ASEAN Community 2015

Hey, Indonesian!

Kalian udah tahu belum sih, isu globalisasi belum selesai begitu saja di awal milenium kemarin. Ada isu terbaru mengenai globalisasi yang kalau dipikirkan secara negatif dapat mengancam keberlangsungan kehidupan bangsa kita. Walau begitu, tetap think positive ya. Apa isu itu?

Yep, That is ASEAN Community 2015!

Oke, sebelum membahas lebih jauh, mari kita ulas apa sih ASEAN Community 2015?

Proses pembentukan ASEAN Community ini adalah hasil dari munculnya berbagai isu-isu di sekitar kawasan asia tenggara dalam dua dekade terakhir, seperti berakhirnya perang dingin, masuknya era globalisasi, munculnya India dan Cina sebagai pilar kekuatan ekonomi baru di Asia, yang menyebabkan perubahan misi dari asosiasi ini. Misi Association of South East Asian Nation (ASEAN) pada awalnya adalah preventive diplomacy dimana ASEAN menjaga kedamaian dan keharmonisan di antara anggota. Kemudia misi mereka sekarang bergeser menjadi lebih ke arah constructive diplomacy dimana ASEAN akan meningkatkan ekonomi dan politik di antara anggotanya dalam rangka menghadapi kompetisi global yang telah terjadi.

Setelah mempertimbangkan semua itu pada beberapa konferensi tingkat ASEAN, para petinggi negara-negara ini sepakat untuk membentuk komunitas ASEAN. Mungkin konsepnya dapat dikatakan mirip dengan komunitas euro. Bedanya salah satunya komunitas ini tidak akan membuat mata uang baru seperti eropa dengan mata uang Euro nya. Komunitas ini dibangun dari tiga pilar yakni keamanan, komunitas ekonomi, serta sosial-budaya.

Komunitas keamanan (ASC) diharapkan akan menjaga dan menguatkan tingkat keamanan di kawasan ini termasuk kerjasama keamanan maritim dan pemberantasan teroris, namun tidak termasuk kebijakan keamanan di masing-masing negara. Sementara itu misi dari komunitas ekonomi (AEC) adalah untuk mengembangkan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, kompetitif dan secara ekonomik terintegrasi dengan fasilitas perdagangan yang terjamin. Akan terdapat distribusi yang lebih bebas terkait barang, investasi, tenaga kerja, dan aliran pendapatan. Komunitas sosial budaya (ASCC) diperlukan untuk menjalin keakraban di antara anggotanya untuk melengkapi kedua pilar yang telah berjalan. ASEAN terjalin atas ikatan budaya yang kuat.

Munculah pertanyaan di benak kita, apa yang perlu kita lakukan untuk menyikapi berbagai isu tersebut. Mendebatkan sesuatu yang telah disepakati bukanlah jawaban yang bijak. Perubahan pola pikir kita bisa menjadi jawabannya. Daripada menghabiskan waktu dan energi untuk menolak itu semua, kita dapat menanamkan pada diri kita bahwa komunitas tersebut berdampak luar biasa pada kehidupan kita setelahnya. Komunitas tersebut berdampak pada kebebasan perdagangan, kebebasan untuk bekerja, kebebasan untuk memanfaatkan ASEAN sebagai satu wilayah yang utuh. Jika mau melihat komunitas tersebut secara negatif, kita bisa anggap komunitas ini akan menjadi bencana bagi kita karena lahan perdagangan kita tidak lagi hanya dikuasai oleh perusahan-perusahaan lokal saja, persaingan dunia kerja juga demikian orang Indonesia harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain. Namun coba untuk berpikir positif bahwa kita juga dapat berdagang di negara lain dengan lebih bebas, kita juga dapat bekerja di negara-negara lain.

Oleh karena itu diperlukan perubahan pola pikir berupa lampauan psikologis. Orang Indonesia cenderung berpikiran sempit untuk tinggal di negara ini saja. Mereka jarang memikirkan untuk bekerja di luar negeri atau bahkan untuk tinggal di negara lain. Pemikiran inilah yang dapat menyia-nyiakan dampak positif dari komunitas yang dibangun. Apa manfaatnya dibukanya jalur ke luar negeri jika tidak ada orang yang memanfaatkan jalur tersebut. Sudah saatnya tidak berpikir untuk menarik masyarakat yang telah bekerja di luar negeri. Persebaran masyarakat Indonesia di luar negeri dapat memajukan bangsa ini. Dari persebaran tersebut akan tumbuh komunitas-komunitas Indonesia. Hal ini sejalan dengan usaha perubahan pola pikir kita untuk tidak berpikir secara lokal.

Kita harus menjadi pribadi yang tangguh dan peduli. Kita tidak bisa bersaing dengan komunitas global dengan pengetahuan dan pengalaman yang minim, namun kita juga tidak bisa menjadi orang yang hebat namun tidak peduli terhadap sekitar. Kita harus menyiapkan diri kita sebaiknya. Menurut Bapak Andi Mallarangeng (menpora kita) diperlukan tiga keterampilan dasar yang sangat penting, yakni kemampuan berenang, memasak, dan bersepeda. Sementara itu dari segi penguasaan bahasa minimal diperlukan tiga buah bahasa, yakni Bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah kita sendiri.

Pembelajaran di dalam kelas harus dilengkapi dengan pembelajaran di luar kelas. Kita tidak pernah tahu bahwa pelajaran non-kurikuler apakah akan dapat berguna bagi kita, namun ilmu tersebut dapat menjadi bekal kita di kemudian hari. Banyak orang yang lahan pekerjaannya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Semakin banyak kita belajar dari berbagai hal semakin banyak pengalaman yang kita dapat.

2 pemikiran pada “ASEAN Community 2015

  1. Setuju-setuju, dimulai dengan membekali diri kita dengan kemampuan yang bisa kompetitif dengan negara-negara tetangga.

    Juga dengan komunitas ASEAN kita harus bisa saling menghargai. Nggak ada lagi yang namanya *maaf* malingsiah, dan kata-kata kasar lainnya. Kita harus belajar saling menghormati negara lain tanpa menghilangkan jati diri bangsa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s