengannya menghampirinya.

Hey man, situ oke?

2011@aykzir

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

7 pemikiran pada “R chapter 3 : Rangga

    • masih belom kok. Masih sering ngeliat yang namanya geng motor, terutama di persimpangan di depan Gasibu jalan Suci ke arah Pasopati. Kalo mereka udah mulai balapan geng motor pasti deh semua kendaraan di belakangnya harus ngalah kalau gak mau dimacem-macemin seperti Rangga, wew

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s