don’t cheat your tajwid

Which faster? Read Quran using tajwid one or without one?

Mungkin bagi kalian yang sedang setoran Quran Ramadhan pernah mempertimbangkan ini. Terkadang saya pikir kalau mengambil jalan pintas dengan mencurangi tajwid, setoran kita bisa segera selesai, tapi rupanya persepsi ini sama sekali salah. Jangan pernah berpikir bahwa mengaji tanpa memperhatikan tata aturan tajwid (terutama aturan mad yang memiliki relasi dengan waktu) membuat Anda membacanya lebih cepat daripada mereka yang menggunakan tajwid.

Saya teringat waktu masih SMP ketika itu saya “mengadu” ngaji Yasin siapa yang lebih cepat. Yah, sebenarnya kisahnya nggak begitu. Karena kesal disuruh ngaji yasin bareng waktu lagi asik santai-santai :p dan nyokap cenderung tidak akan mengalah sampai anaknya nurut akhirnya saya menurutinya dengan sarat saya ngaji sendiri. Maksudnya agar saya lebih cepet duluan dengan membaca Quran fast skimming lalu saya bisa kembali main hahaha. Tapi rupanya kita selesai bersamaan.

Dalam kasus adu ngaji di atas yang membuat saya lambat mungkin dikarenakan saya banyak melakukan kesalahan bacaan, tertabrak-tabrak, salah sebut, rasa gak ikhlas ngaji, dan sedikit rasa guilty yang membuat saya harus mengulangi membaca beberapa ayat sampai berulang-ulang.

Tajwid nampaknya sudah didesain supaya membuat bacaan Qur’an memiliki ritme yang indah dan enak didengar juga sesuai dengan potongan nafas kita.

Contohnya mad arid lissukun yang biasanya ada di bagian terakhir ayat seperti : “Rahiiiiiiim” pada basmalah yang memiliki panjang 6 harakat, setelah saya analisis ada gunanya kalau diterapkan dengan benar. Saat mengucapkan dengan panjang adalah momen dimana kita melepaskan seluruh sisa nafas dalam paru-paru kita. Sehingga ketika selesai bilang ..hiim dalam kasus basmalah, kita dapat menarik nafas panjang agar cukup digunakan pada potongan ayat selanjutnya. Rupanya kita memang harus pintar memanajemen nafas. Satu tarikan nafas harusnya digunakan untuk satu potongan ayat, entah itu ayatnya penuh atau dipotong sendiri oleh kita. Dengan manajemen seperti itu ngaji bisa lebih rileks karena kita nggak ngos-ngosan.

Contoh lainnya adalah idgham bigunnah, gunnah, dan ikhfa. Yang ada gunnah-gunnahnya itu maksudnya adalah bacaan yang ditahan. Wew, penjelasan yang ini silakan cari sendiri lah ya. Saya analisis kegunaan yang ditahan dan didengungkan ini adalah agar kita punya kesempatan untuk melihat huruf di sebelahnya lagi. Saat menahan atau mendengungkan pertemuan huruf tersebut selama kurang lebih 2 harakat, rasanya itu sudah cukup untuk mengintip 2-5 huruf yang akan muncul setelahnya. Hal ini dapat mengindari kita dari tabrakan kata yang terjadi gara-gara telat mikir hehehe..

Contoh terakhir adalah qalqalah. Ketika menemui huruf keras yang mati seperti dal, ja, to, ba kita harus memantulkan bunyinya. Jadi misal ta ketemu ba sukun, bukan dibaca “ta-b” melainkan ta-b(e). Kalau saya analisis qalqalah punya manfaat agar bunyi lantunan suatu ayat dapat melaju dengan enak didengar. Bayangkan aja kalo huruf  keras itu dimatikan tanpa dipantulkan, kebayang susahnya nyebut nya.

So, do you want to do some fast read Quran? Don’t cheat your tajwid, just follow with it.

Satu pemikiran pada “don’t cheat your tajwid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s