Edisi perut 3: it’s all about food addiction

Seru juga baca artikel-artikel ini. Lebih baik waspada sejak dini sebelum terlambat.

Hmmmm… enak sekali makan Ibu dan Anak itu”, gumam saya, waktu melihat mereka sedang makan donat penuh coklat di suatu ruang tunggu di bandara. Terlihat wajahnya yang puas dan menikmati donat demi donat yang masuk ke dalam mulutnya. Saya tidak tahu berapa potong donat yang telah mereka makan. Tapi saya lihat, mereka baru berhenti, setelah penumpang sudah harus boarding.

Sampai di pesawat, waktu saya berjalan ke toilet, Ibu dan Anak ini yang duduk di bangku belakang, terlihat lagi sedang asyik-asyiknya kembali makan donat-donat itu. Air liur saya seperti mau menetes, seperti ingin juga menikmatinya, tapi syukurlah saya tidak jadi membelinya waktu di bandara. Ada keinginan untuk itu juga, paling tidak buat oleh-oleh, namun urung, timbul pertanyaan dalam diri saya, “apa tidak lebih baik saya membawa oleh-oleh yang lebih sehat?”

Setelah kembali duduk di kursi, bayangan Ibu dan Anak yang lagi menikmati donat itu masih menyelimuti saya. “Kenapa mereka makan seperti itu? Apakah memang mereka lagi lapar, membutuhkannya? Apa hanya karena punya uang, kemudian membelinya? Atau bahkan sekedar ingin menikmatinya, merasakan kelezatannya?” Entahlah, tapi banyak kita sekarang, makan hanya dengan alasan-alasan seperti itu, karena punya, tersedia, lagi ditraktir, karena makan itu nikmat, lezat.

Disamping bayangan Ibu dan Anak itu, pikiran saya menerawang jauh kepada beberapa pasien yang pernah saya rawat, yang mempunyai kebiasaan yang sama. Sebagian besar mereka sekarang sedang mengalami masalah dengan kesehatannya. Ada yang dengan obesitas, hipertensi, kencing manis, ganguan jantung dan sebagainya.

Seorang pasien, wanita, masih sangat muda sekali, umur sekitar 30 tahun yang konsultasi dengan saya beberapa minggu lalu, bahkan mengalami obesitas, diabetes mellitus dan gagal jantung. Pasien ini memang mempunyai kebiasaan minum eskrim dan minuman kemasan, terutama minuman kaleng yang sangat manis itu.

Menurut pengakuan pasien, kebiasaan itu bahkan sudah dimulainya sejak duduk di sekolah menengah pertama. Dua sampai tiga atau bahkan lebih minuman kaleng favoritnya, diteguknya setiap hari, belum lagi makanan, minuman manis lainnya. Waktu saya tanyakan,” kenapa sampai begitu?” “Ngak tahu dokter”, jawabnya. “Saya seperti tidak bisa menghentikannya. Saya merasa gelisah, tidak tenang, belum puas sebelum mendapatkannya”, katanya lagi.

Melihat Ibu dan Anak yang sedang menikmati donat itu, dan beberapa pasien saya dengan perilaku yang sama, saya ingat sebuah buku tentang Prediabetic. Salah satu yang dibahas secara singkat dalam buku itu adalah apa yang dinamakannya sebagai Food addictions, suatu perilaku makan yang banyak menjangkiti kita sekarang dan juga pada mereka menjelang timbulnya diabetes mellitus.

Sebagai suatu kecanduan, food addictions, tidak jauh berbeda sebenarnya dengan kecanduan lainnya seperti alkohol, rokok, bahkan obat-obatan. Perubahan kimiawi yang terjadi juga hampir sama. Di otak, pada orang gemuk dapat terjadi peningkatan neurotransmitter dopamin, yang mempunyai efek menenangkan, merasa puas, terutama setelah mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat olahan dan gula.

Maka, tidak heran Anda akan bolak balik membuka pintu kulkas mencari makanan dan minuman yang anda simpan di dalamnya. Anda juga akan memilih makanan dan minuman yang manis-manis. Sambil duduk menonton TV mulut Anda tidak akan berhenti memamah sesuatu yang Anda sukai. Bahkan, untuk sekedar merasa senang, puas, menghilangkan kebosanan mulut Anda akan sibuk dengan sebuah permen di dalamnya.

Food addictions tidak timbul serta merta, namun, sedikit- demi sedikit meracuni Anda, sehingga Anda tidak menyadarinya. Andaikan pagi ini Anda menyantap 15 potong donat atau menyedot dua liter minuman kaleng itu sekaligus, anda mungkin akan mual, muntah, Anda akan menghentikannya.

Tapi, karena Anda mengambil coklat, donat itu satu demi satu, akhirnya satu kotak coklat, donat itu akan Anda habiskan. Satu mangkok eskrim juga akan Anda cicipi sendok demi sendok sampai Anda merasa puas. Kebutuhan Anda untuk merasa puas dengan makanan yang dapat meyebabkan kecanduan ini, seperti coklat, eskrim, donat, pizza, minuman kaleng, cemilan yang manis-manis, semakin lama semakin meningkat. Kemudian, Anda akan sangat mudah tergoda menikmatinya.

Food addictions, sebagai suatu kecanduan makan, perilaku berulang yang sudah lama, sangat sulit menghentikannya. Sebenarnya banyak kita menderitanya sekarang. Sayang, kita tidak menyadarinya. Kita baru sadar kalau kita sudah terbentur dengan masalah-masalah kesehatan yang diakibatkannya. Kadang-kadang itu sudah terlambat!

Irsyalrusad 

Anda ingat ketika sedang suntuk di kantor, dan senjata Anda untuk melupakan beban pekerjaan yang berat ini dengan mengudap sekantong keripik yang Anda simpan di laci meja. Kemudian, Anda juga turut menikmati kiriman donat dari relasi perusahaan. Kadang-kadang, Anda memang mengonsumsinya karena lapar. Tetapi lebih sering, makanan itu disantap untuk memberi rasa nyaman saja.

Perilaku makan yang impulsif ini seringkali melewati batas, dan Anda menjadi seperti kecanduan makanan tersebut. Nah, hati-hati bila Anda telah memasuki zona kecanduan ini. Karena menurut penelitian, kecanduan makanan ini sekarang tak ubahnya suatu penyakit seperti kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang.

Washington University School of Medicine di St. Louis pada tahun 1991 dan 1992 pernah melakukan survei terhadap 40.000 orang, untuk melihat kaitan antara obesitas dan sejarah keluarga yang memiliki kecanduan alkohol. Saat itu, penelitian membuktikan tidak ada kaitan antara kedua hal tersebut. Namun pada tahun 2001 dan 2002, penelitian itu membuktikan hal yang berbeda.

Orang dewasa yang datang dari keluarga dengan riwayat kecanduan alkohol cenderung akan mengalami obesitas, 30-40 persen lebih besar daripada yang tak punya riwayat kecanduan alkohol. Perempuan, khususnya, punya resiko yang tinggi. Kecenderungan mereka menjadi obesitas 50 persen lebih besar jika ada keluarganya yang kecanduan alkohol, daripada mereka yang tidak punya riwayat tersebut (pada pria, prosentasenya 26 persen).

Perubahan pola perilaku ini, menurut Richard A. Grucza, asisten profesor bidang psikiatri di Washington University dan penulis studi kedua ini, karena lingkungan makanan penyebab obesitas telah berubah dalam satu dekade ini. Sumber utamanya adalah, “Sifat makanan yang kita makan, dan kecenderungannya untuk menarik jenis-jenis pusat penghargaan, yang merupakan bagian dalam otak yang melibatkan kecanduan.”

Makanan yang paling membuat orang ketagihan termasuk makanan berkarbohidrat seperti roti, pasta, permen, cake, cokelat, dan cemilan yang asin. Nah, makanan yang dibuat khusus untuk menarik perhatian konsumen ini bisa menjadi isyarat yang memicu makan berlebihan pada orang-orang yang punya kecenderungan kecanduan. Hal ini menarik pusat-pusat penghargaan dalam otak, yang membuat orang berpikir ia layak mendapatkan makanan ini. Sudah begitu, makanan ini sekarang sangat mudah didapat sehingga memperkuat perilaku kecanduannya.

Dalam bukunya, The End of Overeating, Dr David Kessler, mantan komisioner Food and Drug Administration, menyebut berbagai makanan asin dan manis itu “superlezat”. Ia menggambarkan bagaimana makanan lezat yang biasa disajikan di restoran cepat saji ini mengubah kimiawi otak, memicu respons neurologis yang mendorong orang untuk menginginkan lebih banyak lagi (meskipun tidak lapar). Karbohidrat dan makanan yang manis melepaskan serotonin dalam otak, yaitu senyawa kimia yang membuat Anda merasa senang. Efeknya temporer, dan singkat, yang menimbulkan gelombang rasa senang, diikuti oleh rasa lelah yang seringkali diikuti rasa bersalah.

Lalu bagaimana ciri-ciri orang yang mulai kecanduan makanan? Menurut Marjorie Nolan, RD, juru bicara American Dietetic Association, Anda tergolong kecanduan makanan bila:

* Tetap makan meskipun tidak begitu lapar, atau makan karena dipicu secara emosional.
* Merasa bersalah atau malu setelah makan.
* Makan sendirian, diam-diam, atau menyembunyikan jumlah makanan yang Anda nikmati dari orang lain.
* Merasa tak mampu mengontrol, atau tidak bisa berhenti makan.
* Menginginkan makanan tertentu saat berada dalam acara makan-makan.
* Merasa lega dari perasaan yang kurang baik ketika mengonsumsi makanan tertentu.

Karena sudah termasuk penyakit, kecanduan makanan tidak bisa diatasi hanya dengan mengurangi makanan dan lebih banyak olahraga. Anda perlu menjalani perawatan, seperti terapi yang dilakukan oleh orang-orang kecanduan alkohol.

Bila Anda baru mulai merasakan ciri-ciri kecanduan tersebut, coba lakukan empat aturan makan yang bisa membantu Anda “menjinakkan” kecanduan ini:

1. Buatlah jurnal makanan. “Banyak orang meremehkan berapa banyak yang mereka makan,” ujar Marjorie Nolan, RD, juru bicara American Dietetic Association. “Dengan membuat jurnal makanan, Anda bisa tetap jujur dengan diri Anda mengenai berapa banyak makanan yang sudah Anda konsumsi.”

2. Kombinasikan protein dengan karbohidrat saat makan. Cara ini akan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan melambatkan pelepasan serotonin ke otak sehingga mencegah terjadinya keinginan kuat untuk makan lagi. Selain itu, cara ini juga mencegah rasa bersalah dan depresi yang ditimbulkan sesudahnya.

3. Tanyakan kepada diri Anda, mengapa Anda lapar? “Ketika keinginan untuk makan tidak ditimbulkan oleh rasa lapar, makanan tidak akan pernah membuat Anda puas,” kata Michelle May, MD, penulis buku Eat What You Love, Love What You Eat. Perlakukan tubuh Anda seperti mobil: periksa dulu tangki bensinnya sebelum Anda isi lagi. Bayangkan angka 1 adalah kelaparan dan angka 10 untuk kenyang. Buatlah agar Anda berada pada angka 4 ketika perut mulai terasa lapar, tetapi tidak terlalu kelaparan.

4. Lakukan trik pada otak. Merenunglah selama 10 detik untuk merasakan apakah Anda memang benar-benar lapar. Jika rasa lapar tidak terlalu mendesak, ada cara untuk menurunkan kadar stres tanpa mencari makanan. “Lakukan apa saja untuk membuat Anda bernapas, entah itu ngobrol dengan teman atau nonton sinetron,” ungkap Stephanie Smith, PsyD, juru bicara  American Psychological Association. Ubah rutinitas Anda. Maka, otak akan mulai menginginkan aktivitas yang menyenangkan, bukan makanan manis dan berlemak lagi.

Bagi sejumlah orang, makan berlebihan sudah menjadi penyakit yang serius sehingga tidak bisa dikalahkan dengan caranya sendiri. Pada kasus ini, penderitanya harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat rujukan ke spesialis diet atau psikolog.

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s