smoke sandwich, oh bacon, it’s hotdog

Ada beberapa term makanan cepat saji dari dunia barat yang membuat saya heran.

Pertama sandwich. Orang sana mengatakan, “Are you 10? We don’t smoke sandwich anymore”. Kenapa mereka menggunakan term ‘smoke’ untuk sebuah sandwich, roti berlapis daging selada dan beberapa bahan lainnya. Analisis saya sih mungkin anak kecil disana sering menjadikan sandwich sebagai camilan sehari-hari sehingga membuat mereka addict terhadap sandwich. Seperti pembandingan antara cigarette dan sandwich. Atau bisa juga saya salah kaprah antara term ‘smoke sandwich’ dengan ‘eat smoked sandwich’. Who knows? haha😀

Kedua, bacon. Oh, bacon. Seorang teman saya di Jepang katanya pernah tidak sengaja memakan bacon, daging olahan babi. Bagi kaum muslim babi merupakan salah satu makanan yang dilarang untuk dikonsumsi. Tapi rupanya penggunaan term bacon di Indonesia sering digunakan dari makna harfiahnya saja, “daging yang dipotong tipis lalu diasap”. Term bacon memang memiliki konotasi kuat terhadap daging olahan babi. Beberapa saat yang lalu waktu saya mampir ke kopi selasar di daerah bukit pakar teman saya sempat ragu untuk memesan makanan karena terdapat keterangan “bacon”. Setelah saya tanya kepada pramusajinya ternyata bacon yang dimaksud di sini adalah daging sapi asap. Saya coba google atau liat kamus tapi belum dapat penjelasan apakah bacon memiliki padanan arti yang lebih luas, atau memang orang Indonesia suka sok keren menggunakan istilah bacon.

Ketiga, hotdog. Waktu itu saya mampir ke rumah makan cepat saji, Wendy’s di Braga walk. Saya memesan beef burger di sana.  Kemudian beberapa menit kemudian pramu sajinya datang membawa bungkusan burger, “Silakan hotdog nya”. Jelas-jelas saya memesan beef burger, tapi dia menyebutnya “HOTDOG”. Berbeda dengan bacon, saya sudah mencari-cari tahu bahwa term hotdog memang sedikit luas tidak terbatas pada daging anjing saja(bahkan orang amrik sendiri nggak makan daging anjing). Katanya term ini digunakan karena burger yang bentuknya memanjang bentuknya mirip anjing. Tapi kalaupun mbak pramusaji ingin menggunakan alasan itu, beef burger yang saya pesan bukan tipe burger yang dapat disebut dengan ‘hotdog’. Saya waktu itu sempat berdebat dengan pramusajinya,

“Mbak, saya nggak pesen hotdog, saya pesan beef burger”

“Iya, ini hotdognya”

“Tapi saya nggak pesan hotdog”,  saya menunjuk papan reklame menu makanan.

“Iya, sama aja beef burger sama hotdog”

“Tapi ini bukan daging anjing kan?”

“Iya, bukan, ini beef kok”

“Okey doke. Graooowrr…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s