Rich Club Poor Club

Mansour Goes To Football..

Beberapa tahun belakangan dunia sepakbola sudah menjadi lahan bisnis. Lihat saja beberapa liga di Eropa yang mulai dilirik oleh para investor asal timur tengah dan Rusia. So here we go, munculah dinasti klub kaya dan dinasti klub miskin yang tertindas.

1. Chelsea, The Rising Rich Club

Chelsea

Chelsea sebenarnya selalu disegani pada era 90-an hingga awal 2000 awal. Namun pengaruh Chelsea pada Barclays Premiere League Inggris tidaklah terlalu dominan. Mereka dikenal sebagai salah satu penantang duo Arsenal dan Manchester bersama-sama dengan Liverpool dan Tottenham Hotspur. Namun kedatangan investor kaya raya asal Rusia, Roman Abrahamovich sekitar tahun 2004 mengawali saga kedatangan para investor asing ke dunia sepakbola.

Sejak Roman datang ke Chelsea ia segera membawa perubahan signifikan akibat kekuatan finansial yang ia miliki. Chelsea lantas mendatangkan Jose Mourinho, sang pelatih fenomenal yang akan melegenda beberapa tahun ke depan, yang baru saja membawa FC Porto dari Portugal menjuarai Liga Champions. Seirama dengan datangnya Mou, beberapa pemain bintang mulai berdatangan ke Chelsea. Ashley Cole, bek kiri terbaik Inggris saat itu. Fran Malouda. Nicholas Anelka. Fernando Torres. Nama terakhir baru saja dibeli musim dingin awal tahun 2011 dengan banderol 45 juta Euro.

Kesuksesan Chelsea tidak lepas dari faktor Jose Mourinho, strategi pembelian pemain yang cukup jitu, selain juga ditunjang oleh finansial yang kuat dari Roman. Kedatangan Chelsea meruntuhkan dominasi Arsenal dan Manchester City dengan merebut gelar BPL pada tahun tersebut. Era kepergian Mourinho permainan Chelsea cenderung labil. Awal musim 2011/2012 Chelsea mengusung pelatih yang digandang-gadang sebagai new Mourinho, Andres Villas Boas.

2. Manchester City, Thanks Mansour

Carlos Tevez - Manchester City

Setelah sempat gagal bersama Thaksin perdana menteri kontroversial Thailand yang dulu memiliki klub ini, Manchester City kini membangun dinasti barunya bersama Sheikh Mansour, investor asal timur tengah, UEA. Kedatangan Sheikh Mansour ke Manchester City tampaknya lebih fenomenal ketimbang kedatangan Abrahmovich ke Chelsea 2004. Sheikh terkenal dengan belanja pemainnya yang gila-gilaan. Pemain bintang, pemain potensial, pemain muda berbakat semuanya diburu City dengan harga yang tidak masuk akal serta iming-iming gaji yang sangat tinggi.

Dimulai dari Robinho-nya Madrid (sekarang di Milan), Craig Bellamy-nya Everton, Kolarov, Carlos Tevez-nya United, Yaya Toure-nya Barcelona, Nigel De Jong-nya Belanda, Vincent Kompany-nya Belgia, James Milner-nya Aston Villa, terakhir Kun Agueiro-nya pujaan Atletico Madrid. Semuanya dibanderol tidak kurang dari 20 juta Euro. Akhirnya setelah berinvestasi beberapa tahun di City, mereka mendapatkan gelar pertamanya bersama pelatih Roberto Mancini yang diboyong dari Inter Milan.

Kedatangan Sheikh dianggap merusak harga pemain di pasaran sepakbola saat ini. Wenger adalah satu dari banyak pihak yang kesal dengan kebijakan City. Sejak era Mansour, UEFA mulai mencoba memikirkan jalan keluar agar sepakbola tetap fair dari segi financial. Perhatian UEFA tersebut terlahir dalam kesepakatan kesehatan financial sudah mulai disiapkan dan berencana dijalankan sekitar tahun 2014.

3. Malaga, The New Comer from Spain

Ruud Van Nistelrooy - Malaga

Sejak 2010 akhir, Malaga menunjukkan tanda-tanda sebagai the new Manchester City from Spain. Setelah kedatangan investor barunya Malaga giat sekali dalam aktivitas transfer. Walaupun beberapa di antara pemain yang didatangkan ke Malaga hanyalah ‘mantan’ pemain bintang seperti Ruud Van Nistelrooy, tapi tidak dipungkiri lagi kedatangan beberapa bintang lainnya ke Malaga menjadikan klub ini sebagai salah satu penantang Liga BBVA Spanyol.

Notes penulis : Baguslah, supaya Liga Spanyol lebih kompetitif. Masa musim lalu hanya 7 klub teratas dari 20 yang memiliki selisih gol yang positif.

4. Paris St. Germany, Another new comer from Paris

Javier Pastore

Tahun 2011 menandakan era para investor-investor baru yang bermunculan. Paris kedatangan seorang investor dari Qatar. Dalam aktivitasnya menjelang musim 2011/2012, Paris St Germany sudah menyiapkan klub mereka sebagai salah satu penantang juara Ligue France, serta kejuaraan Eropa. Investasi terbesar yang mereka kucurkan adalah untuk mendatangkan playmaker asal Argentina, Javier Pastore, dari Palermo dengan harga tidak kurang dari 43 juta Euro. Harga yang sangat fantastis mengingat status klub ini yang relatif tidak begitu bersinar dua dekade ini.

Selain Pastore, PSG juga telah mendatangkan Salvatore Sirigu dari Palermo, Momo Sissoko dari Juventus, Leonardo mantan pelatih Inter dan AC Milan, serta Kevin Gameiro dan Jeremy Menez dari AS Roma.

5. Anzhi Makhachkala, Rich club from Cold War

Balasz Dzsudzsak

Mungkin sebagian besar dari kita banyak yang tidak tahu menahu mengenai klub kaya raya asal Rusia ini. Musim panas 2011 ini Anzhi telah melakukan manuver-manuver transaksi seperti mendatangkan Roberto Carlos dan Balasz Dzsudzsak dari Ajax. Anzhi juga kini mengincar Ganso.

Failure Investment

Ide melakukan investasi terhadap pembelajaan pemain bintang tidak melulu berhasil. Kesalahan manajemen, pemilihan strategi dan pelatih, serta pengaturan finansial yang efektif bisa menjadi bumerang bagi klub itu sendiri, walaupun kegagalan investasi juga tidak mesti membawa dampak buruk.

— Leeds United

Leeds United

Sebelum Abrahmovich datang ke Chelsea, satu pemilik klub yang pertama kali berencana membangun the dream team adalah Leeds United. Demi menggusur dominasi Arsenal dan Manchester United pada awal milenium, sang pemilik melakukan rencananya membeli  pemain-pemain berbakat. Salah seorang bintang yang dibeli saat itu adalah Harry Kewell. Namun apa daya rencana tidak selalu berjalan. Leeds mengalami kebangkrutan dan masa-masa terburuk setelahnya. Leeds kemudian terdegradasi dari BPL menuju Divisi Championship yang berada satu kasta di bawahnya.

— Manchester City era Thakshin S.

Membeli suatu klub dengan penuh hutang dapat berarti bumerang bagi sang pembeli klub itu sendiri. Salah satunya adalah Thakshin yang pada masanya juga ia harus berkutat dengan kudeta di Thailand. Thaksin akhirnya melepas City ke Sheikh Mansour dari Qatar karena tak lagi sanggup menahan asetnya itu.

— Aston Villa dan Middlesbrough

Kedatangan Investor baru pada kedua klub ini tidak memberikan dampak signifikan pada kedua klub. Aston Villa sempat terdongkrak pada suatu musim, namun akhirnya stagnan berada pada papan tengah. Middlesbrough bahkan kini sudah tak lagi bermain di BPL

Rich Club Poor Club

Despite of these instant club with their rich investor, there are still many rich club that has been rich from time to time. Yeah, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Begitu trend sepakbola jaman sekarang. Barcelona menjadi klub terkaya saat ini, diikitu Real Madrid, Manchester United. Beberapa klub kaya lainnya adalah Juventus, Inter Milan, dan AC Milan.

Nampaknya klub-klub kecil yang miskin kini hanya dapat mengusung satu misi : create new rising star to sell it to the highest bidder.

2 pemikiran pada “Rich Club Poor Club

  1. hahaha, liverpodlians. sebagai fans the gunners saya sedikit pesimis. Tapi setidaknya skrg di EPL punya jagoan baru lah. Man cit. yang punya kalo main suka sering naruh kulkas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s