R chapter 2 : Reassure

Setumpuk berkas kuis tersusun rapi di atas meja kerjanya. Tapi berbagai urusan seperti bimbingan, rapat dosen, dan lainnya membuat Bapak Rahmad harus menunda pekerjaannya. Ia tipikal dosen yang straightforward. Tidak galak, tapi kalau berhubungan dengan pengambilan keputusan akan selalu tegas.

Rahmad memilin ujung kumisnya yang tebal sambil memperhatikan sejenak berkas kuis yang baru saja selesai dikerjakan oleh mahasiswanya pagi ini.

“Hmm.. Setelah rapat mungkin,” gumamnya dalam hati.

Salah seorang mahasiswa bimbingannya masuk ke dalam ruangannya. Asep namanya. Ia membuka laptopnya sambil menyiapkan buku-buku referensinya.

“Gimana sep, udah siap buat sidang kan?”

“Insya Allah sudah pak, doakan lancar ya. Ini kopian terakhir draft TA saya pak, ” tambahnya sambil menyerahkan satu jilidan tebal TA miliknya yang baru diprint.

“Hm, sudah oke mungkin masalah kerapihan aja sih, Sep. Misalnya ini spasi sama huruf capital.”

Bla bla bla. Beberapa wejangan bimbingan TA ia sampaikan kepada anak bimbingannya dengan antusias. Asep memang anak bimbingan Pak Rahmad yang akan mengajukan Sidang bulan ini untuk mengejar wisuda Oktober. Sementara itu pikirannya teringat pada anaknya tadi malam. Anak bungsunya yang paling kecil itu tiba-tiba pulang dengan muka merah basah. Entah apa yang terjadi dengan anaknya, namun ia percayakan apa yang terjadi pada anaknya itu kepada kakak dan ibunya. Saat ini terlalu banyak distraksi yang harus diselesaikan secara fokus.

“Biar urusan Rini nanti saja di rumah,” gumamnya sendiri lagi.

Tiga puluh menit usai bimbingan, Rahmad beranjak dari kantornya untuk rapat. Puasa di siang bolong yang terik ini tidak menghambat kinerja dosen ini. Ia terbiasa untuk shalat Dzuhur di Mesjid Salman di depan Ganesha kalau tidak ada halangan. Sambil berdiskusi dengan rekan dosennya mereka berjalan menyusuri sejumlah mobil mahasiswa yang berada di parkiran SR.

Ia memperhatikan seorang remaja yang menyuguhkan koran-koran yang dijual pagi ini. Enam belas tahun, tidak, mungkin masih empat belas tahun seusia anak SMP. Pikirnya dalam hati

“Republika pak? Sindo? Kompas? Pikiran Rakyat? Ada info tentang kapan Idul Fitri di sini pak. Kalau Bapak beli 2, saya kasih gratis satu, gimana Bapak tertarik, kan,” bujuk salah seorang loper koran pada bapak-bapak yang hendak pergi ke Salman.

“Hey, Buyung, kau ada kembalian tidak? Sini, “tanya loper koran itu pada adiknya yang mengemis pada keramaian di sana, “iya, iya, kakak janji nanti kamu aku belikan cireng itu, sabar ya”.

Rahmad melebarkan bibirnya tersenyum melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya. Seorang kakak yang menjadi loper koran dengan ide cemerlangnya ‘Beli 2 gratis 1’. Seorang adik yang polos menginginkan jajanan seperti cireng. Subhanallah. pikirnya. Ia juga merasa bersyukur bahwa keluarganya mendapatkan rizki yang cukup untuk menjalani kehidupan mereka. Rahmad yang iba memberikan sedekah secukupnya kepada adik sang loper koran itu.

Rahmad kembali ke kantornya memeriksa lembar kuis itu. Begitu membosankan bagi dosen ini. Ia lebih menyukai mengerjakan risetnya, tapi apa boleh buat ini adalah salah satu alasan kenapa ia mendapatkan gaji di sini. Ia mengernyitkan keningnya saat memeriksa satu lembar kuis milik seorang mahasiswanya.

“Aneh”

Ia mengecek ulang beberapa lembar kuis yang lain. Lantas ia menemukan kesamaan jawaban esai itu. Sudah jelas apa yang terjadi pada kedua lembar tersebut. Dua buah goresan membentuk huruf T dituliskan pada ujung kanan atas lembar tersebut. Berusaha untuk bersikap arif, Rahmad menunda keputusannya untuk memberikan hukuman sebelum bertemu dengan mereka.

Sore telah tiba, ia merapikan meja kerjanya sejenak sebelum meninggalkan kantornya siang itu. Sore ini agak dingin berhubung hujan cenderung turun di sore hari beberapa hari ini. Ia menuruni anak tangga karena lift gedung itu sedang diperbaiki. Melewati lapangan cinta segitiga dimana para anggota grup marching band tetap berlatih walaupun ini masih bulan puasa, ia berbelok menuju Stand ATM. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu saat bertemu dengan seorang mahasiswa yang sedang bersenda gurau di deretan balok kursi.

“Rangga, Bapak mau bicara sebentar, boleh?”

Yang dipanggil merasa terkejut dan sontak bangkit dari tempat duduknya meninggalkan teman-temannya. Dari kejauhan terdengar olok-olokkan mereka. Ia tak memperdulikannya. Setelah berjalan menjauhi keramaian mereka berdiskusi.

“Puasa nggak, Kamu?”

“Iya, pak puasa, mau dibatalin sih nanti,” ucapnya bercanda untuk mencairkan ketegangan dirinya sendiri.

Sementara Rahmad tetap dingin menyikapi sikap lelaki ini, “Nanti kamu mau main lagi sama anak saya? Saya nggak suka kalau kalian main sampai malam-malam. Bukannya saya melarang tapi nggak sopan saja.”

“Er- iya pak, kita nggak main-main sampai malam lagi kok”

“Yang bener?”

Lelaki di depannya hanya bisa mengangguk kecil.

“Sudah, ini bulan Ramadan, kalian sebaiknya jangan keliaran malam-malam. Alasan buka puasa bareng. Sebaiknya kalian tarawih, memperbanyak ibadah.”

Lelaki di hadapannya hanya membalas dengan anggukan lain dengan memaksakan senyuman di wajahnya, berpamitan lantas ia pergi kembali menuju teman-temannya.

2011@aykzir

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

5 pemikiran pada “R chapter 2 : Reassure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s