Analisis Juventus pra dan pasca Calciopoli

Baru baca ini dari kompas. Analisis yang baik mengenai kebijakan transfer Juventus pra dan pasca Calciopoli. Bagus menurut saya sebagai juventini sejak musim 1997/1998 :

——

Disparitas Juventus Pra dan Pasca Calciopoli

KOMPAS.com – Banyak orang melihat perbedaan besar antara Juventus pra-calciopoli dan pasca-calciopoli. Juventus pra-calciopoli adalah tim tangguh pantang menyerah yang selalu punya 1.001 cara kembali dari keadaan tertinggal untuk keluar sebagai pemenang. Salah satu “tersangka” di balik ketangguhan mereka itu adalah sang guru transfer andal, Luciano Moggi. Sebaliknya, “Si Nyonya Tua” pasca-calciopoli adalah tim rapuh yang inkonsistensi. “Tersangka” utamanya adalah, Alessio Secco.

Karier Moggi di Juventus dimulai pada 1994. Sebelumnya dia sempat bekerja untuk beberapa tim Italia lainnya seperti Torino, Napoli, Roma dan Lazio. Sejak itu, ia berhasil membangun karier di tim “Si Nyonya Tua” sebagai salah satu juru transfer terbaik di Italia dengan sederetan cerita suksesnya mendatangkan pemain-pemain muda potensial atau bintang besar sepak bola bermental juara dengan harga miring.

Di musim pertamanya, ia sukses membantu Juventus merekrut nama-nama seperti Alessio Tacchinardi, Ciro Ferrara, Didier Deschamps dan Paulo Sousa. Para pemain baru tersebut, seperti yang kita ketahui, berhasil menjadi tumpuan klub selama bertahun-tahun lamanya dan mendatangkan berbagai trofi bergengsi ke klub asal Turin tersebut.

Ferrara dianggap sebagai salah satu bek terbaik Italia di generasinya, di samping nama-nama besar lain seperti Franco Baresi, Alessandro Costacurta dan Paolo Maldini. Ia juga sukses mematri tempat di tim utama Juventus selama sepuluh tahun ke depan dan sempat menjadi kapten tim pada musim 1995/1996. Sementara itu, Deschamps adalah kapten Perancis yang sukses membawa timnya menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Hal itu jelas bisa menunjukkan bagaimana kualitas dan kapabilitas Deschamps di lapangan.

Luciano Moggi

Pada musim keduanya, Moggi dan staf direksi Juventus mengeluarkan keputusan berani dengan melego sang fantasista Roberto Baggio ke AC Milan. Mereka mengambil keputusan itu berdasarkan penampilan cemerlang Alessandro Del Piero yang baru dipromosikan satu musim sebelumnya. Ia dianggap bisa berkembang lebih baik lagi dan menjadi tumpuan lini serang tim untuk bertahun-tahun lamanya. Hal itu sama sekali tak salah, saat ini Del Piero adalah pencetak gol terbanyak Juventus sepanjang masa dengan total torehan 285 gol.

Di musim itu, ia juga mendatangkan Gianluca Pessotto yang sukses menjadi pilihan utama selama bertahun-tahun lamanya berkat kemampuan beradaptasi di banyak posisi, serta ketangguhannya dalam permainan itu sendiri. Pessotto berhasil tampil di lebih dari 250 pertandingan bersama Juventus dan mengakhiri karier profesionalnya pada musim 2005/2006.

Musim 1996/1997, Moggi melakukan tiga pembelian penting dalam diri Christian Vieri, Zinedine Zidane dan Paolo Montero. Bersama Mark Iuliano, Ferrara dan Pessotto, Montero berhasil membentuk salah satu barisan pertahanan terbaik di Italia dan juga Eropa. Ia pun berhasil bermain di lebih dari 200 pertandingan bersama “Si Nyonya Tua”. Sementara itu walau hanya bermain selama semusim, Vieri yang baru berusia 24 tahun sukses mencetak 14 gol sebelum hijrah ke Atletico Madrid pada musim selanjutnya.

Zidane, bisa kita katakan sebagai pembelian terpenting Juventus musim itu. Ia berhasil menjadi pengatur serangan serta metronom lini tengah Bianconeri yang mengantar tim tersebut menjuarai dua gelar Serie-A, serta masing-masing satu Piala Super Italia, Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental. Ia sempat dua kali membawa Juventus ke final Liga Championa, tapi gagal juara karena takluk 1-3 oleh Borussia Dortmund (1996/1997) dan kalah 0-1 oleh Real Madrid (1997/1998).

Musim 1997/1998, Moggi dan Juventus sukses melabuhkan Edgar Davids dan Filippo Inzaghi ke timnya. Davids akhirnya dikenal sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di eranya dan berhasil membangun kerja sama luar biasa di lini tengah bersama Zidane. Stamina dan energi Davids yang seperti tak ada habisnya membuat pelatih saat itu, Marcello Lippi, mendeskripsikan pemain asal Belanda tersebut sebagai, “Mesin penggerak timku.”

Sementara itu, Inzaghi pun sukses membentuk duet lini serang menakutkan di Italia dan Eropa bersama Del Piero. Pippo berhasil mencetak 89 gol dari total 165 pertandingannya bersama Bianconeri, sebelum akhirnya pindah ke Milan karena kalah bersaing dengan David Trezeguet.

Setelah itu, masih banyak transfer penting yang dilakukan Moggi seperti pembelian Gianluca Zambrotta pada 1999/2000, Trezeguet pada 2000/2001, trio Gianluigi Buffon, Pavel Nedved dan Lilian Thuram pada 2001/2002, serta Mauro Camoranesi pada 2002/2003. Kedatangan para pemain itu membuat para suporter bisa segera melupakan kepergian Zidane ke Real Madrid atau Inzaghi ke Milan.

Thuram adalah juara Eropa dan Dunia bersama Perancis. Sementara itu, Zambrotta, Camoranesi dan Buffon, menjadi pilihan pertama di tim utama Juventus selama bertahun-tahun lamanya dan menjadi tumpuan tim Italia ketika menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman. Nedved bahkan meraih penghargaan Ballon d’Or pada 2003 yang menobatkan dirinya sebagai pemain terbaik Eropa saat itu.

Salah satu kisah uniknya adalah saat ia berhasil mengecoh pemandu bakat Inter untuk membeli pemain yang salah. “Pada tahun 1999 saya mengintai pemain Marseille dan saya menyadari pemandu bakat Inter juga berada di sana untuk mengincar pemain yang sama, lalu saya membuat mereka salah arah. Secara sengaja saya mengeraskan suara saya, memuji penampilan Cyril Domoraud agar mereka dengar. Tak selang satu minggu, Inter dihubungkan media dengan pemain itu, dan berakhir dengan benar-benar membelinya, dan apa yang terjadi, Cyril tetaplah pemain kelas semenjana,” tutur Moggi suatu hari.

Musim 2004/2005 dan 2005/2006, Moggi kembali beraksi dengan memboyong Emerson, Fabio Cannavaro, Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira. Kedatangan mereka dan pelatih Fabio Capello berhasil membuat Juventus saat itu dijuluki sebagai “The Dream Team”.

Jonathan Zebina, Zambrotta, Thuram, Cannavaro dan Buffon sukses membuat para penyerang lawan mati kutu akibat rapatnya lini pertahanan yang mereka bentuk. Lalu Emerson, Vieira, Nedved dan Camoranesi selalu bisa mendominasi lini tengah, mencetak gol dan mencari 1.001 cara untuk melayani para penyerang dengan umpan-umpan matang. Duet penyerang Ibra-Trezeguet bahkan harus memaksa ikon klub, Del Piero, untuk senantiasa duduk di bangku cadangan.

Susunan tim yang luar biasa berhasil membawa raihan berupa dua gelar Serie-A secara beruntun di musim 2004/2005 dan 2005/2006. Sayangnya, dua gelar itu harus dicopot di kemudian hari karena Juventus terbukti bersalah dan terlibat dalam kasus pengaturan skor yang disebut calciopoli. Moggi menjadi dalang utama di balik kasus tersebut dan dilarang terlibat kembali dalam seluruh aktivitas sepak bola untuk selamanya. Juventus harus rela didegradasi ke Serie-B untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, dan kisah kelam mereka pun dimulai di sini.

Juventus pasca-calciopoli

Alessio Secco, bawahan Moggi sebelumnya, naik jabatan menjadi Direktur Olahraga Juventus menggantikan sang guru transfer pada 23 Mei 2006. Musim 2006/2007, eksodus pemain terjadi di Juventus karena mereka tak mau ikut berjuang bersama tim tersebut di kompetisi kasta dua, Serie-B. Ibrahimovic dan Vieira pindah ke Inter, Emerson dan Cannavaro hijrah ke Madrid, Zambrotta dan Thuram berlabuh di Barcelona serta Manuele Blasi dan Adrian Mutu bergabung dengan Fiorentina.

Untungnya, beberapa ikon klub semacam Del Piero, Buffon, Nedved dan Trezeguet, memutuskan untuk tinggal dan menunjukkan loyalitasnya pada “Si Nyonya Tua”. Bersama beberapa pemain berpengalaman tersebut, Juventus memaksimalkan potensi para pemain mudanya serta mendatangkan para pemain yang dianggap tepat untuk tim. Setidaknya dianggap tepat oleh Secco saat itu.

Alesio Secco

Di tahun pertamanya, Secco mendatangkan bek Jean-Alain Boumsong, Penyerang Valeri Bojinov serta gelandang kawakan Cristiano Zanetti. Ia juga memanggil serta membeli kembali para pemain yang pernah membela Juventus sebelumnya seperti Igor Tudor, Nicola Legrottaglie, Marco Marchionni, Raffaele Paladino dan Tomas Guzman. Saat itu suporter memang tak bisa menuntut banyak karena maklum dengan kondisi serba salah tim yang sulit untuk meyakinkan pemain muda potensial atau bernama besar untuk datang ke Juventus.

Musim itu, Juventus langsung sukses menjuarai Serie-B dan kembali promosi ke Serie-A dengan Del Piero mengakhiri kompetisi sebagai top skor. Para pemain muda seperti Paladino, Paolo De Ceglie dan Claudio Marchisio pun sukses mencuat dan memunculkan harapan baru bagi suporter untuk melihat mereka sebagai fondasi tim di tahun-tahun mendatang.

Setelah kembali ke Serie-A, menjadi tugas Secco untuk mencari pemain-pemain tepat yang bisa membuat Juventus kembali kompetitif untuk bersaing dalam perebutan gelar juara dan kembali ke Liga Champions. Bila dahulu Moggi menggunakan prinsip “bukan kuantitas, tapi kualitas”, Secco ternyata malah melakukan hal sebaliknya. Pada musim 2007/2008 ia memanggil kembali Manuele Blasi dan Domenico Criscito, serta melabuhkan Sergio Almiron, Zdenek Grygera, Vincenzo Iaquinta, Jorge Andrade, Cristian Molinaro, Antonio Nocerino, Ruben Olivera, Hasan Salihamidzic dan Tiago.

Hasilnya? Criscito tak cukup kuat mental untuk bermain sebagai pilihan utama di tim dan kompetisi besar sehingga melempem, Andrade lebih banyak “bermain” di ruang perawatan dibanding di lapangan, serta Almiron dan Olivera yang disebut-sebut akan menjadi tumpuan di lini tengah tim malah tampil di bawah standar. Iaquinta dan Grygera sempat tampil lumayan, tapi bukan pemain yang bisa bersinar di pertandingan besar. Sementara itu sisanya tampil dengan kelas medioker di sepanjang musim yang berjalan.

Harapan sempat membumbung dengan kedatangan Mohammed Sissoko serta pemain muda berbakat, Albin Ekdal, di bursa transfer musim dingin. Tapi keduanya hanya menjanjikan di awal, tapi gagal bersinar di akhirnya.

Musim kedua Secco di Serie-A tak berbeda. Ia mendatangkan Olof Mellberg, Christian Poulsen, Amauri Carvalho, dan beberapa pemain lainnya di awal musim. Kehadiran Poulsen dipertanyakan para suporter karena yang dibutuhkan tim saat itu sebenarnya adalah seorang pengatur serangan andal, bukan gelandang bertahan, lagi. Sementara itu Amauri banyak digembar-gemborkan media sebagai pendulang gol baru Juventus. Harapan tinggi disematkan padanya.

Nyatanya, Mellberg kerap cedera dan penampilannya standar, Poulsen melempem, lalu Amauri hanya bersinar di awal dan menurun menjelang akhir. Penyerang asal Brasil itu sukses mencetak 14 gol di musim pertamanya, tujuh gol di musim kedua dan tiga gol di musim ketiganya. Itu termasuk puasa golnya selama tujuh bulan berturut-turut pada 2009 lalu. Mengecewakan.

Pada musim 2009/2010, Secco melabuhkan dua pemain senior yang sukses menjuarai Piala Dunia 2006 lalu bersama Italia, yaitu Fabio Grosso dan Cannavaro. Selain itu, ia juga mendatangkan duo pemain asal Brasil dengan harga tinggi dalam diri Diego Ribas dan Felipe Melo. Diego banyak dikatakan akan menjadi “The Next Zidane” dan Melo dianggap sebagai jawaban tepat bagi pencarian gelandang pemutus serangan andal di lini tengah Juventus.

Lagi-lagi, ekspektasi tinggi suporter harus dibayar dengan kekecewaan dan kegeraman. Diego tampil bagus di awal, tapi kehilangan sinarnya sejak pertengahan musim. Bila Zidane bisa membawakan dua gelar Serie-A untuk Juventus, maka prestasi terbaik Diego adalah posisi tujuh Serie-A di akhir musim 2009/2010. Ia gagal berintegrasi dengan klub dan tak bisa diandalkan dalam mengatur irama permainan tim.

Melo tak jauh berbeda nasibnya. Di akhir musim, suporter hanya mengenalnya sebagai pemain yang suka berlari tak tentu arah di lapangan dengan akurasi umpan dan operan yang sangat buruk. Cannavaro dan Grosso? Masa keemasan mereka sebagai pemain telah lewat, mungkin pensiun adalah pilihan yang tepat bagi mereka.

Perbedaan drastis Ada perbedaan drastis antara pola perekrutan pemain dan prestasi yang dicapai Moggi dan Secco ketika masing-masing menjabat sebagai Direktur Olahraga Juventus. Moggi lihai mendatangkan pemain berkualitas tinggi dengan harga miring. Ia juga tahu kapan saat yang tepat untuk menjual pemain dengan harga yang tinggi dan mencari penggantinya.

Contoh paling mudah adalah saat Moggi merekrut Zidane dari Bordeaux dengan harga 3,2 juta poundsterling, dan menjualnya kembali dengan nilai 46 juta poundsterling ke Madrid yang memecahkan rekor transfer dunia saat itu. Kepergian Zidane pun tak ditangisi karena Moggi segera menemukan penggantinya dalam diri Nedved.

Lalu, Moggi pun pernah mengecoh Inter sekali lagi untuk mendatangkan Cannavaro. Ia mengatakan pada media bahwa kiper cadangan Juventus saat itu, Hector Fabian Carini, memiliki potensi besar untuk sukses di masa depan. Hal itu berhasil mendorong Inter untuk menukar Cannavaro yang kerap cedera dengan Carini secara cuma-cuma. Hasilnya, Cannavaro berhasil menjuarai Serie -A bersama Juventus, La Liga bersama Madrid dan Piala Dunia bersama Italia. Carini? Dia cuma bermain sebanyak empat kali selama tiga musim bersama Inter, dan orang-orang tetap tak mengenal siapa dirinya hingga saat ini.

Moggi juga berhasil membeli Emerson, yang merupakan tumpuan AS Roma di lini tengah sejak lama, “hanya” dengan harga 12 juta euro. Legenda Arsenal, Vieira, juga didatangkan dengan harga miring, yaitu senilai 20 juta euro. Performa dan kemampuan Vieira saat itu dianggap banyak orang berada jauh di atas nilainya tersebut.

Bagaimana dengan Secco? Pada musim 2008/2009 ia membeli Amauri dengan harga 22,8 juta euro hanya untuk melihat mantan pemain Palermo tersebut mencetak 24 gol dalam tiga musimnya berseragam Juventus. Bila dirata-rata, Juventus harus membayar 950.000 euro untuk setiap gol yang dicetak Amauri.

Sama halnya dengan Diego, Secco merekrutnya dari Werder Bremen dengan harga 24,5 juta euro, tapi di akhir musim kembali menjualnya ke Wolfsburg dengan harga 15,5 juta euro. Juventus rugi 10 juta euro dan jelas telah salah berinvestasi. Melo yang didatangkan dengan harga tak jauh beda, 25 juta euro, beruntung tak dijual kembali sampai saat ini, tapi ia tetap kesulitan untuk bermain konsisten dan mendapat tempat di tim utama.

Secco, benar-benar gagal membangun tim dengan aktivitas transfernya selama ini. Pemain yang ia beli kerap menjadi pesakitan dan hanya berstatus sebagai beban bagi klub. Ia jelas tak ada apa-apanya dibandingkan Moggi. Moggi sendiri sempat menyatakan ketidakpuasannya akan pergerakan Juventus bersama Secco di bursa transfer.

“Jika saya masih berada di sana, saya tidak akan membayar dia (Felippe Melo) semahal itu. Kontribusi yang diberikannya kepada tim sangat minim sehingga tim tak tampil maksimal. Pantasnya dia hanya dibayar separuh dari harga yang telah disepakati,” kata pria berusia 74 tahun itu suatu hari.

Asa untuk Marotta Pada musim 2010/2011 lalu, Juventus kehabisan kesabaran pada Secco dan kemudian menunjuk Giuseppe “Beppe” Marotta sebagai suksesornya. Marotta dianggap sukses mengangkat Sampdoria dengan aktivitas transfernya di sana. Ia berhasil membawa pemain-pemain yang menjadi tulang punggung Sampdoria dengan harga yang sungguh minim.

Marotta berhasil merekrut Marco Storari dari AC Milan dan Luciano Zauri dari Fiorentina dengan status pinjaman. Lalu Reto Ziegler (1,4 juta euro) dan Franco Semioli (nilai dirahasiakan) juga dilabuhkan ke “Il Samp”. Selain itu, ia juga sukses membeli Giampaolo Pazzini dari Fiorentina dengan perkiraan harga tujuh juta euro dan Antonio Cassano dari Madrid dengan nilai yang dirahasiakan. Mereka berdua sukses membentuk duet lini serang mematikan dan mengangkat performa Sampdoria di Serie-A.

“Bepe” Marrotta

Di musim 2010/2011, Marotta mulai menunjukkan aksinya di Juventus. Ia berhasil mendatangkan Fabio Quagliarella, Alberto Aquilani, Milos Krasic, Leonardo Bonucci dan Simone Pepe di musim panas, serta Alessandro Matri, Andrea Barzagli dan Luca Toni di musim dingin. Hasilnya, Juventus tetap terpuruk dan hanya bisa meraih posisi tujuh, lagi, di klasemen akhir Serie-A. Tapi, asa suporter tetap terjaga dengan sederetan penampilan gemilang dari Krasic, Quagliarella, Matri dan Pepe. Mereka dianggap belum menunjukkan potensi maksimalnya dan akan bersinar lebih terang musim depan.

Menjelang dimulainya musim 2011/2012, Marotta dan Juventus telah merekrut beberapa pemain penting dalam diri Andrea Pirlo (gratis), Reto Ziegler (gratis), Arturo Vidal (10,5 juta euro) dan Mirko Vucinic (15 juta euro). Melo dan Sissoko yang tak tampil maksimal selama ini pun dilepas ke klub lain. Walau harga Vucinic cukup mahal untuk pemain seusianya, ia diyakini dapat menguatkan sektor penyerangan Juventus saat ini. Lagi pula, pembayaran untuknya dilakukan dengan cara angsuran selama tiga tahun lamanya.

Rasanya, saat ini aktivitas Juventus di bursa transfer telah lebih baik dari sebelumnya saat Secco masih berkuasa. Pemain yang dibeli memang sesuai dengan kebutuhan tim dan memiliki harga lebih rasional. Tapi, rasanya terlalu cepat untuk menilai kinerja Marotta. Mari kita lihat bersama, mampukah Marotta mengangkat kembali Juventus dari keterpurukan?

2 pemikiran pada “Analisis Juventus pra dan pasca Calciopoli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s