Media

Negara ini katanya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Hebat, ya. Kita bisa dengan mudah berekspresi seperti memberikan komentar, memberitakan sesuatu, dan menulis sesuatu. Tapi dari semua kehebatan itu saya melihat satu celah kelemahan yang sangat vital bagi negara ini. Instabilitas informasi.

Saya menilai suatu negara yang tidak punya kontrol akan media tidak bisa menjaga stabilitas negaranya. Sebagian besar masyarakat kita saya pikir masih berpikir secara reaktif atas segala pemberitaan media massa. Di satu sisi kita mendapatkan kebebasan berekspresi, hal itu dapat berakibat fatal di sisi lain. Sikap massa yang reaktif menyebaban kita dapat dengan mudah dihasut oleh pihak-pihak ketiga. Saya pikir mudah membuat negara kita dalam keadaan panik. Cukup sampaikan isu-isu selentingan ke depan media maka seperti melemparkan puntung rokok ke semak-semak hutan lalu merambat cepat menjadi kebakaran hutan. Yep, negara ini mudah sekali digoyang dengan media.

Walapun saya merasa beruntung bahwa saya bisa merasakan enaknya menulis di blog, ngomong ini itu, nggak seperti mereka yang terkekang pada masa orde baru namun saya merasa pemerintah harus bisa tetap mengontrol media dalam cara-cara yang unik. Negara ini memiliki dilema : dengan kebebasan berbicara orang seenaknya bicara tanpa menyaring konten pembicaraannya, tapi dengan pengekangan kebebasan berekspresi pihak yang berkuasanya malah yang menyalahgunakannya (entah buat korupsi atau menyembunyikan aksi-aksi nakal mereka lainnya).

Ada dua negara yang saya pikir unik dalam mengontrol media massa-nya.

Negara pertama adalah Cina, dan negara-negara komunis lainnya. Negara ini saya pikir menggunakan cara kontrol media yang sama dengan kontrol media Soeharto pada masa orde baru. Bedanya mungkin ada pada penggunaan kontrol tersebut. Kontrol memang digunakan untuk mengontrol pergerakan negara itu untuk negaranya bukan buat perut bapak pejabat, bapak anak pejabat, sepupu pejabat, dan kroni-kroninya. Dengan mengorbankan kebebasan berekspresi, Cina mampu mengatrol negaranya menjadi negara yang maju. Oke, cara yang dilakukan Cina saya nggak mau merasakannya sih.

Negara yang kedua adalah Amerika Serikat. Di negara ini walaupun mereka bilang “Freedom” ini “Freedom” itu tapi saya pikir mereka memiliki kontrol yang sangat kuat atas media. Setidaknya penduduknya sendiri bisa merasa  merasakan kebebasan berbicara walaupun sebenarnya media dikontrol oleh pemerintahnya. Film, musik, opini dapat diutarakan oleh setiap insan penduduknya. Tapi jelas tidak lupa negara itu menyisipkan unsur-unsur propaganda pada setiap info yang beredar. Film misalnya, sudah jelas dari sejumlah film hollywood yang beredar mengusung kemampuan militer mereka, kebencian mereka terhadap Al-Qaeda dan beberapa negara yang mereka anggap berbahaya seperti venezuela, iran, dan korea utara. Semua itu dikemas sedemikian menarik hingga penduduknya setuju atas pendapat-pendapat yang diutarakan dalam film itu. Selain propaganda cara pemerintah mereka menguasai media adalah dengan teknologi yang mereka miliki. Sudah jadi rahasia umum kalau setiap komunikasi yang beredar di sana dapat dipantau oleh pemerintah mereka. Internet, telepon seluler, satelit. Teknologi. Negara ini mengontrol media dengan kuat cukup unik sehingga tidak membuat penduduknya sadar akan kontrol tersebut.

Menyikapi kebebasan berekspresi di negara ini, yuk coba bersikap cermat dalam mengolah informasi yang beredar. Jangan menjadi masyarakat yang reaktif. Supaya kita tidak mudah terhasut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s