sepakbola di Indonesia

Saya bukan aremania tetapi seorang demania (sedih juga karena klub sudah bangkrut gara-gara tidak ada alokasi apbd yang cukup untuk klub). Saya suka dengan permainan persija, yang notabene “berafiliasi” dengan persikad. Mereka masih mempercayai anak didiknya seperti BP, dan beberapa pemain persija muda lainnya. Saya juga persib dari segi pemain-pemain lokal yang dihasilkannya seperti Eka, Nova, Atep, dan lain-lain. Saya suka sriwijaya ketika zah rahan masih ada di sana, dan ada juga kiper yang mirip dengan Gianluigi Buffon. Saya suka persipura, sama seperti persib yang banyak menghasilkan pemain lokal. Kalau hasil binaan pemain persib saya pikir lebih ke arah pemain yang memiliki visi, saya suka dengan pemain binaan persipura yang memiliki kekuatan, stamina, dan kecepatan. Terakhir saya suka dengan arema yang melakukan regenerasi pemain dengan baik dan kepercayaan atas pemain muda.

Setelah menonton pertandingan-pertandingan Arema beberapa kali selama dua musim terakhir rasanya nggak heran kalau mereka juara tahun lalu. Ketika melihat mereka bermain saya membandingkan mereka yang sekarang dengan barcelona. Ya, saya dapat mengatakan demikian. Ingat, Arema yang sekarang…

Pertama dari segi kepercayaan klub terhadap pemain-pemain muda, mungkin ini faktor pelatih mereka seperti Albert Rene dan Miroslav Janu. Dengan demikian regenerasi pemain akan terus dilakukan. Dari dulu arema memang sering menghasilkan pemain-pemain berbakat yang setipe dengan pemain binaan dari persib. Ada klub yang memiliki mentalitas yang serupa dengan arema, yakni persebaya, sayang hasilnya di liga kurang kelihatan.

Kedua dari segi gaya bermain. Permainan mereka mengandalkan sentuhan-sentuhan first touch yang membuat mereka dapat menguasai possesion ball dan membuat banyak peluang serangan. Gaya bermain seperti ini tidak dapat dengan begitu saja dilakukan tanpa latihan yang keras. Latihan yang diterapkan mungkin seperti latihan yang sering dilakukan oleh pelatih timnas Alfred Riedl. Permainan sentuhan-sentuhan sering diperagakan oleh tim-tim offensif saat ini (tidak kick-rush yang dari bek asal tendang ke depan berharap bola beruntung sampai ke striker gagal dihalau oleh para bek). Permainan bergaya sentuhan-sentuhan juga memerlukan kedisiplinan yang melatih para pemain untuk tidak sering melakukan pelanggaran yang sering diperagakan oleh banyak klub di liga. Walaupun demikian, permainan sentuhan-sentuhan memiliki kelemahan di negara kita. Lapangan yang bagus. Haha, miris sekali karena untuk bisa melakukan operan-operan pendek yang cepat dan terukur susah dilakukan ketika bola tidak bisa menggelinding di rumput dengan baik.

Ketiga dari segi profesionalisme klub. Harusnya klub di Indonesia sudah profesional. LPI mungkin boleh dibilang ilegal terkait penyelenggaraannya, namun ide mereka harusnya bisa ditiru dari segi profesionalismenya. Yang saya maksud dengan profesional di sini adalah pertama dari segi pembinaan pemain muda, misal klub U-17, U-19, dan U-21. Harusnya liga memfasilitasi hal itu. Di semua liga di eropa rasanya sudah menggunakan konsep ini, memang wilayah kepulauan merupakan kendala di negara kita. Profesional yang kedua dari segi pendanaan klub. Sudah saatnya klub tidak berharap lagi sama APBD. Saya suka dengan arema dan persib yang memanfaatkan dengan baik sponsorship sehingga kita bisa melihat logo iklan di dada, maupun punggung para pemain. Dana juga harusnya bisa didapat dari suporter. Saya yakin betul sepakbola di negeri ini merupakan salah satu hidup bagi setiap pria di Indonesia. Fanatisme terhadap klub lokal mereka sudah sangat tinggi. Harusnya kalau pihak klub melakukan manajemen finansial mereka dengan baik, suporter secara jujur mau membayar tiket masuk ke stadion, dan klub mengusahakan penjualan merchandise yang dibarengi dengan kemauan suporter untuk mendukung klub mereka, rasanya sudah tidak lagi ada alasan klub memerlukan biaya APBD. Sayang rasanya uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat dihambur-hamburkan untuk mengontrak pemain asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s