Dream

Waktu saya kecil, saya sering ditanya :

“Cita-cita kamu mau jadi apa?”

“Gubernur Jambi”

Okey, kalo ibaratnya cinta, ini adalah mimpi monyet. Karena ngeliat waktu itu betapa enaknya menjadi gubernur dari sisi kehidupannya aja. Tapi 8 tahun kemudian saya kembali ditanya, “Mau jadi apa?”

“Researcher”, simpel aja, kan keliatan keren dengan kacamata profesor, pakai tabung-tabung, melakukan berbagai eksperimen dan simulasi percobaan. Keracunan TV juga kali ya.

Tiga tahun kemudian mulailah saya suka pada berbagai hal tertentu. Mulai dari, “Jadi detektif aja deh”, waktu saya tergabung dalam komunitas forum detektif. Terus sempat, “Jadi novelis aja lah”, setelah mulai menyukai menulis ini itu nggak jelas di kertas dan lain-lain.

Hingga pada akhirnya tiga tahun kemudian lagi, ketika saya sudah mulai berpikir secara realistis, dan tahu fokus ilmu yang saya timba, saya punya keinginan (standar) = “wirausaha, bikin software house”. Jawaban standard orang yang masuk disiplin ilmu ini. Aneh juga ya, ketika masih kecil bisa mimpi sejauh itu, tapi begitu sampai di titik kita bisa terjun ke dunia itu kita malah bermimpi sestandard itu. Cari aman. Saya sempat merasa sudah terlambat untuk mengganti mimpi saya.

Dosen? out of question.

Detektif? are you kidding?

Gubernur? not interested

Novelist? possible but, are you really into this?

Researcher? …

Saya sempat menimbang-nimbang, kenapa dulu saya nggak masuk Biologi atau Farmasi yang akan sesuai sekali sama salah satu bayangan mimpi saya dulu. Saya pikir saya sudah terlambat.

Tapi begitu mau lulus, teman saya memprovokasi saya terhadap salah satu beasiswa S2 yang tentunya akan membuat saya mendalami ilmu ini. Hm.. Setelah saya pikir-pikir lagi pemahaman saya terhadap researcher sempit sekali. Saya rasa menjadi peneliti tidak harus seorang biologiawan atau kimiawan. YEP, I STILL HAVE A CHANCE to be a researcher. Kuncinya? get this scholarship. Yes, I’m determined

2 pemikiran pada “Dream

  1. Parah sekali teman kau itu, tega-teganya menghasut dirimu. Awak masih belum menetapkan pilihan setelah lulus, antara nyari beasiswa S2, kerja di perusahaan orang, atau bikin start up. Tapi masing-masing opsi udah awak bikin DFS-nya.🙂

  2. wot, seriusan belom pasti? ah parah. udah lulus, trus kerja bentar cari duit buat uang saku, trus cobain beasiswanya to. parah lah.. tho tho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s