[Invasi Semut] Semut punya tendensi untuk bersarang di perangkat elektronik (part 2)

Ini lanjutan dari kisah invasi semut part 1 sebelumnya.

Berbeda dengan perang dengan kerajaan semut keyboard pada kisah yang pertama yang berlokasi di rumah saya daerah pinggiran Jakarta, kali ini invasi semut yang kedua dilakukan di Bandung. Tepatnya di kosan saya di daerah Dago. Selama tiga tahun tinggal di sini sebenarnya kasus semut tidak pernah terdengar. Well, kalau rute semut sih biasa lah ya di dinding , tapi nggak terlalu mengganggu kita biasanya.

Ini murni kesalahan saya mengajak perang sama semut di malam hari. Gak ada persiapan sama sekali. Kejadiannya sebenarnya terjadi pada petang tanggal 25 Februari 2011. Lebih detail lagi pada pukul 23.34. Oya markas semut-semut kali ini adalah radio jadul yang selalu setia menemani saya selama 4 tahun kuliah di itb (gak punya tv soalnya😦 ).

Sebenarnya saya sudah curiga sama kehadiran rute-rute semut yang semuanya menuju ke arah kamar saya. Saya sebagai orang yang tidak mau berprasangka buruk :p nggak kepikiran bahwa memori koloni kerajaan semut di keyboard dulu bakal terulang lagi. Rute-rutenya semuanya menuju ke kamar saya. Di tahun ketiga kuliah saya sebenarnya pernah menghapuskan rute semut utara dan barat daya. Saya selalu setia menggunakan senjata andalan saya, BAY*ON. Tapi kali ini saya minjem. Maklum anak kosan. Yep, rute-rute itu sebenarnya hilang dulu, tapi entah kenapa muncul lagi.

Kesibukan saya di kampus dari segi akademik dan segi pergaulan anak muda😀 menyebabkan akhir tahun ketiga saya tidak memperdulikan lagi kemunculan beberapa rute semut besar. Padahal kali ini boleh dibilang jalurnya sudah besar. Boleh dibilang ini jalur boulevardnya semut. Ada dua, di pojokan atas pintu, sama dari balik jendela. Saya pernah menelusuri jalur tersebut tapi berujung di tembok aja. Pernah juga disemprot bay*on beberapa kali tapi rute-rute lain bermunculan kembali.

Nah entah kenapa malam itu saya penasaran dengan meja saya yang dipenuhi oleh uang recehan. Heeee.. itu apa ada butiran-butiran yang saya kenali. Telor semut. Walah, semut-semut memenuhi pinggiran radio. Udah coba dibersihin tapi terlalu massive jumlahnya. Saya sontak kalang kabut nyari baygon ke kamar kosan. Dhana udah tidur. Dani nggak ada di kamarnya. Yang lain lampunya udah mati. Nugi juga gak punya. Anak baru punyanya bay*on listrik. Menyerah deh. Aduh kenapa nyadarnya baru malam ini sih. Anehnya lagi. Kenapa semutnya baru nunjukkin attribut visible nya di malam yang harusnya bisa tidur nyenyak sih. Aduh geli banget. Hampir semua lantai dipenuhi semut. Sekarang jelas sudah boulevard semut itu ke arah mana dari berbagai penjuru. Saat itu boulevard semutnya udah berubah sebagai lapangan semut berkumpul.

Dibandingkan dengan invasi semut yang pertama, invasi yang kedua pada alat elektronik ini lebih masuk akal. Dengan Ukurannya yang relatif besar, radio cukup masuk akal menampung lebih banyak semut dibandingkan dengan keyboard. Tapi nyatanya koloni semut di keyboard lebih banyak. Mungkin keunggulan invasi kali ini adalah teknik menyembunyikan diri mereka. Selain itu invasi semut yang kedua ini memiliki keunggulan pada infrastrukturnya. Seingat saya ada tiga boulevard utama yang menghubungkan dunia luar dengan radio markas para pemberontak semut. Yep, berdasarkan jumlahnya yang relatif sedikit dibandingkan invasi yang pertama kita sebut saja ini adalah pemberontak semut. Lagipula kemampuan mereka bersembunyi cocok dengan sifat gerilya para pemberontak.

Tiba-tiba rama si anak sbm datang sebagai saviour saya. Dia punya bay*on walaupun tinggal satu-dua semprot lagi sih. Saya dengan geli memindahkan radio ke luar kamar yang lokasinya langsung tampak ke arah jalanan. Bayangin aja pintu kebuka lebar jam segitu. SHOOSH SHOOOOSH… bener dugaan saya, bay*on habis dengan cepat. Saya menyemprotkan sisa-sisa senjata biologis itu ke boulevard-boulevard semut untuk memutuskan jalur bala bantuan mereka.

Seperti yang sudah alami sebelumnya sapu tidak efektif mengusir mereka kalau belum mati. Tapi kamar kosan saya yang relatif kecil 2×2 meter menyebabkan demand yang tinggi untuk mengusir semut-semut ini. Senjata udah abis. Rupanya bay*on di dekade ini makin mujarab dibandingkan dekade SMP. Cukup dua semprot semua semut bertumbangan. Saya coba tinggalkan sejenak dengan ngutak-atik HP. Well nungguinnya lama juga sampai jam 1 malam. Inget, kamar terhubung dengan luar langsung. Gak mungkin ninggalin radio di luar, akhirnya saya biarkan kamar terbuka malam ini. Niatnya gak mau begadang tapi apa boleh buat. Malam ini saya begadang.

Saya coba menyapu korban semut yang udah mati rupanya bay*on yang saya semprotkan itu agak sedikit volatile, gampang menguap, mungkin efek bay*on semprotan-semprotan terakhir kali ya. Yeaks.. saya gak sengaja menghisapnya. Sumpah mual rasanya. Tuntutan untuk menyapu korban bay*on tinggi, jadi saya harus tahan. TAPI!! semutnya keluar lagi. Ingat kisah invasi pertama? Koloni semut tidak akan musnah sampai ratunya mati.Well, Bay*onnya udah habis.. makjaaan😦

Saya coba memaksakan semut-semut di dalam radio untuk keluar dari sarangnya menggunakan sapu berharap mereka menghirup udara yang telah terkontaminasi bay*on. Saya sendiri sebenarnya salah satu korban bay*on juga. Kalau boleh protes entah kenapa saya ngerasa bay*on ini aneh, bikin sesak nafas. Berkali-kali saya sampai terbatuk-batuk sebagai bentuk resistensi terhadap zat-zat yang tidak baik untuk tubuh. Sudah menyerah rasanya. Semutnya masih banyak. Waktu itu akhirnya saya biarkan saja di luar. Nggak mau ngurusin lagi. Tapi tetap nggak bisa tidur. Jagain radio di luar dari dalam kamar. Mana dingin pula.

Satu dosa saya pada invasi ini mungkin adalah kejadian berikut. Tiba-tiba kucing yang membuat Miko hamil datang entah dari mana. Kemudian dengan muka oportunisnya (jujur saya gak suka kucing kuning ini, udah ngehamilin Miko terus ditinggal gitu aja, udah gitu sering berantakin tempat sampah di setiap kamar kosan kami, sebut saja kucing ini dengan “Joker”) dia menatap saya yang lagi menatap dia dengan curiga. Dia mengendus-endus radio yang udah disemprotin bay*on. Gak habis pikir apa yang membuat Joker tertarik dengan aroma pembumihangusan radio oleh bay*on.

Do you know what it did? Joker Licked It three times!  Abis itu dia pergi gitu aja. Saya cuma bisa melongo melihatnya. Apakah dia masih akan hidup dalam beberapa hari ke depan? Wew, nggak ngurusin deh. Saya lebih memikirkan saya yang terus terbatuk-batuk dan suara saya yang menjadi sedikit serak yang saya duga terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi aroma bay*on.

Kejadiannya sebenarnya mirip antara invasi pertama pada keyboard dengan invasi pada radio kali ini. Sering digunakan, tiba-tiba gak dipakai lama, begitu dipakai lagi udah jadi sarang semut. Kenapa begitu? Coba saya ulas di invasi semut part 3.

Satu pemikiran pada “[Invasi Semut] Semut punya tendensi untuk bersarang di perangkat elektronik (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s