R chapter 1 : Rini

Sinar di pagi itu merobek gelapnya kamar Rini dari sela-sela ventilasi kamarnya. ia yang tak kuasa menahan kantuk usai sahur hari ke-15 dan Shalat Shubuh pagi itu terpaksa membuka kelopak matanya yang sedikit sipit. Matanya yang sayu mengintip ke arah jam weker di atas meja rias mini di samping kasur mungilnya.

“Rin, Kamu nggak berangkat ke kampus?”

“Iya, bu, Rini udah bangun kok, ini mau masuk kamar mandi”

Rini berusaha bangkit dari kasurnya dengan sisa-sisa kesadarannya. Buka bersama teman SD-nya sampai hampir tengah malam kemarin membuatnya lelah sekali. Gorden biru muda yang menutupi kamarnya dari cahaya matahari yang menerobos masuk ia buka sebagian menyisakan bagian ujung gorden yang malas sekali untuk ia ikat. Rini memutar-mutar badannya. Kepala, pinggang, dan tangannya. Rambutnya hitam lurus sebahu terkibas searah dengan putaran lehernya.

Usai menyelesaikan aktivitas “mandi”-nya yang oleh kakak-kakaknya sering disebut dengan mandi beruang, karena begitu lamanya adiknya itu mandi, Rini menuju ruang keluarga dimana kakaknya sedang membantu ibunya memasak untuk catering pesanan.

“Kamu itu ya, Rin, mandi kok kaya beruang”

“Ih, nggak relevan tauk. Beruang kan yang lama tidurnya, bukan mandi, week,” celotehnya sambil menjulurkan lidahnya, ” Itu namanya HI-BER-NA-SI”.

Rini dengan asal mengambil kentang di tangan kakaknya lalu memotong seenaknya. Ia bagi dua kentang di atas tatakan. Kemudian ia bagi menjadi 4, 8, dan seterusnya hingga bentuknya kecil sekali.

“Riiinnndaaaaangg… Potong jadi dadu dong, riiin..”

“Udah, udah. Biarin ibu sama kakakmu aja yang masak catering. Ke kampus gih rin, nanti telat loh,” ujar ibunya mencoba melerai.

“Jam 8 kok bu, tenang aja”.

Rini menuruti nasihat ibunya lalu masuk ke kamarnya di ujung lorong. Setelah merapikan kamarnya. Ia menyiapkan buku catatan dan kertas-kertas tugasnya ke dalam tasnya. Setelah itu Rini mulai berpakaian mengenakan jeans yang tidak ketat, pakaian terusan sampai selutut abu-abu miliknya. Ia ambil bedak di atas meja rias itu secukupnya. Rambutnya ia kuncir ke belakang hingga menyerupai buntut kuda. Mulutnya berkomat-kamit memikirkan apa saja yang harus ia lakukan di kampus seharian ini.

‘Ah, iya, buka bareng Rangga kan niatnya hari ini. Gimana minta izinnya lagi ya’

“Rini, Ayah mau ngomong sama kamu”

Sesosok tinggi dan bijak masuk ke kamarnya. Tidak terlalu tinggi sebenarnya, mungkin Rini yang relatif jauh lebih pendek dari ayahnya. Rini mempersilakan ayahnya duduk di kasurnya yang sudah ia rapikan.

“Kemarin pulang malem lagi ya,” tanya ayahnya pelan.

Rini hanya bisa mengangguk pelan. Rini paham kemana arah pembicaraan ini. Dalam hatinya ia cukup kesal kenapa pembicaraan ini harus terjadi hari ini.

“Sudah, jangan main terlalu larut malam. Nggak baik. Pamali, Rin, kamu tuh perempuan. Apa kata orang kalau kamu keluyuran malem-malem terus. Mulai hari ini Ayah nggak ngizinin kamu keluar setelah jam 9 malam. Ingat, Rin kamu juga harus jaga baik nama Ayah dan Ibu kamu loh”

“Iya-iya yah, nggak keluyuran lagi malam ini,” ucapnya ragu, “tapi..”

“Nggak ada tapi-tapi. Nanti kita teraweh bareng ya , janji?”

“Eum.. janji deh sampai rumah maksimal jam 7,” Rini selalu kalah kalau berdebat dengan ayahnya.

Siang itu pikiran Rini terus melayang pada apa yang terjadi dengan janjinya maghrib nanti. Janji dengan Rangga. Janji dengan ayahnya. Ia jadi nggak fokus sama kuliahnya hari ini. Kuliah di lab yang paling ia sukai sekalipun jadi terasa begitu menyebalkan.

“Duh, gue udah nggak ketemu Rangga sejak sebelum Ramadhan nih, dan kenapa hari ini sih. Bismillah Rin, semuanya pasti baik-baik aja,” Ujarnya memantapkan dirinya dalam hati.

Maghrib tiba, Rini menunggu di gerbang depan Ganesha sambil membeli takjil. Es buah di gerbang depan memang selalu menjadi favorit bagi mahasiswa di kampus itu. Jika terlambat sedikit biasanya sudah habis laku terjual. Walaupun pedagang lainnya sudah memberikan diversivikasi takjilan, tapi tetap saja takjilan itu seolah menjadi komoditas utama gerbang depan Ganesha.

“Yuk, Rin”, ajak pacarnya untuk berangkat ke tempat yang telah dipesannya.

“Kemana kita?”

“Sari Bundo daerah Riau kesana dikit”

“Eeeeh.. jauh banget sih, di deket-deket sini aja deh”

“Aku kan udah pesenin tempat di sana, suka rame soalnya”

“Emm, ayam bungsu aja yuk, balubur,” sambil mengedipkan matanya berusaha mempengaruhi pacarnya. Rini mengalami dilema hebat. Ayahnya atau pacarnya.

“Nggak ah, ayo lah”

“Udah Maghrib belom?”

“Udah kok”

“Aku nggak boleh pulang sebelum jam 7 nih, udah janji sama ayah”

“Loh, kok gitu sih Rin. Kamu kan udah janji. Seminggu yang lalu kamu bilang lagi quiz, terus ada buka bareng fakultas, terus buka bareng himpunan, terus buka bareng temen SD, terus buka bareng temen SMP, SMA, TPB, bla bla bla.. terus aja gitu.”

“Iya, tapi. Hari ini ayah sudah gak sabaran”

“Memang kamu udah coba membujuk? Aku kan pasti nganterin sampai rumah”

Rini tertunduk, ia tak pernah berani melawan ayahnya. Entah karena ia anak bungsu atau karena ia terlalu takut dengan kharisma ayahnya. Ia selalu sayang dengan ayahnya, ia nggak pernah berani untuk membuat ayahnya marah. Sebenarnya ayahnya bukan tipikal orangtua galak yang suka menyuruh-nyuruh tapi ia hanya tidak mau melepaskan kebiasaan itu.

Rini berada pada suatu dilema. Breaking the habit. Judulnya itu. Ia tidak pernah membuat ayahnya marah, dan Rini tidak mau mengambil resiko kapan dan bagaimana ayahnya jika marah. Di lain pihak Rini juga tidak pernah menolak ajakan jalan-jalan dengan pacarnya kalau sudah janjian. Sebelum Ramadan hampir setiap pulang dari kampus mereka pergi bersama. Tempat makan baru di PVJ, tempat makan baru di Ciwalk, tempat makan baru di daerah dago atas, dan tempat makan-tempat makan lainnya wajib mereka kunjungi. Sudah menjadi suatu tradisi bagi pasangan itu untuk menjadi penguasa kuliner Bandung. Pertanyaannya : Kebiasaan mana yang rela ia korbankan?

“Udah ah, kita makan di mana dong yang deket”

“Warpas?”

“ermm..” Rini memperhatikan jam tangannya yang menunjuk pukul 18.45, “Ordernya lama banget, ya nggak sih.. duh dimana dong ya”

“Yaudah kita ke Bungsu aja deh”

“Eum, eum… eum..”

“Naik, Rin, biar gue anter pulang”

“Eh”

Rini naik ke atas motornya dengan perasaan bersalah. Pacarnya juga kembali ke mode “gue-elo” terhadapnya. Perjalanan 15 menit di atas motor Rangga terasa begitu lama. Ia sudah membelikan takjilan es buah untuk menebus rasa bersalah. Ia terasa kalut. Terlepas dari tugas-tugas kuliah sipilnya yang membeludak, berbagai urusan tiba-tiba muncul di pikirannya. Halaman pagar hijau yang kecil dengan cat pagar biru menandai sampainya mereka di rumah Rini. Rini turun dari motor.

“Rang, jangan pundung dong, ini kan Ramadan,” cubit Rini sambil menyodorkan bungkusan es buah, “diminum ya”

“..”

“Kok diem sih Rang, nanti ganti di lain hari deh.. hari apa ya eum..” Rini semakin merasa bersalah karena ia sudah membatalkan janji buka bareng mereka 12 kali. Belum termasuk beberapa jalan bareng sebelum Ramadan. Hubungan mereka memang kurang langgeng tapi ia tak mengira Rangga bisa sekesal ini. Rangga akan menjadi diam dan memendam perasaannya kalau sedang marah, “Sabtu atau minggu bisa kayaknya Rang, gimana?”

“Kayaknya, hm..”

“Eh, bisa kok, bisa”

“Rin”

Pria di depannya menghidupkan motornya kembali sambil menatap Rini serius, “Gue nggak suka sama sikap lo yang belakangan ini kurang care sama gue, Rin”

Sang lelaki berhenti sejenak memperhatikan pasangannya yang air mukanya menjadi lebih melankolik. Bibir Rini sedikit bergetar mencoba untuk mengumpulkan dua-tiga kalimat yang tepat untuk menjelaskan semuanya, sementara terlihat dari matanya mulai berkaca-kaca.

“Apaan sih, aku care kok. Cuma aku.. cuma..”, Rini tidak bisa mengumpulkan sejumlah evidence bahwa ia care dengan pacarnya melihat dua bulan belakangan ini ia terdistraksi oleh banyak hal, ia mulai terisak,” eum.. Kamu harusnya juga bisa pengertian dong”.

“Well, mungkin untuk sementara ini kita break dulu ya.”

2011@aykzir

Lanjut ke chapter berikutnya :

R chapter 1 : Rini

R chapter 2 : Reassure

R chapter 3 : Rangga

R chapter 4 : Redemption

R chapter 5 : Relief

R chapter 6 : Rest of the story

10 pemikiran pada “R chapter 1 : Rini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s